Instalasi Air Minum Jakarta Rentan Gangguan

-

Sabtu, 08/02/2014

Instalasi Air Minum Jakarta Rentan Gangguan

Nyaris seluruh produksi air bersih di Jakarta tak bisa dipenuhi sendiri oleh Jakarta. Hingga saat ini, kebutuhan air bersih dan air minum masyaraat Jakarta dipasok dari luar Jakarta. Pertama, dari bendungan Jatiluhur di Purwakarta yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta (PJT) II.

Masih belum cukup, salah satu operator PAM Jaya, yaitu PT Palyja diharuskan membeli air curah dari PDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) Tangerang yaitu sebanyak 30% dari seluruh pasokan. Khusus operator PAM Jaya wilayah timur, yaitu PT Aetra Air Jakarta, pasokan air bakunya 100% berasal dari Jatiluhur.

Yang jadi problem, harga air curah yang dipatok PDAM TKR ke PT Palyja, terlihat jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga air baku dari Jatiluhur. Hal itu mempengaruhi biaya-biaya yang nantinya akan dibebankan ke rekening pelanggan atau masuk ke kas daerah.

Persoalan berikutnya adalah perjalanan air yang dipasok dari Jatiluhur ke Jakarta cukup jauh. Selama dalam perjalanan sejauh 70 km banyak mengalami gangguan yang mengakibatkan menurunnya kualitas air. Apalagi, di saat musim hujan, air baku Jatiluhur banyak terkontaminasi lumpur dan limbah.

Jika demikian,ini tutur head of Responsibility and Corporate Communications Palyja Meyritha Maryani biaya untuk menjernihkan menjadi lebih mahal. Persoalan berikutnya adalah masih adanya kebocoran di jaringan distribusi maupun di tingkat pelanggan. “Kebocoran itulah selama ini kami upayakan terus turun kembali,” kaya Mey.

Gangguan listrik termasuk yang jadi langganan Palyja. Jika tak ada aliran listrik, kata dia, air bersih maupun produk air bersih yang akan disalurkan ke pelanggan terganggu. Kali terakhir, gangguan melanda Instalasi Pengolahan Air (IPA) Taman Kota. Gangguan berupa listrik mati dari PLN akibat banjir Januari 2014. “Saat ini, Palyja sedang berupaya melakukan solusi terbaik agar keadaan bisa kembali normal dalam waktu dekat,” kata Mey lagi. (saksono)