Rupiah Anjlok, Kerek Laba Garuda Indonesia Turun 89,9%

NERACA

Jakarta- Melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar AS yang terjadi belakangan dinilai telah memukul kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sepanjang 2013. Tercatat, laba bersih perseroan pada akhir 2013, hanya US$ 11,03 juta, anjlok hingga 89,9% dibandingkan laba bersih perseroan pada 2012 yang mencapai US$ 110,59 juta.

Pendapatan usaha emiten penerbangan plat merah ini hanya naik tipis dari US$ 3,47 miliar menjadi US$ 3,71 miliar. Adapun beban usaha dan rugi kurs yang dicatatkan perseroan mengalami kenaikan signifikan. “Kinerja keuangan tahun lalu dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan faktor tingginya harga bahan bakar pesawat.” Jelas Direktur Utama GIAA Emirsyah Satar di Jakarta, Senin (10/2).

Pihaknya mencatat, beban usaha perseroan mengalami kenaikan dari US$ 3,29 miliar menjadi US$ 3,7 miliar. Sementara beban akibat selisih kurs tercatat mencapai US$ 47,92 juta, dan rugi lain-lain sebesar US$2,19 juta.

Selain faktor tersebut, sambung dia, pada tahun 2013 perseroan melakukan investasi dalam jumlah besar dalam penambahan armada untuk menunjang peningkatan operasional. Salah satunya untuk mengembangkan bisnis Citilink sebagai armada berbiaya murah alias low cost carrier (LCC) yang beroperasi secara mandiri.

Rencananya, untuk pengembangan usahanya ke depan, perseroan akan menerbitkan saham baru (right issue) sebesar 10% pada semester pertama 2014. Menurut Emirsyah, perseroan pun telah menunjuk tiga penjamin pelaksana emisi efek (underwriter), yakni PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Sekurities, dan PT Danareksa Sekuritas.

Garuda Indonesia akan menerima 27 pesawat baru, antara lain 2 B777-300ER, 4 Airbus A330, 12 B737-800NG, 3 Bombardier CRJ-1000 NextGen, dan 6 ATR 72-600. Penambahan ini untuk mendukung penguatan dan pengembangan jaringan penerbangan nasional dan internasional.

Sebelumnya, untuk memperkuat armada, Citilink anak usaha maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mendatangkan armada barunya Airbus A320 yang ke-23. Pesawat terbaru ini merupakan kehadiran A320 yang menggunakan “Sharklets” pertama untuk Citilink. Chief Executive Officer (CEO) PT Citilink Indonesia Arif Wibowo mengatakan, kehadiran pesawat terbaru ini semakin mempertegas komitmen Citilink untuk memenuhi permintaan masyarakat Indonesia, yaitu penambahan frekuensi dan rute penerbangan di tanah air,“Beroperasinya Airbus A320 terbaru ini akan memperkuat armada kami dalam meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat.” ujar Arif.

Kehadiran Airbus A320 terbaru ini sebagai bentuk peremajaan dari pesawat Boeing 737. Saat ini Citilink mengoperasikan 22 pesawat Airbus A320. Pesawat ini mampu mengangkut 180 penumpang serta memiliki Electronic Centralised Aircraft Monitor (ECAM) atau Monitor Pesawat Elektronik Terpusat yang memberikan informasi kepada awak pesawat mengenai semua sistem di dalam pesawat. (lia)

BERITA TERKAIT

Lagi, BUMI Bayar Cicilan Utang US$ 31,8 Juta

NERACA Jakarta – Pangkas beban utang untuk menjaga pertumbuhan bisnis dan kesehatan keuangan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membayar cicilan…

Targetkan Penjualan Rp 400 Miliar - Itama Ranoraya Perkuat Jaringan di Enam Kota

NERACA Jakarta – Keputusan pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan diharapkan bisa membawa dampak positif terhadap kinerja keuangan PT Itama Ranoraya…

Kurangi Biaya dan Emisi Karbon - DHL Rlis Layanan Asia Connect + di Indonesia

NERACA Jakarta- Raup ceruk pasar logistik di dalam negeri, DHL Global Forwarding sebagai penyedia jasa logistik terkemuka di dunia meluncurkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sukseskan Target SDGs - BEI Perkuat Kemitraan Antar Perusahaan

NERACA Jakarta - Dalam rangka menyukseskan kemitraan strategis antar perusahaan di Indonesia, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terus terbuka…

Kantungi Pinjaman BCA Rp 624 Miliar - Dharma Satya Terus Perluas Pembangunan Pabrik

NERACA Jakarta – Musim kemarau yang berkepanjangan, ditambah kondisi harga komoditas yang masih lesu tidak menyurutkan recana PT Dharma Satya…

Bisnis Pembiayaan CNAF Tumbuh 93,3%

NERACA Jakarta- Kendatipun bisnis otomotif diprediksi masih akan lesu hingga akhir tahun, hal tersebut tidak memberikan dampak bagi bisnis pembiayaan…