Perpustakaan Digital di PTI

Oleh: Umar Natuna, Ketua STAI Natuna

Jumat, 07/02/2014

Salah satu gagasan yang lahir dari Seminar dan Silaturahmi Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (PTI) pada 19-20 Desember 2013 lalu, di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang dihadiri oleh sebagian besar Perguruan Tinggi Islam baik negeri maupun swasta ( baca; termasuk penulis juga hadir sebagai peserta) adalah mendeklarasikan petisi membangun jaringan Perpustakaan digital bagi kalangan Perguruan Tinggi Islam. Gagasan ini didasari atas berbagai pertimbangan. Pertama, bahwa kehadiran Perguruan Tinggi Islam yang cukup besar, yakni mencapai 880 buah PTI yang terdiri dari 52 Perguruan Tinggi Islam negeri dan 828 Perguruan Tinggi Islam Swasta adalah aset umat Islam yang dapat dijadikan sarana untuk menggerakkan proses pemberdayaan dan pengembangan umat Islam secara lebih luas dan terpadu kedepan.

Kedua, dari jumlah PTI yang cukup banyak dan tersebar di seluruh pelosok Nusantara ini, ada sebagian yang sudah berkembang demikian maju seperti UII dan sejumlah Perguruan Tinggi Negeri, seperti UIN Yogya, UIN Jakarta, UIN Malang dan lainnya telah memiliki koleksi, literatur dan perpustakaan yang baik, namun hanya dinikmati oleh mereka sendiri. Sementara yang lain, belum sepenuhnya maju dan belum dapat menikmati kelebihan yang dimiliki oleh PTI yang maju.

Ketiga, bahwa perpustakaan sebagai salah satu sumber informasi memiliki peran sentral dalam mengemban tugas melakukan pemerataan akses informasi. Karenanya, jika perpustakaan PTI memiliki jaringan antara Perguruan Tinggi Islam, maka berbagai kesenjangan informasi keilmuan dan lainya akan dapat diatasi.Keempat, pesatnya teknologi informasi seperti Internet, twitter, dan berbagai jaringan sosial lainnya telah mengantarkan kita kepada budaya baru, yakni digitalisasi. Dimana orang sudah tidak sepenuhna menggunakan informai dalam bentuk fisik yang asli seperti buku dan dunia cetak lainnya, melainkan menggunakan informasi elektronik atau digital. Selain, memiliki nilai yang ekonomi, media digital dipandang sebagai sarana yang memudahkan dan sangat fleksibel. Makanya, kini dunia digital juga telah merambah ke dunia perpustakaan. Dan jaringan pustaka digital telah beroperasi di Indonesia, yakni juni 2001, yang lebih kita kenal dengan sebutan Digital Library Network (DLN).

Urgensi

Perpustakaan digital adalah suatu organisasi yang menyediakan sumber-sumberdaya, termasuk staf dengan keahlian khusus untuk menyeleksi, menyusun, menginterpretasi, memberi akses intelektual, mendistribusikan, melestarikan dan menjamin keberadaan koleksi karya-karya digital sepanjang waktu. Dengan makna demikian, maka membangun jaringan perpustakaan digital menjadi penting bagi kemajuan suatu perguruan Tinggi, terutama Perguruan Tinggi Islam. urgensinya antara lain; Pertama, adanya kesamaan Jurusan, Program Studi dan kajian keilmuan dari masing-masing PTI itu sendiri. Hal ini merupakan modal sosial, dalam upaya membangun kerjasama. Dengan adanya kesamaan ini akan lebih mudah tercapai berbagai tujuan dan kepentingan dalam upaya mengembangkan Perguruan Tinggi dan keilmuan Islam itu sendiri.

Kedua, berbagai distorsi tentang Islam yang selama ini seringkali terjadi akibat semakin meluasnya kajian keislaman yang dilakukan kaum orientalis telah memberikan suatu stigma dan citra tersendiri tentang Islam. Islam seringkali dianggap tidak memiliki akar dan etos intelektual, Islam yang jauh dari pusatnya Mekah dianggap Islam pinggiran dan seterusnya.

