Meraih Kebahagiaan Hidup di Dunia dan Akherat

Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang  

Senin, 10/02/2014

Kebahagiaan hidup di dunia dan akherat adalah dambaan bagi setiap umat Islam sekaligus merupakan perintah ajaran agama agar kita dapat meraihnya sebagaimana doa sapu jagad yang kerap dipanjatkan kehadirat Allah SWT. Namun, untuk memperoleh kebahagiaan dunia tentu ada ilmunya demikian pula untuk memperoleh kebahagiaan akherat atau kedua-duanya mestilah ada ilmu yang perlu kita kuasai. Ilmu diperlukan untuk memahami apakah langkah dan aktivitas kita dalam meraih kebahagiaan hidup tersebut tellah dalam koridor yang benar dalam ajaran agama.

Pandangan Muslim tentang kebahagiaan tidak identik dengan kebahagiaan bersifat materi belaka sebagaimana misalnya pandangan Barat memaknai sukses. Masyarakat Barat dan banyak masyarakat lainnya termasuk di negara kita ini menganggap sukses dunia dipandang dari sudut materi kebendaan atau kepuasan hedonistik yang mengukur suatu kebahagiaan dari banyaknya nikmat dan kesenangan dunia yang diraih dan sedapat mungkin menghindari hal-hal dan perasaan menyakitkan. Sehingga kebahagiaan duniadalam filsafat hedonismesangat mencitai kehidupan dunia dan takut mati.

Ajaran hedonisme ini merebak dewasa ini dikalangan masyarakat luas dan tanpa disadari menipu kita dalam upaya melaksanakan ajaran agama (Islam). Disadari auatu pun tidak disadari ternyata banyak umat Islam yang juga terjerumus dalam paham hedonisme ini. Bagi mereka (pengikut hedonisme) kesenangan dan kenikmatan harus diraih sekarang juga bukannya nanti, sehingga mereka tidak mengenal kehidupan dan kebahagiaan akherat sebagaimana Allah melukiskan hal tersebut dibanyak ayat al Quran. Oleh karena itu para penganut hedonisme selalu menjadikan kekayaan materi dan kesenangan bagian dari kehidupannya sehari-hari, baginya hidup seolah hanya di dunia ini saja yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya guna memperoleh kepuasaan manusiawi, menjauhi penderitaan dan kesulitan hidup meski dimaksudkan berkorban untuk orang lain.

Sebagai Muslim kebahagiaan dunia tidak mesti milik orang kaya raya karena definisi kebahagiaan dalam perspektif Islam bukanlah berupa kekayaan materi belaka dan kesenangan diperoleh tetapi seberapa kaya hati dan kedekatannya kepada Illahi Robbi sang Maha Pencipta yang Maha Pengasih dan Penyayang. Islam amat jelas mengarahkan umatnya untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia tetapi tidak selalu berwujud materi meski menjadi orang kaya dengan cara halal dan baik amat dianjurkan bagi Muslim. Kebahagiaan dalam Islam manakala kita sebagai orang beriman secara ikhlas dan kesadaran menunaikan kewajiban, menjauhi larangan dan menghidupkan sunah-sunah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Kebahagiaan umat dalam mengerjakan sholat secara khusyuk, nikmatnya sholat tahajud dikeheningan malam dan saat berbuka puasa merupakan kepuasan batin yang tidak mungkin dapat diarasakan oleh peminat hedonistik. Oleh karena itu jika masih ada Muslim yang sangat berorientasi pada keduniaan dengan cara mengumpulkan harta, tahta demi memuaskan nafsu semata tanpa dijadikan alat ibadah dalam menegakkan agama Allah, maka sia-sialah harta dan tahta mereka. Padahal harta dan tahta dalam Islam merupakan ujian bagi pemiliknya apakah ia mampu mengendalikan dirinya dengan membelajakan nafkah di jalan Allah dan menggunakan kekusaaan untuk menjalankan amar ma'ruf nahi munkar ata tidak?

Dari sudut pandang Islam kekayaan harta dan kesenangan hidup di dunia tidak boleh melengahkan kita dari ketaatan terhadap perintah Agama dan kehati-hatian untuk tidak melanggar ketentuan Allah. Dalam menjalani hidup yang sementara ini segala harta, tahta, ilmu dan amal yang dimilki seharusnya diniatkan dan diperuntukkan untuk memperoleh keberkahan Allah SWT. Oleh karena itu harta, tahta, ilmu dan amal mesti bermanfaat pula bagi sesama umat manusia. Jika niat dan motivasi memanfaatkan kebelihan kita tersebut semata-mata untuk memperoleh kerdihoan Allah maka sesuai janji NYa ganjaran pahala untuk kebahagiaan akherat akan kita peroleh, iinsya Allah. (uin-malang.ac.id)