Dian Swastika Bikin Usaha Baru Bermodal Rp1 Triliun

NERACA

Jakarta- PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) membentuk anak usaha baru, PT DSSP Power Mas Utama (“DSSP-PMU”) dengan modal dasar mencapai Rp 1 triliun. Modal dasar ini terbagi atas 1 juta lembar saham, sedangkan modal ditempatkan dan disetor DSSP-PMU sebesar Rp370,70 miliar yang terbagi atas 370.700 lembar saham. Informasi ini disampaikan Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan PT Dian Swastika Sentosa Tbk, Hermawan Tarjono dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (11/2).

Disebutkan, komposisi pemegang saham DSSP-PMU terdiri dari perseroan sebagai pemiliki dari 10 lembar saham dan PT DSSE Energi Mas Utama sebagai pemilik dari 370.690 lembar saham. Selanjutnya, DSSP-PMU akan menjalankan usaha di bidang perdagangan, pembangunan, industri, dan jasa.

Diketahui, perseroan berencana mengakuisisi perusahaan yang tercatat di Singapura yakni United Fiber System Ltd (UFS). Langkah akuisisi ini akan dilakukan dengan cara menjalankan debt to equity swap (DES). Dengan skema DES, perseroan bisa mengambil 94% saham yang dimiliki UFS, dengan harga 0,75 dolar Singapura per saham."Akuisisi itu melalui debt to equity swap atau tukar guling saham anak perseroan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). Langkah ini sudah disetujui 97% pemegang saham perseroan, sehingga bisa terselesaikan dengan baik," kata Hermawan.

Namun dalam perjalanannya, langkah akuisisi UFS ini harus tertunda. Awalnya, perseroan menargetkan akan diselesaikan pada akhir Januari 2014, namun karena beberapa persyaratan belum dipenuhi kedua pihak berdiskusi untuk perpanjangan Long Stop Date.

Selain langkah akuisisi, perusahaan pada tahun depan berencana menggunakan sebagian besar dana belanja modal (capital expenditure/capex) untuk membangun pembangkit listrik mulut tambang Sumsel-5 yang memiliki kapasitas mencapai 2x150 Megawatt. Dana belanja modal yang dianggarkan yaitu sebesar US$ 270 juta. "Dana capex lebih besar untuk pembangunan IPP (Independen Power Plan), target coomisioning di kuartal akhir IV 2015," ujarnya.

Sementara sisa dana capex lainnya sebesar US$ 70 juta ditujukan untuk pengembangan bisnis yang lain. "Kami juga salurkan dana capex untuk anak usaha yang linis bisnisnya di sektor TV berbayar. Semua yang kami lakukan untuk pembangunan induk usaha dan anak usaha," tutup Hermawan.

Targetnya, pada tahun 2014 ini perseroan optimis dapat mencatatkan pertumbuhan pendapatan sekitar 30% menjadi US$780 juta dari estimasi sepanjang tahun 2013 sebesar US$600 juta,”Pendapatan tahun 2014 diharapkan tumbuh 30% dari pendapatan tahun kemarin dan diharapkan pula, harga batubara pada 2014 membaik,” jelasnya.

Meskipun tidak dapat memastikan harga batubara di tahun 2014, dirinya menuturkan, kontribusi pendapatan di 2014 masih didominasi oleh batubara sekitar 70% dan sisanya dari anak usaha perseroan. Ke depannya, kontribusi anak usaha akan diusahakan lebih tinggi sehingga porsi pendapatan dari batubara bisa berkurang. (lia)

BERITA TERKAIT

PT Timah Bikin Perusahaan Patungan - Eksplorasi Tambang di Nigeria

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis di luar negeri, PT Timah Tbk membentuk perusahaan patungan bersama perusahaan asal Nigeria, Topwide…

Bukalapak Rilis Tujuh Produk Reksa Dana Baru

NERACA Jakarta - Melihat tingginya minat investor terhadap produk reksa dana yang tersedia di BukaReksa, kini Bukalapak kembali menghadirkan tujuh…

Lagi, IHSG Catatkan Rekor Baru 6.113 Poin

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (14/12), indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mencatatkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…