Inflasi Penyebab Biaya Pensiun Tinggi

Survei MISI

Rabu, 12/02/2014

NERACA

Jakarta - Survei Manulife Investor Sentiment Index (MISI) mengemukakan bahwa inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah merupakan penyebab biaya masa pensiun tinggi. "Inflasi dan nilai suku bunga yang tinggi, serta depresiasi rupiah telah mempengaruhi estimasi investor di Indonesia terhadap kemungkinan pengeluaran masa pensiun diperkirakan mencapai 61% dari pendapatan saat ini," ujar Chief of Employee Benefits PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Nur Hasan Kurniawan, di Jakarta, Selasa (11/2).

Dia mengemukakan bahwa hasil survei Manulife Investor Sentiment Index itu menunjukan bahwa masa pensiun akan membutuhkan biaya yang lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya dan harus menanggung sendiri pengeluaran tambahan biaya.

"Mereka yang telah memiliki rencana pensiun masih menyepelekan kebutuhan masa depan. Namun demikian, orang Indonesia menyadari bahwa mereka harus mengatasi kekurangan ini, itu merupakan petanda baik," paparnya. Menurut dia, masyarakat Indonesia perlu mempertimbangkan investasi yang memberikan pendapatan tetap sehingga menghasilkan pengembalian aman, andal, dan stabil.

Sementara Director of Bussiness Development PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Putut Andanawarih menambahkan, dari survei MISI, diketahui bahwa dana tunai lebih disukai masyarakat. "Sebenarnya investor perlu mengubah pola pikir itu jika tabungan mereka bisa menjadi sumber pemasukan bagi mereka di masa pensiun," ujarnya.

Putut mengatakan bahwa tingginya angka inflasi di Indonesia, dalam jangka panjang dana tunai yang disimpan di dalam tabungan nilainya akan semakin menurun. "Dengan inflasi sebesar delapan persen, setiap Rp1 juta uang tunai yang dipegang, daya beli akan berkurang Rp7.000 setiap bulannya," paparnya. Jadi, menurut dia, masyarakat Indonesia harus mulai mempertimbangkan untuk mengurangi simpanan dana tunai dan melakukan investasi secara lebih efektif pada berbagai jenis pilihan yang tersedia. [ardi]