Saraswati Griya Kantungi Utang US$ 1,92 Juta

Utang Jatuh Tempo

Senin, 10/02/2014

NERACA

Jakarta- PT Saraswati Griya Lestari Tbk (HOTL) mencatat, utang yang akan jatuh tempo pada tahun ini sebesar US$1,92 juta dari total utang yang dicatatkan perseroan shingga 31 Januari 2014 sebesar US$4,19 juta. Rencananya, perseroan akan membayarkan utang yang jatuh tempo pada tahun ini setiap bulannya, mulai Mei hingga Desember 2014 sebesar US$174 ribu per bulan. Informasi tersebut disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta akhir pekan kemarin.

Disebutkan, utang perseroan yang akan jatuh tempo pada tahun ini sebesar US$1,92 juta, dan di tahun 2015 senilai US$2,09 juta, sedang pada 2016 sebesar US$174 ribu. Dengan demikian total utang perseroan dalam dolar AS sebesar US$4,19 juta.

Tingginya beban bunga yang harus ditanggung perusahaan properti ini dinilai dapat menjadi penyebab utama anjloknya laba bersih. Laba bersih PT Saraswati Griya Lestari Tbk (HOTL) sepanjang 2013 diperkirakan tertekan hingga 80% dari realisasi laba pada akhir 2012 lalu yang mencapai Rp31,28 miliar.

Senior Finance Manager Saraswati Griya Lestari, Tubagus Yudi Yuniardi pernah mengatakan, perseroan tengah melakukan pembayaran utang secara berkala untuk menekan tingkat beban bunga. "Hingga akhir tahun ini (2013), net profit kita mungkin akan turun sekitar 80% dibandingkan laba periode yang sama tahun lalu," ucapnya.

Sementara itu, untuk meningkatkan kinerjanya pada tahun ini, emiten yang bergerak di bidang jasa pelayanan sektor perhotelan mengaku akan menambah dua hotel baru tahun ini. Corporate Secretary HOTL, Darmawan Kusnadi mengatakan, penambahan dua hotel berlokasi di Seminyak dan Ubud, Bali. "Penambahan dua hotel baru tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan perusahaan hingga 30% dibandingkan tahun sebelumnya," ujarnya.

Menurut dia, sumber pembiayaan pembangunan dua hotel itu berasal dari dana yang diperoleh hasil penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO). Pada saat IPO, perseroan mendapatkan dana segar senilai Rp101,75 miliar. Dana tersebut dialokasikan sebanyak 39% untuk menurunkan pinjaman bank jangka panjang perseroan, sekitar 3% akan digunakan untuk modal kerja, dan 18% untuk pembiayaan belanja modal.

Selain menambahkan dua Hotel baru, perseroan juga berencana mengembangkan bisnis melalui beberapa proyek yang masih bergerak di bidang serupa di luar Bali. "Selain menambahkan dua hotel tersebut, kami juga akan mengembangkan bisnis dengan membangun beberapa proyek-proyek baru yang berwilayah di luar Bali. Kita ada beberapa proyek lagi. Kita juga akan ke kota-kota lain," jelasnya. (lia)