Manisnya Bisnis Burung Berkicau

Sabtu, 08/02/2014

Bisnis burung masih cukup menggiurkan, seiring dengan seringnya dilaksanakan kontes perlombaan burung kicau, membuat pecinta burung terus bertambah, karena prospek itulah bisnis burung berkicau bisa bergerak positif.

NERACA

Pada 2007 bisnis burung mengalami masa jaya. AC Nielsen, Aksenta, dan Darwin Initiative pada pada saat itu melakukan riset di Pulau Jawa dan Bali. Hasilnya cukup mencengangkan, karena diketahui perputaran di bisnis ini mencapai triliunan rupiah.

Tapi, saat ini perputaran rupiah itu boleh jadi lebih kecil atau lebih besar lagi dari tujuh tahun silam. Tetapi yang jelas, bisnis ini tidak ada matinya selama penghobi burung masih terus berburu burung kesayanagnnya.

“Burung-burung kicauan yang sangat diminati pehobi adalah cucakrawa, kenari, serindit, cerukcuk, kutilang, muraibatu Copsychus malabaricus, anis merah, kacer, dan cucak hijau atau cica daun besar,” ujar Zamroni yang merupakan pehobi di daerah Kebayoran Lama.

Menurut dia, beberapa jenis burung populer tersebut mulai sulit dijumpai. Cucakrawa misalnya, nyaris punah di hutan-hutan Pulau Jawa. Tak heran mengapa harganya bisa begitu mahal. Sebagai gambaran umur 1 bulan saja harganya bisa mencapai Rp700 ribu hingga jutaan rupiah. Tentu saja, inilah menjadi peluang untuk mendulang rupiah dengan cara membuat penangkarannya.

“Yang menjadikan harga burung semakin mahal adalah burung-burung tersebut semakin langka untuk didapatkan. Seperti Cucakrawa, jenis burung yang satu ini nyaris punah di hutan-hutan di Pulau Jawa,” tegas dia.

Memang bisnis ini sempat lesu kala wabah flu burung mendera di tahun 2005, tetapi pamor burung kicauan terus menlonjak. Lihat saja, kini berbagai kontes adu merdu suara burung marak digelar di berbagai tempat.

“Dulu sih sempat lesu, dan saya juga sempat menjual dan burung-burung kesayangan saya saat ada fluburung. Tetapi, setelah itu penjualan burung berkicau semakin baik dan baik lagi,” sebut pria beranak dua itu.

Uniknya, sampai saat ini jenis-jenis burung yang populer di lomba tak pernah berganti, masih tetap dikuasai jenis muraibatu, anis merah, dan kacer. Ketiga jenis itu memang mencorong sebagai burung kontes sejati.

“Anis merah dan muraibatu disukai karena memiliki volume suara keras, bagus dan jernih. Khusus anis merah kini berkembang berbagai gaya. Bila sebelumnya populer gaya teler dan pinguin, kini gaya doyong alias merunduk-runduk ke depan menjadi populer,” kata dia lagi.

Bisnis Sangkar

Bisnis burung berkicau juga memberi angin segar bagi para pedagang sangkar burung dan juga para pedagang pakan. Sangkar burung berbentuk unik dan simple biasanya banyak dicari para pecinta burung berkicau maupun burung jenis lainnya. Dan ini tentunya memberikan kesempatan besar bagi para pengrajin atau pembuat sangar burung dari bambu maupun sangkar burung dari kawat besi.

Bermodalkan ketrampilan dalam mebuat sangkar dan dipadukan dengan selera seni, maka kita pun bisa menciptakan sangkar burung dalam berbagai bentuk yang dipadu dengan unsur seni seperti lukisan maupun sangkar berbagai macam bentuk.