Pemda Hambat Central Omega Bangun Smelter

Biaya Tinggi Jadi US$ 300 Juta

Rabu, 12/02/2014

NERACA

Jakarta – PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) mengakui beratnya bangun smelter karena infrastruktur di daerah tidak mendukung operasional. Sehingga, perseroan menyiapkan dana hingga US$300 juta untuk pembangunan smelter tersebut. Rencananya, perseroan membangun smelter berdekatan dengan lokasi tambangnya. Hal ini dimungkinkan untuk mengurangi beban biaya merapikan infrastruktur yang cukup banyak jika lokasi smelter jauh dari tambang perseroan.

Direktur Utama PT Central Omega Resources Tbk Kiki Hamidjaja mengatakan, perseroan tengah membangun smelter Nickel Pig iron (NPI) di Morowali Utara. Nantinya, smelter tersebut memiliki kapasitas 320 ribu ton NPI per tahun dengan nilai investasi p[embangunan smelter tersebut sebesar US$300 juta,”Kami tengah memulai pembangunannya tahun ini, diperkirakan mulai beroperasi komersil pada akhhir 2016 atau awal tahun 2017”, katanya di Jakarta, Selasa (11/2).

Nantinya, di lokasi smelter terdapat camp dan mess karyawan, dermaga unutk pengiriman dan penerimaan barang serta fasilitas laboratorium unutk menguji kualitas NPI-nya. Dia menambahkan, dana unutk membangun smelter tersebut berasal dari kas internal perseroan dan dari pihak asing.“Dalam hal ini kita sama sekali tidak ada pinjaman bank, semua menggunakan kas internal kita sekitar 75% dan sisanya pihak asing yang ikut serta dalam pembangunan smelter ini”, jelasnya.

Dia menambahkan, dana dari perusahaan asing yang sekitar 25% jumlahnya cukup minim, hanya beberapa milyar. Sehingga, menurut dia smelter ini merupakan usaha perseroan sendiri dalam pembangunannya.

Sementara itu, ekspansi perseroan di Pulau Singkep, Kepulauan Riau dengan mengakuisisi PT Citra Sindo Utama (CSU) berjalan mulus. Saat ini, perseroan menjadi pemegang saham dominan atas perusahaan pengolahan bijih besi tersebut. CSU memiliki luas 625 hektar yang diperkirakan dapat berkontribusi pada perseroan sebanyak 325 ribu ton di tahun 2014 ini.“Di tahun mendatang (2015 dan 2016) kami targetkan kontribusinya sebanyak 600 ribu ton. Pada tahun ini lebih kecil targetnya karena baru akan mulai berproduksi pada Juni 2014. Kami perkirakan sumber daya yang dimiliki CSU sebanyak 43 juta ton bijih besi”, jelasnya.

Hingga akhir tahun 2014, perseroan memproyeksikan pendapatan sebesar Rp370,5 miliar dengan laba bersih sebesar Rp115,87 miliar. Proyeksi ini berdasarkan akuisisi terhadap PT Citra Sindo Utama yang dipercaya memberikan kontribusi besar bagi perseroan.

Perseroan mencatat laba bersih pada 2013 sebesar Rp344 miliar. Angka tersebut naik 13,53% dibandingkan perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp303 miliar. Sementara pendapatan perseroan sepanjang 2013 naik 1,17% menjadi Rp859 miliar dari sebelumnya Rp849 miliar. Kenaikan kinerja keuangan tersebut ditopang dengan meningkatknya volume penjualan perseroan. Tercatat volume penjualan pada 2013 meningkat 2,96% menjadi 2,43 juta ton dari tahun sebelumnya 2,36 juta ton. Sementara total aset perseroan pada 2013 sebesar 1,59 triliun atau naik 4%.“Untuk dividen kami membagikan senilai Rp50 per lembar dengan nilai total dividen sebesar Rp281,53 miliar dengan rasio 83%”, katanya. (nurul)