Kemendag: Izin Impor Sapi Betina Sepi Peminat

Senin, 10/02/2014

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan mengakui izin impor untuk sapi betina produktif sepi peminat. Pasalnya, hingga kini tawaran yang diajukan kepada para importir untuk mendatangkan sapi indukan masih sepi. Tahun ini, Kemendag membuka izin impor untuk sapi indukan minimal sebanyak 1 juta ekor. Pengajuan impor sapi indukan hingga saat ini baru 1.000 ekor oleh satu perusahaan.

Sepinya minat importir membuat program ini kemungkinan akan diundur dan baru direalisasikan semester II-2014 "Ada dari mereka yang sudah siap, memang dia punya, tinggal nambah. Tapi bagi yang lain, perkiraannya baru dilaksanakan semester II," ungkap Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, program dengan mendatangkan sapi betina produktif dimaksudkan untuk merespon sisi pasokan sapi yang kurang sehingga menjadi salah satu penyebab harga daging sapi relatif masih tinggi. Jumlah alokasi kuota untuk impor sapi indukan/betina produktif dibebaskan atau tanpa batas jumlah.

Berdasarkan perencanaan indikatif Pemerintah tahun 2014, kebutuhan daging nasional sebanyak 575.000 ton, produksi dalam negeri diperkirakan mencapai 443.000 ton sehingga kekurangannya sekitar 132.000 ton. "Itu kan harus ada persiapan. Ini kan manajemen sapi indukan berbeda dengan manajemen sapi penggemukan atau pembibitan. Jadi mereka kan harus siapkan kandangnya, makanannya lebih banyak, ini kan harus ada. Mereka sendiri sedang mempersiapkan itu," imbuhnya.

Untuk merancang agar importir berminat mengimpor sapi indukan, pemerintah sedang menyiapkan insentif berupa pembebasan pajak impor atau bea masuk. Selain pembebasan bea impor, pemerintah juga sedang mempertimbangkan agar ada insentif pengurangan bunga kredit modal dari bank menjadi hanya 5%-6%, dari saat ini sebesar 12%. "Kita ingin kalau insentifnya bisa ada, keinginannya Pak Gita (Gita Wirjawan) bisa 1 juta ekor sehingga populasi sapi bisa pulih kembali," jelasnya.

Harga Murah

Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) sempat menyebutkan banyak peminat untuk mengimpor sapi indukan atau sapi betina produktif.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Syukur Irwantoro mengatakan, peminat sapi indukan banyak karena harganya yang murah. Sekaligus dapat dikembang-biakan untuk mendapatkan anak sapi. "Sapi siap potong itu akan kita impor kalau kondisi emergency. Sapi bakalan seperti biasa ya. Kalau sapi indukan bisa kapan saja diimpor harganya tidak terlalu mahal, itu sekitar Rp8- Rp11 juta sudah sampai di Indonesia," ujar Syukur.

Syukur menerangkan, untuk yang berwenang yang melakukan impor sapi indukan bukan hanya feedloter atau tempat penggemukan. Akan tetapi siapa saja yang mau dipersilahkan bahkan peminatnya banyak. "Dengan dibukanya sapi indukan peminatnya banyak sekali, tidak hanya feedlotter, siapa saja. Kan kalau sapi siap potong langsung dipotong, sapi bakalan digemukkan dulu baru dipotong. Sapi indukan ini dikembangbiakkan, kan bisa melahirkan 2-3 ekor anak sapi dan melahirkan 2-3 kali. Sapi indukan ini untuk pengembangbiakkan, untuk meningkatkan populasi," kata Syukur.

Sapi indukan, menurut Syukur, salah satunya bisa diintegrasikan dengan perkebunan kelapa sawit. Pemilik perkebunan kelapa sawit juga diperbolehkan melakukan importasi sapi indukan. Integrasi ini mampu menghemat biaya, pasalnya pakan sapi berasal dari daun kelapa sawit. Kotoran sapi dapat digunakan pupuk alami.

Namun ada sedikit kendala teknis, tambah Syukur ini akan dibicarakan dengan Badan Ketahanan Pangan (BKP) dan dinas di daerah. Sebabnya perkebunan kelapa sawit ijinya hanya untuk sawit bukan dengan sapi. " Nah sekarang itu sedang dibicarakan insentif dengan kawan-kawan di BKPM untuk melaksanakan itu," tutur Syukur.

Kepala Eksekutif Asosiasi Ekportir Ternak Australia, Ben Hindle mengatakan Indonesia masih mengambil semua jenis ternak, tapi kebanyakan yang memiliki berat badan ringan. "Karena kondisi di sebagian besar wilyah Queensland yang kering, fokus mereka kini adalah soal berat badan. Tapi saya pikir lonjakan permintaan untuk ternak potong akan terjadi pada bulan puasa dan jelang Idul Adha," ucapnya.

Ketika ditanya tentang rencana Indonesia untuk menegakkan aturan 25% sapi betina, Hindle mengatakan hal tersebut belum jadi kenyataan. "Aturan ini belum terpenuhi dalam jangka pendek dan juga bukan sebuah peraturan yang sudah sah secara mengikat," katanya.