Kebangkitan Ekonomi Negara Maju

Senin, 10/02/2014

Oleh: Prof. Firmanzah PhD

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Paruh akhir 2013 dan awal 2014 ditandai dengan fenomena pembalikan sumber pertumbuhan ekonomi dunia. Selama ini sejumlah negara berkembang seperti Tiongkok, India, Indonesia, Brasil, Rusia, Afrika Selatan dan Meksiko mengambil peran strategis sebagai negara penyumbang pertumbuhan dunia dalam 5 tahun terakhir saat ini sedang mengalami perlambatan. Sejumlah tantangan sedang dihadapi negara berkembang dan emerging dari mulai tekanan inflasi, melemahnya nilai tukar mata uang, defisit neraca perdangan, dan capital-outflow.

Sementara sejumlah negara maju mulai menunjukkan pemulihan dari ekspansinya ekonomi Jepang, perbaikan sejumlah indikator makro-ekonomi di amerika Serikat serta membaiknya ekonomi negara Eropa Barat. Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara maju menguat ke level 2,2% pada 2014 atau naik dari proyeksi sebelumnya 2,0%. Perekonomian Amerika Serikat diproyeksikan dapat tumbuh 2,8% tahun ini atau meningkat dari dari 1,8% tahun lalu.

Sedangkan zona Euro diperkirakan menguat 0,2% dari perkiraan sebelumnya dan menjadi 1,1% di tahun 2014. Penguatan kawasan ini dipicu oleh tumbuhnya sektor industri khsusunya di negara seperti Jerman, Perancis, dan Inggris setelah dua tahun ini mengalami kontraksi. Namun demikian, penguatan ekonomi negara maju ini memicu kekhawatiran khususnya di negara-negara berkembang dengan profil defisit fiskal yang besar dan fundamental ekonomi yang rapuh.

Dalam jangka pendek, pemulihan ekonomi negara maju berpotensi menciptaan risiko pembalikan-modal ke negara maju mungkin saja terjadi. Meskipun IHSG kita terus menunjukkan penguatan dalam minggu-minggu terakhir, namun kewaspadaan perlu terus kita tingkatkan. Dalam jangka menengah dan panjang, bagi Indonesia pilihan terbaik dalam menghadapi situasi seperti ini adalah terus memperkuat fundamental ekonomi nasional.

Selain fundamental dari sisi fiskal dan moneter, penguatan fondasi industri nasional juga akan terus dilakukan. Melalui kebijakan industrialisasi dan hilirisasi kita optimis dalam 3-5 tahun kedepan struktur industri nasional akan semakin kuat dan berdaya saing. Hal ini sejalan dengan semakin pulihnya ekonomi negara maju di satu sisi merupakan peluang memperbesar ekspor nasional.

Sejumlah indikator di atas menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih dilihat prospektif dan memiliki resiliency terhadap ketidakpastian ekonomi global. Neraca perdagangan di bulan Desember 2013 mencatatkan surplus mencapai US$ 1,52 miliar atau tertinggi sejak 2011. Surplus ini memberi kekuatan perbaikan neraca transaksi berjalan dan neraca modal.

Cadangan devisa sampai akhir Januari 2014 mengalami peningkatan dan mencapai US$ 100,7 miliar atau setara dengan 5-6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Tekanan nilai tukar rupiah juga semakin menipis dan diharapkan akan terus menguat hingga akhir tahun 2014. Pendapatan per kapita di akhir 2013 meningkat hingga Rp 36,5 juta dari Rp 33.5 juta pada 2012.