Menperin Sambut Baik Kepastian Investasi Foxconn

NERACA

Jakarta - Keinginan produsen elektronik asal Taiwan, Foxconn untuk berinvestasi di Indonesia tampaknya segera akan terwujud. Namun, bukan seperti yang banyak diberitakan selama ini, Foxconn rupanya lebih memilih untuk menggandeng Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta untuk membangun pabriknya tersebut.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku dirinya menyambut gembira kepastian tersebut. Hal itu karena investasi yang ingin ditanamkan oleh Foxconn selamai ini selalu tertunda. "Jadi saya bergembira bersyukur kalau investasi itu bisa di realisasi segera dengan DKI (Jakarta)," ujar Hidayat di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Senin (10/2).

Menurut Hidayat, kepastian Foxconn untuk bekerjasama dengan Pemda DKI Jakarta dibanding dengan lokal partner lain karena Pemda bersedia menyediakan lahan seperti yang diminta oleh perusahaan.

"Sanggup memenuhi permintaan mereka menyediakan tanah dan sebagainya, dulu kan memang problemnya itu swastanya ingin mendapatkan tanahnya seluas 200 hektare (ha) itu dengan secara komersil tapi kalau DKI bisa memenuhi itu saya kira bagus," lanjutnya.

Hidayat menyebutkan, agar Foxconn tidak lagi menunda invetasinya, maka Pemda harus meminta kesepakatan investasi secara tertulis agar sifatnya lebih mengikat. "Kan dia baru mau teken MoU-nya bulan April, MoU itu harus diikuti dengan bisnis agreement, karena MOU itu Memorandum Of Understand dan itu non bundling, artinya belum mengikat, jadi mesti invesment agreement, dan itu memerlukan banyak persiapan juga," katanya.

Hidayat juga menegaskan, pihak Kementerian Perindustrian dan pemerintah pusat tidak akan banyak ikut campur soal kerjasama ini. Namun pemerintah tetap akan memberikan kemudahan untuk melancarkan realisasi investasi ini. "Itu sepenuhnya B to B mereka, nanti kalo sudah mereka mengajukan diri ke BKPM sebagai perusahaan joint venture, nanti BKPM dan (Kementerian) Perindustrian memberikan kemudahan fasilitas dan sebagainya," tandasnya.

Investasi US$ 1 Miliar

Sebelumnya Foxconn telah menandatangani Letter of Intent (LoI) untuk berinvestasi hingga US$ 1 miliar di Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai upaya diversifikasi produksi dari China. Adapun provinsi DKI Jakarta menjadi salah tempat investasi Foxconn di Indonesia. Hal itu karena Jakarta dinilai memiliki infrastruktur lebih baik dibandingkan daerah lain.

Di sisi lain, Blacberry dan Foxconn telah sepakat menjalin kerjasama strategis untuk merancang dan merakit smartphone Blackberry yang akan dipasarkan di Indonesia. Pemasok produk Apple ini memang telah melobi pemerintah Indonesia untuk membangun pabrik manufakturnya.

BlackBerry dan Foxconn telah sepakat menjalin kerjasama strategis untuk merancang dan merakit smartphone BlackBerry yang akan dipasarkan di Indonesia, negara keempat terpadat di dunia. Handset ini akan menggunakan kode nama 'Jakarta'.

Pasar Indonesia rupanya dianggap seksi bagi BlackBerry dan Foxconn untuk mengeruk keuntungan. Terkait rencana kerjasama tersebut, Foxconn pun angkat bicara. Dalam kesepakatan kerjasama selama 5 tahun itu, Foxconn akan merancang smartphone versi murah. BlackBerry sendiri akan tetap fokus pada teknologi perangkat lunak.

"BlackBerry ingin mengembangkan produk baru di Indonesia, sementara kami juga ingin menyasar pasar lokal di sana. Mereka melihat ambisi kami, jadi kami berdiskusi," kata juru bicara Foxconn Simon Hsing sebagaimana dilansir Reuters.

Belajar dari pengalamannya merakit iPhone untuk Apple, Foxconn kini semakin pandai mengasah keterampilannya untuk memenuhi standar tinggi yang dituntut Apple. Foxconn kini memiliki tenaga kerja lebih dari 1 juta.

BlackBerry ingin menghasilkan banyak ponsel baru di Indonesia. Foxconn sendiri memang telah melobi pemerintah Indonesia dalam setahun belakangan ini untuk mendirikan pabrik manufakturnya di Indonesia.

Foxconn berharap bisa mencapai kesepakatan dengan pemerintah Indonesia pada Februari 2014. Foxconn juga berencana untuk mendirikan usaha patungan (joint venture) dengan menggandeng perusahaan swasta di Indonesia untuk memasuki pasar Asia Tenggara yang dinilai memiliki potensi besar. "Kemitraan ini akan saling menguntungkan kami untuk mengeksplorasi pasar negara berkembang yang ada dan yang baru bersama-sama," ujar Hsing lagi.

Terkait rencana investasi itu, pemerintah Indonesia secara resmi mengatakan Foxconn ingin berinvestasi secara bertahap sebanyak $10 milyar selama 5 tahun dengan menggandeng mitra lokal Erajaya Swasembada. Indonesia akan menawarkan insentif pajak agar rencana itu dapat terwujud.

Sementara menunggu untuk mendirikan fasilitas produksinya di Indonesia, Foxconn akan membuat ponsel BlackBerry di pabrik-pabriknya di China. Adapun smartphone pertama BlackBerry yang akan dibangun Foxconn untuk pasar Indonesia adalah smartphone 3G berbasis sistem operasi BlackBerry 10.

Handset ini akan menjadi perangkat murah dan akan menyasar pasar kelas menengah ke bawah dan direncanakan akan meluncur pada bulan April 2014. "Kemitraan strategis dengan BlackBerry ini merupakan pengakuan terhadap kemampuan Foxconn dan model bisnis baru IIDM (Innovative Integrated Design Manufacturer) seperti yang Chairman kami Terry Gou sebutkan," lanjut Hsing. "Kami tidak lagi hanya pembuat kontrak, kami menyediakan solusi total - mulai dari desain, manufaktur, pasokan komponen hingga manajemen logistik," tutup Hsing.

Related posts