Menyambut Ekonomi Musiman

Beberapa hari menjelang Ramadhan, perekonomian Indonesia kembali dihantui soal inflasi musiman. Pasalnya, momentum tersebut mendorong terjadinya hukum pasar disaat permintaan pasar besar, namun pasokan terbatas dan ujungnya terjadilah kenaikan harga bahan sembilan bahan pokok. Ironisnya, kenaikan harga bahan pokok jelang Ramadhan belum pernah direspon secara serius oleh pemerintah. Akibatnya langkah yang diambil hanya bersikap reaktif.

Pemerintah sendiri mengakui, jelang Ramadhan dan perayaan lebaran perlu mewaspadai terjadinya Inflasi pada sejumlah bahan pokok. Karena bahan pokok biasa meningkat harganya sebelum puasa atau lebaran dan ini kerap terjadi.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo pernah bilang, hanya bahan pokok yang mampu menyebabkan Inflasi. Penyebab lain munculnya inflasi adalah Policy atau kebijakan pemerintah. Namun saat ini tak ada kebijakan pemerintah yang memicu terjadinya Inflasi.

Apapun yang disampaikan pemerintah, rakyat kecil tidak mau tahu soal inflasi, musim gagal panen atau distribusi yang terhalang. Bagi rakyat, yang diinginkan hanya harga bahan pokok, seperti gula, telor, daging dan serta minyak goreng bisa terjangkau sesuai dengan kocek mereka. Terlebih jelang puasa Ramadhan, tingkat konsumsi masyarakat meningkat dua kali lipat.

Saat ini tugas pemerintah harus segera meredam inflasi yang liar dan menjaga tingkat daya beli masyarakat. Karena kebutuhan mereka bakal meningkat dari biasanya pada saat bulan Ramadhan. Apa yang dilakukan pemerintah soal operasi pasar, sepertinya hanya sebagai seremonial belaka yang akan terkesan bekerja dan mampu meredam kenaikan harga bahan pokok. Tetapi tidak menyelesaikan masalah rutin yang datang tiap tahunnya. Maka tidak heran, langkah pemerintah dinilai sebagai pemadam kebakaran saja yang tidak jauh berbeda bersikap reaktif.

Berkah dari Ramadhan juga, potensi belanja iklan yang meningkat tajam dan juga tingkat konsumsi masyarakat yang melesat tajam. Sehingga memberikan pendukung pertumbuhan ekonomi. Sementara dari sisi negatifnya, konsumsi listrik masyarakat akan semakin meningkat dan tidak heran PLN akan berbenah diri menyiapkan kebutuhan listrik bagi rakyat.

Kemudian, dampak negatif dari ekonomi musiman ini, berupa tingkat kriminalitas yang tinggi. Lagi-lagi persoalan kebutuhan yang meningkat jelang Ramadhan dan lebaran menjadi alasan dibalik potensi kriminalitas yang tinggi. Pasalnya, mereka masyarakat kecil sudah terpola soal mudik harus bawa uang dan membeli kebutuhan untuk di kampung.

Selain itu, dari faktor sosiologi jelang puasa dan lebaran adalah munculnya gembel pengemis dadakan. Penanganan penyakit masyarakat satu ini, memang seperti tambal sulam yang tidak pernah menyelesaikan masalah seutuhnya. Kendatipun ada tindakan nyata dan peraturan tegas untuk membina dan memberi sanksi para gembel pengemis (gepeng), rupanya belum ampuh juga. Lagi-lagi persoalan klasik ekonomi menjadi alasan mereka.

Oleh karena itu, masih banyak persoalan lain yang harus dihadapi pemerintah memasuki bulan puasa dan lebaran. Baik dari sisi ekonomi, sosial dan kriminalitas. Tentunya, langkah yang diinginkan dari pemerintah adalah penanganan komprehensif bagaimana mengatasi kenaikan harga bahan pokok dan gangguan keamanan. Keinginan rakyat sangat sederhana, hanya mengidamkan iklim ekonomi yang stabil dan kebutuhan harga bahan pokok sangat terjangkau.

BERITA TERKAIT

Zakat Idul Fitri Warga Depok Bisa Capai Rp8,6 Miliar - Meski Kondisi Ekonomi Prihatin

Zakat Idul Fitri Warga Depok Bisa Capai Rp8,6 Miliar  Meski Kondisi Ekonomi Prihatin NERACA Depok - Asisten Bidang Pemerintah, Hukum…

IMF: Perang Dagang AS-China Tingkatkan Risiko - PENGUSAHA KHAWATIR PERLAMBATAN EKONOMI

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) mengingatkan, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan perang dagang dengan China dapat meningkatkan…

Bahayakah Ekonomi Bebas?

Kebebasan ekonomi digambarkan sebagai kebebasan warga di satu negara untuk bekerja, berproduksi, mengonsumsi, dan melakukan investasi dengan cara yang dia…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemudik Kampungan

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi Neraca   Meski klaim pemerintah bahwa angka kecelakaan mudik tahun ini menurun cukup…

OTT Lagi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Menjelang lebaran lalu KPK kembali melakukan OTT untuk…

THR, Gaji 13 dan APBN - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan…