Rupiah Mulai Stabil - Saham Ekspor Kurang Diminati

NERACA

Mulai stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengakibatkan saham perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor mulai kurang diminati para investor.

Penyebab melemahnya saham perusahaan tersebut juga karena sebagian besar perusahaan ekspor memiliki penghasilan dalam bentuk dolar.

“Karena kurs dolar terhadap rupiah stabil otomatis perusahaan yang pendapatan dolar itu dilihat dari investor tidak terlalu optimis lagi. Perusahaan yang berpendapatan dolar itu prospeknya bagus jika US dolar menguat,” tutur Managing Director Bank Standar Charted, Fauzi.

Menurut dia, pelemahan itu karena terus berjalan hingga akhir tahun menginggat pada 2014 akan terjadi situasi uforia politik dengan adanya Pemilihan Presiden pada bulan Juli 2014 yang akan akan mendorong penguatan rupiah.

Hal yang menjadi alternatif investasi oleh para investor saat ini justru tertuju terhadap saham-saham perusahaan yang berorientasi ke sektor bisnis kontruksi.

“Tentunya dengan terus menerusnya hujan dan banyaknya infrastruktur yang rusak, otomatis itu akan memberi harapan bagi perusahaan kontruksi untuk proyek operasional maintenance atau perbaikan,” tuturnya.

Mengenal kondisi nilai rupiah terhadap dolar AS. Ia menilai pada semester awal ini masih akan stabil di level Rp 12.000 dan kemudian akan mulai menguat hingga level Rp 11.400 per dolar US pasca penyelengaraan pemilu 2014.

“Dengan terbentuknya pemerintah baru itu bulan Oktober nanti, kita perkirakan ada euforia baru, rupiah akang menguat ke arah Rp 11.400 per dolar US. Kalau semester pertama rupiah ke Rp 12. 400 per dolar US kalau semester kedua rupiah menguat ke Rp 11.400 per dolar US,” pungkasnya.

Saham Paling Diminati

Manulife Financial menilai Indonesia masih mempunyai potensi peningkatan basis investor. Pasalnya, para investor Indonesia termasuk paling optimis dibanding negara Asia lainnya. Khususnya, pada sektor saham yang secara langsung terjadi peningkatan minat yang paling tinggi dibanding dengan instrumen investasi lainnya.

Presiden dan CEO Manulife Asia, Robert A Cook menjelaskan para investor Indonesia memiliki kecenderungan memegang dana tunai dalam jumlah besar, setara dengan 12 bulan pendapatan pribadi.

"Sekitar 22% dari dana tunai tersebut digunakan untuk keperluan sehari-hari dan pengeluaran tak terduga, sisanya digunakan untuk tujuan jangka menengah hingga jangka panjang," ujarnya.

Menurutnya, peningkatan tren positif investor Indonesia sama seperti di negara Asia dan Kanada. "Mayoritas investor di Asia dan Kanada memiliki kondisi keuangan yang berharap lebih baik, namun Amerika tidak menunjukkan perubahan sentimen kondisi keuangannya," jelas dia.

BERITA TERKAIT

Batalnya Kenaikan Premium Supaya Ekonomi Tetap Stabil

Oleh : Hugo, Pemerhati Ekonomi Politik     Kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan masyarakat luas tentu akan mendapatkan perhatian lebih…

Saham Super Energy Masuk Pengawasan BEI

Lantaran pergerakan harga sahamnya melesat tajam di luar kebiasaan atau disebut unusual market activity (UMA), perdagangan saham PT Super Energy…

Malindo Bagikan Dividen Rp 16 Per Saham

NERACA Jakarta - Emiten yang bergerak produksi pakan ternak, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) akan membagikan dividen interim dari laba…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…