Bank Sampoerna Gelar "Kebun Tunai"

NERACA

Jakarta - Dalam rangka meningkatkan layanan kepada masyarakat, Bank Sahabat Sampoerna menggelar Program Kejutan Bunga Tunai (Kebun Tunai) untuk produk deposito dengan penawaran bunga yang bisa diperoleh di muka. Program ini diharapkan bisa menahan nasabah untuk menahan dana lebih lama.

Direktur Utama Bank Sampoerna, Indra Wijaya Supriadi menjelaskan, program ini juga dilakukan sebagai sarana promosi kepada masyarakat yang belum mengetahui Bank Sampoerna. “Ini juga menjadi upaya untuk menjaring nasabah yang saat ini masih belum mengenal Bank Sampoerna untuk bisa ikut berpartisipasi di segmen Usaha Mikro kecil dan menengah (UMKM),” katanya di Jakarta, kemarin.

Selain itu Indra juga menjelaskan, program ini dibuat selain untuk menambah jumlah nasabah sekaligus brand awareness bagi Bank Sampoerna yang focus terhadap pengembangan sektor UMKM. “Target pasar program ini adalah masyarakat yang berada di tingkat ekonomi menengah, khususnya para eksekutif, ibu rumah tangga dan para pengusaha individual,” ucap dia.

Menurut dia, khusus Program Kebun Tunai ini, nasabah berkesempatan memeroleh bunga maksimal 10,75% dengan dana simpanan sedikitnya Rp100 juta. “Bunga dibayar di depan. Ini dana di-lock (ditahan) selama 6 bulan,” tutur dia.

Selain itu, Bank Sampoerna juga sedang mengupayakan untuk menaikkan bisnisnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui penambahan modal inti ke angka Rp 1 triliun agar masuk dalam kategori Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II. “Untuk BUKU II rencana tahun 2016,” jelas Indra.

Menurutnya, saat ini modal inti perseroan ada di angka Rp420 miliar, dan ditargetkan bisa menembus Rp500 miliar pada tahun ini sesuai dengan strartefi yang diterapkan perseroan untuk tidak membagikan dividen. “Kita ada setor Rp100 miliar tiap tahun. Selain itu kita juga perkirakan 2015 dan 2016 itu tak bagi dividen,” tuturnya.

Per akhir 2013, total aset perseroan ada di angka Rp2,6 triliun, dengan outstanding kredit Rp1,7 triliun dan rasio kredit bermasalah (NPL) 1,7%. Sedangkan dana pihak ketiga sebesar Rp2,1 triliun. Sementara rasio kecukupan modal (CAR) yang belum diaudit ada di angka 27,2%. [sylke]

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank DKI Luncurkan Program Kebun Hidroponik di Rusunawa KS Tubun dan Jatirawasari

    NERACA   Jakarta – Tingkatkan pemberdayaan masyarakat DKI Jakarta, Bank DKI luncurkan program kebun hidroponik di Rusun KS…

Uang Elektronik Tol akan Terhubung ke Debit dan Kredit

    NERACA   Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sedang menyiapkan teknologi untuk pembayaran tol tanpa henti (Multi…

Survei BI Indikasikan Pertumbuhan Kredit Baru Melambat

      NERACA   Jakarta - Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) mengindikasikan pertumbuhan triwulanan kredit baru melambat pada triwulan…