Sikapi Bencana Secara Arif - Oleh: Reza Sanubari

Di akhir tahun 2013 hingga 2014 ini mata dan telinga kita kerab sangat akrab dengan bencana-bencana alam yan terus menerpa negeri kita tercinta. Erupsi Gunung sinabung yang sampai saat ini masih terus mengancam, banjir bandang yang menerjang dan melulu lantakkan Manado, Sulut, Banjir yang merendam Ibu kota, menggenangi pekalongan, subang, Semarang, Pati dan hampir merata di wilayah pulau jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Khusus untuk bulan Januari 2014 saja, bencana hidrometeorologi yang terjadi adalah banjir 95 kali (23 tewas), tanah longsor (39 kali (25 tewas), puting beliung 36 kali (satu tewas), banjir yang diserta longsor empat kali (21 tewas) dengan jumlah keseluruhannya adalah 174 bencana dengan 70 jiwa tewas.

Tentunya kesemuanya menimbulkan penderitaan bagi saudara-saudara kita yang terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka menuju ke tempat-tempat pengungsian, menyebabkan kerugian yang begitu besar.

Melihat fenomena ini, tentunya kita bertanya dalam pikiran kita, apakah alam sudah sedemikian murkanya kepada manusia yang semakin congkak dan semaunya sendiri?

Selaku hamba yang beriman, tentunya bencana dan musibah yang terjadi ini kita sikapi secara arif dan bijaksana. Paling tidak ada hikmah atau pelajaran yang dapat kita petik terkait bencana tersebut bahwa kita sadar akan keagungan dan kekuasaan Allah yang tak terbatas dan semakin sadar terhadap kelemahan dan kehinaan kita. Serta hal ini membuka mata dan pikiran kita tentang adanya kerusakan dan kehancuran total dunia dan alam semesta, di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.

Menghadapi bencana yang datang bertubi-tubi, pemerintah dan masyarakat harus sama-sama arif. Hal ini diperlukan saat masyarakat menghadapi banyak resistensi di tengah-tengah kehidupan, baik dari segi politik, ekonomi, maupun sosial budaya.

Bencana alam gempa dan tsunami atau gunung meletus, memang tak dapat dipastikan waktunya oleh manusia, karena itu bergantung pada 'skenario' Allah SWT. Namun, sebagai makhluk-Nya, tentu tak cukup hanya sekadar memanjatkan doa, tanpa harus berusaha untuk tetap bersikap siap siaga menghadapi situasi terburuk. Oleh karenanya, semua daerah harus siaga bencana alam. Penanganan dan penanggulangan bencana alam tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi semua pihak.

Kerusakan lingkungan semakin hari semakin terlihat jelas. Perlu kiranya kita memikirkan upaya apa saja yang akan kita lakukan untuk memperbaiki lingkungan kita agar terciptanya K3 (ketertiban, kebersihan, dan keindahan). Langkah awal melakukan perbaikan dapat dilakukan dengan cara memperhatikan keadaan lingkungan sekitar kita dahulu, baru kemudian lingkup nasional. (mimbar-opini.com)

BERITA TERKAIT

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…

BEI Bilang Delisting Butuh Proses Panjang - Sikapi Kasus Bank of India

NERACA Jakarta- PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) tengah meminta PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menghapus sahamnya (delisting)…

Adira Insurance Bentuk Tim Tanggap Bencana

      NERACA   Jakarta - Untuk mengantisipasi bencana banjir ini, Adira Insurance telah membentuk tim tanggap bencana yang…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Peran Pers dalam Mewujudkan Stabilitas di Tahun Politik

  Oleh : Stevanus Sulu, Mahasiswa Universitas Nusa Cendana, Kupang Pers sebagai media komunikasi massa berfungsi untuk menyalurkan aspirasi rakyat…

Menolak Isu Pencopotan Kepala BIN

  Oleh: Dodik Prasetyo, Peneliti Senior LSISI   Belakangan ini, masyarakat Indonesia diramaikan oleh berita penganiayaan tokoh agama seperti yang…

Matinya Edisi Cetak ?

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo Realitas industrialisasi media berdampak sistemik…