Bank BTN Terbitkan Obligasi Rp 4 Triliun - Danai Ekspansi Pembiayaan KPR

NERACA

Jakarta - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) akan menerbitkan obligasi sebesar Rp4 triliun untuk ekspansinya dalam pembiayaan Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk Maryono mengatakan, rencana penerbitan obligasi tersebut untuk memenuhi aksi korporasi pada tahun ini yaitu memenuhi pembiayaan ekspansi pembiayaan KPR “ Untuk waktu penerbitan masih menunggu waktu yang tepat karena perseroan masih melihat kondisi pasar dan kita belum dapat pastikan karena market masih terus kita pantau, saat ini pasar masih bergejolak,”ujarnya di Jakarta, Senin (10/2).

Karenanya, hingga saat ini pihak perseroan masih terus memantau pasar sehingga pada saatnya perseroan akan menindaklanjuti penerbitan tersebut. Dia mengakui saat ini pasar juga cukup ketat sehingga ada kemungkinan jika masuk saat ini merupakan timing yang kurang tepat.

Sementara itu, mengenai rencana akuisisi BBTN oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank BRI Tbk (BBRI), disebutnya belum tentu benar. Pasalnya, hingga saat ini dan ke depannya perseroan masih akan terus fokus dalam pengembangan bisnis,”Kami sedang melakukan transformasi bisnis. Tentunya transformasi itu tidak bisa berjalan dalam jangka pendek. Terkait dengan isu itu, kami dari manajemen belum ada pembicaraan lebih lanjut”, tegasnya.

Dia melanjutkan, isu tersebut bukanlah sebuah fakta, karenanya, perseroan akan lebih fokus pada pengembangan bisnis yang ada, termasuk memperkuat performa bisnis yang ada. Dia menilai, isu akusisi tersebut tidak memiliki dasar alasan yang kuat,”Isu yang beredar itu belum tentu benar dan belum tentu salah. Saya rasa kami tidak akan terlalu menanggapi persoalan tersebut,”katanya.

Sebelumnya, Kepala riset Trust Securities Reza Priyambada menilai bahwa akuisisi BBRI terhadap BBTN belum tentu memberikan dampak maksimal bagi penyaluran KPR BRI maupun BTN. Menurut dia, dalam sebuah akuisisi harus bisa memberikan benefit bagi kedua belah pihak. Dalam artian tidak hanya untuk BRI yang dalam hal ini sebagai pihak yang mengakuisisi, tetapi juga bisa memberikan hal yang positif bagi kinerja BTN.“Sebagai bank yang fokus di UKM sebaiknya BRI tidak mengubah alur bisnisnya, apalagi dengan penguasaan yang besar di UKM kinerja BRI sudah sangat solid”, tandasnya.

Sementara itu, setelah keluar pernyataan resmi Dirut BTN mengenai rencana akuisisi Bank Mandiri dan Bank BRI, saham BBRI dan BMRI justru terkoreksi. Saham BBRI terkoreksi 50 poin pada saat penutupan perdagangan sesi pertama, Senin (10/2). Bila pada pembukaan perdagangan pagi ini, saham BBRI dibuka dilevel Rp8750 per lembar, kemudian ditutup pada pukul 11.59 WIB pada level Rp8.700 per lembar. Rata-rata perdagangan saham ini berada pada level Rp8.718 per lembar.

Sementara itu, saham BMRI terpantau stagnan dengan dibuka pada level Rp8.850 per lembar, dan ditutup pada level yang sama. BMRI sempat diperdagangkan menyentuh harga tertinggi Rp8.925 pada pukul 9.07 WIB. Sedangkan level terendah pada perdagangan pertama tercatat pada level Rp8.825 per saham dengan rata-rata perdagangan Rp8.866 per lembar. (nurul)

Related posts