Kemenkeu Salahkan Blok Cepu

Target Lifting Minyak Turun

Selasa, 11/02/2014

NERACA

Jakarta – Pemerintah mengaku lifting target lifting migas dalam APBN 2014 sebesar 870 barel per hari akan direvisi. Pasalnya blok Cepu yang semestinya bisa berkontribusi pada tahun ini ternyata dibatalkan. Sehingga kemungkinan besar penerimaan negara akan berkurang sekitar Rp3 triliun.

“Lifting minyak yang sebesar 870 barrel per hari dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) tahun 2014 akan direvisi menjadi 804 barel per hari. Karena tampaknya blok cepu belum bisa mengahasilkan minyak pada tahun ini. Padahal blok Cepu sudah kita masukan dalam perencanaan lifting minyak dalam APBN tahun ini. Tapi ternyata belum bisa berfungsi,” kata Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani, di Jakarta, pekan lalu.

Dia mengaku penurunan target lifting minyak itu juga dipengaruhi faktor cuaca. Pasalnya di tengah derasanya intensitas hujan sepanjang awal tahun 2014 ini sangat mempengaruhi kontur material di bawah tanah. “Sehingga kilang-kilang yang ada juga jadi tidak bisa bekerja seperti biasanya,” ungkapnya.

Kemudian Askolani menjelaskan penurunan lifting migas ini tidak berpengaruh langsung terhadap anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada tahun 2014. Pasalnya subsidi BBM memiliki alokasi anggaran tersendiri. "Penurunan lifting minya hanya akan mengurangi penerimaan dari sisi migas yang berefek langsung ke APBN. Tapi tidak berkaitan langsung dengan struktur anggaran subsidi BBM. Jadi yang kemungkinan berubah hanya penurunan pendapatan negara,” terang dia.

Mengenai potensi mengurangnya pendapatan negara Askolani menerangkan apabila terjadi penurunan lifting minyak sebanyak 10.000 barrel maka penerimaan negara akan berkurang setidaknya Rp2 triliun hingga Rp3 triliun. Asumsi ini dapat dilihat dengan menggunakan asumsi cost recovery, Indonesian crude price (ICP/harga minyak mentah Indonesia) dan kurs rupiah jika tidak terdepresiasi.

“Tapi jangan salah dengan terdepresiasinya nilai tukar rupiah sebetulnya dapat meningkatkan penjualan minyak dari sisi volume. Dan itu bisa jadi juga berdampak pada peningkatan dari sisi nilai. Tapi jika asumsinya rupiah tidak terdepresiasi maka bisa jadi penerimaan negara tahun ini berkurang sekitar Rp2 triliun hingga Rp3 triliun akibat penurunan target lifting minyak pada tahun 2014 ini,” imbuh Askolani.

Namun begitu Askolani mengaku kemungkinan dalam APBN Perubahan (APBN-P) tahun 2014 akan ada pemangkasan subsidi BBM. Hal itu dapat terjadi jika rupiah mengalami depresiasi yang tajam. Dan jika konsumsi masyakarat terlalu berlebihan.

“Subsidi BBM kemungkinan akan di pangkas tahun ini jika ternyata konsumsi masyarakat berlebihan sehingga lewat dari batas kouta. Juga jika rupiah terdepresiasi tajam. Karena hal itu menyebabkan biaya impor minyak dapat meningkat,” tukas Askolani. [lulus]