Konsumsi Rumah Tangga Masih Kuat

Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia

Rabu, 12/02/2014

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia melalui hasil survei penjualan eceran Bank Indonesia pada Desember 2013 mengkonfirmasi perkembangan konsumsi rumah tangga yang masih kuat pada triwulan IV 2013. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan indeks penjualan riil (IPR) sebesar 12,1% (month to month/mtm) atau 26,6% (year on year/yoy) atau lebih tinggi daripada pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat 5% (mtm) atau 17,9% (yoy).

Berdasarkan keterangan dari laman BI, Selasa (11/2), kenaikan pertumbuhan IPR tersebut terjadi pada hampir seluruh kelompok barang. Kenaikan penjualan eceran, antara lain dipengaruhi oleh pola musiman menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Pada Januari 2014, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih kuat. Hal ini tercermin dari IPR yang tumbuh 28,7% (yoy), lebih tinggi daripada pertumbuhan IPR bulan Desember 2013.

Kenaikan pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh kelompok komoditas, kecuali kelompok suku cadang dan aksesoris. Survei Penjualan Eceran juga mengindikasikan tekanan kenaikan harga dari sisi pedagang pada tiga bulan yang akan datang masih cukup tinggi.

Indikasi tersebut ditunjukkan oleh indeks ekspektasi harga tiga bulan mendatang (Maret 2014) yang meningkat menjadi 168,4 dari 164,1 pada bulan sebelumnya. Tekanan itu utamanya disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku dan terganggunya pasokan akibat pengaruh musiman.

Sebelumnya, Bank Indonesia mencatat penguatan konsumsi rumah tangga diperkirakan masih akan terus berlanjut pada Januari 2014. Direktur Departemen Komunikasi BI, Peter Jacobs menjelaskan survei Konsumen terbaru yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 116,5 poin pada Desember 2013 menjadi 116,7 poin pada Januari 2014.

Sementara berdasarkan kategori responden, kenaikkan IKK tertinggi terjadi pada kelompok responden yang memiliki tingkat pengeluaran Rp1-2 juta per bulan. Lebih lanjut dia menjelaskan survei yang melibatkan sekitar 4.600 responden diselenggarakan di 18 kota besar di Indonesia ini, menunjukkan bahwa mayoritas responden optimis terhadap kondisi ekonomi 6 bulan mendatang.

“Terutama terkait dengan ekspektasi ketersediaan lapangan pekerjaan dan penghasilan konsumen pada 6 bulan mendatang akan lebih baik,” ujar Peter, kemarin. Selain indikasi penguatan konsumsi rumah tangga, Peter menambahkan, responden juga memperkirakan adanya tekanan kenaikan harga ke depan. Hal ini terindikasi dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

“Dampak kenaikan harga LPG 12 kilogram dan penyelenggaraan Pemilu legislatif pada April 2014 ditenggarai mendorong peningkatan ekspektasi inflasi 3 bulan ke depan,” imbuh dia. Sementara itu, untuk 6 bulan mendatang (Juli 2014), mayoritas responden juga memperkirakan kenaikan harga seiring dengan tingginya permintaan selama bulan Puasa dan Hari Raya Idul Fitri, serta kekhawatiran responden terhadap kondisi keamanan/sosial politik pasca Pemilu Presiden putaran pertama (9 Juli 2014). [sylke]