Stanchart Mengaku akan Patuhi Aturan BI

Penyaluran UMKM Minimal 20%

Rabu, 12/02/2014

NERACA

Jakarta - Terkait peraturan Bank Indonesia (BI) mengenai penyaluran kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) minimal sebesar 20% oleh bank, Chief Executive Officer Standard Chartered Bank Indonesia Tom Aaker menjelaskan, pihaknya berencana menjalankan peraturan tersebut.

“Kami akan mematuhi peraturan BI tersebut dengan memberikan kredit kepada Small Medium Enterprise (SME) atau UMKM pada tahun 2018 mendatang,” kata Tom di Jakarta Selasa (11/2).

Selain itu dia juga menjelaskan, dalam melakukan pengucuran kredit UMKM yang paling besar diberikan oleh Standard Chartered kepada sektor perdagangan ritel dan juga sektor lainnya. “Tapi pemberian ini kami tidak memiliki kekhususan di sektor sektornya,” tambah dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk mendukung rencana mencapai porsi kredit UMKM, perusahaan memiliki strategi yang berbeda dengan perusahaan lain. “Namun untuk strategi ini kami belum bisa merincinya lebih jauh lagi,” imbuh dia.

Sebelumnya, bank sentral secara bertahap telah memberlakukan aturan penyaluran kredit UMKM minimal 20% oleh perbankan yang beroperasi di Indonesia. Pada tahun 2013-2014, bank menyalurkan semampunya.

Pada 2015, bank diwajibkan menyalurkan kredit UMKM mencapai 5%, 2016 naik mencapai 10%, 2017 mencapai 15%, dan tahun 2018 diharapkan bisa mencapai 20%. Kenaikan tersebut harus dibiasakan sambil pihak bank menyusun rencana bisnis dalam pemenuhan porsi kredit UMKM

Perbankan di Indonesia harus bisa membiasakan lebih dulu sembari menyusun rencana bisnis bank (RBB) dan action plan pemenuhan penyaluran kredit UMKM sebesar 20% tersebut.

Lebih lanjut, untuk mengembangkan bisnisnya tahun 2014 ini, Standard Chartered Bank Indonesia meluncurkan fitur tambahan terbaru untuk produk bancassurance, yaitu CI 100 yang dikembangkan dengan Aliianz Life Indonesia.

Country Head, Consumer Banking Standard Chartered, Lanny Hendra mengatakan, produk terbarunya tersebut merupakan perluasan produk asuransi yang memberikan perlindungan tambahan bagi nasabah. “Dengan CI 100 kami memberikan perlindungan awal dari kondisi awal (early stage) sampai kondisi terparah dengan masa perlindungan hingga umur 100 tahun untuk 100 penyakit,” ujar dia.

Lebih lanjut dia menegaskan, peluncuran produk ini seiring dengan kepedulian karena penyakit kritis yang semakin rentan yang dialami oleh penduduk indonesia. “Penyakit kritis mulai dialami penduduk yang berusia 63 tahun, meningkat dari trend pada sepuluh tahun yang lalu dengan usia 83 tahun,” tukasnya.

Sedangkan menurut data Standard Chatered hampir diatas 50% penduduk di Indonesia yang meninggal dikarenakan mengalami penyakit kritis. “Dalam survey kami 61% meninggal karena penyakit kritis, dan ada beberapa penyakit yang menyebabkan kematian seperti kanker, stroke, jantung dan gagal ginjal, ini menjadi kepedulian kami dalam memberikan proteksi kepada nasabah,” tutup Lanny. [sylke]