Konsistensi Jaga Pertumbuhan

Di tengah kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus bersama-sama menjaga stabilisasi pertumbuhan melalui kebijakan makro dan mikro ekonomi. Adapun tujuan kebijakan stabilisasi adalah memperkuat nilai rupiah yang terpuruk, karena faktor defisit transaksi berjalan yang melebar dan dampak tapering off (pengurangan stimulus) di Amerika Serikat.

Sebelumnya BI selain agresif menaikkan BI Rate, juga telah membatasi loan to value (LTV), rasio kredit rumah dan kendaraan bermotor, sehingga membatasi minat kepemilikan rumah/motor dengan menaikkan jumlah uang muka. Kebijakan bunga tinggi ini diharapkan menahan capital outflow (arus modal keluar), sekaligus mengerem pertumbuhan konsumsi dan menurunkan impor agar defisit perdagangan mengecil. Namun, apabila kebijakan ini terus dipertahankan pada tahun ini, maka dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi stagnan.

Padahal, pertumbuhan ekonomi nasional 2013 yang mencapai 5,8% itu merupakan kedua tertinggi di kelompok negara ekonomi terbesar dunia, G20, setelah China. Bahkan laju pertumbuhan ekonomi India sekarang berada di bawah Indonesia. Ini merupakan kinerja yang patut kita pertahankan secara konsisten pada tahun ini.

Semua sektor ekonomi pun tumbuh dengan produk domestik bruto (PDB) 2013 mencapai Rp 9.084 triliun. Pertumbuhan ekonomi sebagian besar bersumber dari pengeluaran konsumsi rumah tangga 2,91%. Sedangkan pembentukan modal tetap bruto menyumbang 1,15%, perubahan inventori 0,10%, konsumsi pemerintah 0,38%, serta ekspor 2,52% dikurangi impor 0,47 %.

Kebijakan pengereman kredit ke sektor perumahan dan kendaraan bermotor juga mendukung penguatan institusi. Bagaimanapun, saat pertumbuhan dipacu dengan sisi suplai yang tidak cukup akan membuat kondisi ekonomi menjadi tidak seimbang sehingga nilai rupiah merosot dan inflasi melambung. Kemerosotan ekonomi pun dahsyat, yakni minus 13,1% pada 1998..

Kita melihat laju pertumbuhan ekonomi dunia yang hanya 2%-3%, kinerja pertumbuhan ekonomi 5,8% tahun lalu sudah bagus. Namun dengan nilai rupiah yang masih rawan dan ancaman inflasi tinggi, pemerintah perlu menjaga konsistensi kebijakan stabilisasi pada 2014. Artinya, bila pertumbuhan bisa mencapai 5,8%, BI sudah saatnya mengubah kebijakan dengan menurunkan BI Rate. Karena faktor inflasi tampaknya sudah bisa ditekan, sementara kekurangan suplai barang/jasa penanganannya berada di tangan pemerintah, bukan BI.

Adapun jumlah pasokan barang yang kurang yang ditutup dengan impor yang besar, terutama BBM dan bahan baku/penolong, pada hakikatnya tidak berdampak langsung terhadap kemerosotan nilai rupiah. Namun total impor pada 2013 masih tercatat US$ 186,63 miliar sehingga neraca perdagangan defisit US$ 4,06 miliar, merupakan realita kondisi di luar sektor moneter.

Dari sisi makro, kita berharap BI Rate tidak perlu dinaikkan lagi, bahkan jika mungkin bisa diturunkan ke level yang wajar. Karena suku bunga acuan yang terlalu tinggi akan semakin menekan pertumbuhan ekonomi dan menambah jumlah pengangguran. Sehingga upaya mengerem pertumbuhan ekonomi melalui pengetatan sektor moneter perlu dihindari. Sebab bila dipertahankan, hal ini dapat memicu inflasi tinggi, dan nilai rupiah terus tertekan, angka pengangguran dan kemiskinan kian meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi menurun.

Adalah sangat arif bila kebijakan stabilisasi ke depan perlu dilakukan dengan hati-hati. Pengetatan moneter pada dasarnya bertujuan menekan inflasi dan memperkuat kurs rupiah terhadap US$. Namun dari pengalaman sejauh ini, pengetatan moneter tidak banyak membuahkan hasil jika sisi suplai tidak dibenahi dengan tuntas.

BERITA TERKAIT

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI Turun 5,1% - LAPORAN “WORLD ECONOMIC OUTLOOK” IMF

Jakarta-Di tengah pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan…

Madu Manuka Healt Resmi Hadir Indonesia - Genjot Pertumbuhan Penjualan

Perluas penetrasi pasar di Indonesia, Manuka Healt asal Selandia Baru resmi hadir di Indonesia. Madu Manuka diambil dari pohon Manuka…

OJK Optimis Kerek Pertumbuhan Investor - Ditunjang Teknologi Finansial

NERACA Jakarta – Di era digital saat ini, layanan investasi di pasar modal tidak bisa luput dari layanan digital dalam…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Korupsi Dana Desa

Desa yang bakal kebanjiran anggaran negara pada hakikatnya bertujuan mulia, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Namun pada kenyataannya, banyak…

Ancaman Perang Dagang AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengingatkan Indonesia untuk berhati-hati terkait hubungan dagang antar kedua negara. Karena Trump merasa defisit perdagangan…

Menjaga APBN Kredibel

Di luar kebiasaan sebelumnya, Presiden Jokowi telah memerintahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati agar memastikan postur APBN 2018 fixed, atau…