Distorsi tentang Islam ini harus segera dijawab dengan menyebarkan berbagai informasi, hasil penelitian, kajian dan sandingan leteratur yang lengkap dan utuh tentang Islam. Dan Perguruan Tinggi Islam sangat berkepantingan akan hal tersebut, karena kajian keilmuan di Perguruan Tinggi Islam adalah kajian ilmu-ilmu keislaman yang konprehensif. Yang dalam artian, hasil kajiannya bukan hanya untk kepentingan keilmuan semata, sebagaimana kaum orientalis mengkaji Islam, melainkan juga Islam harus diamalkan dalam realitas kehidupan nyata. Dalam konteks ini, PTI perlu membangun jaringan kerjasama dalam tata informasi keislaman dan tata informasi keilmuan, sehingga Islam dapat dipahami secara komprehensif. Dengan adanya pemahaman Islam yang konrehensif, maka Islam akan dapat menjadi kiblat paradigma keilmuan dan amal.

Ketiga, sebagaimana ditulis oleh Has-Dieter Evers dari Universitas Of Bonn Germany, sebagaimana dikutif oleh Prof.Dr. H. Edy Suandi Hamid dalam makalah seminarnya, mengemukakan bahwa Knowledge indeks pengetahuan Indonesia baru mencapaikan 1, 518; Malaysia, 2, 645; Korea Selatan 4,053; Jerman 4,614 dan belanda 4,777. Itu artinya tingkat pemerataan pengetahuan di Indonesia masih jauh ketinggalan. Karena itu, diperlukan suatu strategi untuk meningkatkan pemerataan pengetahuan warganya agar Indonesia tidak mengalami ketertinggalan dengan negara maju lainnya.

Keempat, rendahnya indeks pengetahuan warga bangsa kita tentu akan menimbulkan kesenjangan intelektual ( intelektual gap). Kesenjangan intelektual akan melahirkan kemandekan peradaban. Sebab tumbuh dan berkembangya suatu peradaban bangsa akan dilihat dari sejauhmana penguasaa dan akses informasi yang didapatkan warganya. Dalam konteka ini adanya kerjasama dalam perpustakaan terutama di kalangan PTI akan lebih memudahkan proses perluasas akses dalam memperoleh informasi dan pengetahuan.

Manfaat

Jika saja kerjasama dalam jaringan perpustakaan digital di kalangan PTI terwujud, maka akan lebih memudahkan bagi percepatan penyebaran tata informasi, nilai-nilai keislaman dan terhindar dari kejenuhan informasi akibat keterbatasan koleksi, leterlatur dan jurnal yang berkualitas. Karenanya, kerjasama perpustakaan digital antar PTI akan bermanfaat, terutama: Pertama, dalam menjawab kesenjangan intelektual dan keilmuan antara Perguruan tinggi Islam itu sendiri. Sebab dengan ada jaringan kerjasama, maka persoalan kekurangan leterlatur, koleksi, jurnal, hasil penelitian akan dapat terjawab. Jika persoalan database konten , jurnal, dan jaringan SDM dapat diatasi maka tentu upaya peningkatan kualitas, perluasan akses dan penyebaran tata informasi akan terjadi. Kedua, dapat meningkatkan keunggulan kompetitif mahasiswa di tingkat global. Dengan adanya kerjasama, maka masing-masing mahasiswa antara PTI akan terpacu untuk melakukan kelaborasi informasi, leteratur dan keilmuan. Jika ini dapat terwujud, maka akan dapat proses transformasi informasi , pengetahuan, sikal dan mental yang berimbang antara PTI, maka kualitas akan semakin merata di setiap wilayah.

Ketiga, akan mempermudah bagi siviatas akademika masing-masing PTI untuk mengakses kontens dalam Perpustakaan masing-masing. Selain itu akan dapat menghindari terjadinya budaya penciplakan, atau plagiat karena masing-masing informasi yang ada seperti tesis, skripsi, disertasi, jurnal akan tersebar di masing-masing Perguruan Tingi dan dunia. Dengan demikian proses selektivitas dan kroscek terhadap konten perpustakaan akan dapat dilakukan secara simultan. Nah, memang untuk mewujudkan jaringan kerjasama antara PTI dalam bidang perpustakaan digital ini tidak mudah. Salah satu tantangannya adalah bagaimana membuang ego masing-masing Perguruan Tinggi itu sendiri, untuk mau berbagi dan melakukan pemberdayaan terhadap perguruan tinggi yang baru berkembang. Hal ini tentu akan teratasi jika dilakukan komunikasi yang terus menerus dan adanya saling memahami akan kepentingan jangka panjang-yakni memajukan Islam itu sendiri. Inilah yang harus direnungkan-agar gagasan untuk membangunan jaringan perpustakaan digital perguruan Tinggi Islam ini menjadi kenyataan. Semoga. (haluankepri.com)