Learn and Practice, Miracle Happen. No Action, Nothing Happen

Sabtu, 08/02/2014

NERACA

Kata “saham” pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ketika mendengar kata ini, sejuta gambar pasti muncul di benak, dan kata yang sering kali muncul adalah “main saham”. Saham sebenarnya bukan mainan. Saham bukan alatpenghibur atau penggembira, bukan pula sekedar alat pemuas hobi berspekulasi.

Praktisi Pasar modal, Ellen May menuturkan, masyarakat sudah terbiasa menggunakan kata “bermain”, :menang”,dan “kalah” dalam bisnis trading. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai sebuah cara pandang yang menganggap trading bukanlah sebuah bisnis, namun sebagai sesuatu yang tidak serius, sebagai sebuah permainan atau perjudian.

“Tidak jarang saya temui beberapa trader yang menjalankan aktifitas trading hanya karena ingin mengisi waktu dan menjadikan bisnis ini menjadi money game. Faktanya, sambung Ellen, trading adalah sebuah bisnis yang sempurna, merupakan aktifitas beli dan jual saham atau kepemilikan sebuah perusahaan, layaknya akttifitas beli dan jual lainnya,” kata dia.

Lantas apa itu saham? Jawaban termudahnya, kata Ellen, saham adalah bukti kepemilikan perusahaan. Untuk menjalani bisnis ini, seorang pelaku pasar harus belajar mengenai berbagai strategi. Dengan strategi yang tepat, seorang pelaku pasar bisa mendapatkan imbal hasil berkisar 40-100 persen dalam rentang waktu satu tahun.

"Untuk memulai berinvestasi saham sebenarnya hanya membutuhkan strategi yang sederhana, ditambah dengan kedisiplinan dan kesabaran. Learn and Practice, Miracle Happen. No Action, Nothing Happen," ujar Ellen

Kedisipinan dan kesabaran, sambung dia, berkaitan erat dengan strategi awal saat mulai bermain di pasar saham. Jika memilih investasi jangka panjang, jangan terbawa nafsu untuk menjual saham saat harganya mulai beranjak naik. Begitu juga sebaliknya, saat harga saham turun jangan panik dan langsung menjualnya tanpa perhitungan.

Namun demikian, lanjut Ellen, berbisnis di pasar modal memang memiliki tingkat risiko tersendiri. Salah langkah bisa menyebabkan uang melayang. Biasanya, kata dia, kondisi semacam ini diakibatkan kurangnya pemahaman dari pelaku pasar modal itu sendiri.

“Jangan berinvestasi pada sesuatu yang tidak kita pahami. Carilah informasi mengenai jenis perusahaan sebelum membeli saham. Cek juga siapa yang mengelola sebuah perusahaan,apa kekuatan serta kelemahan sektor dari perusahaan tersebut. Apa saja keunggulan kompetitif yang dimiliki perusahaan, sumber bahan baku, dan pangsa pasar perusahaan,” ujar dia di akun jejaring sosialnya.

Jika Anda adalah Value Investor, kata Ellen, belilah saham yang dijual dengan harga jauh di bawah nilai intrinsiknya. Pasalnya, Value Investor punya kelebihan yaitu potensi keuntungan paling besar, namun punya kekurangan, yaitu rentang waktu sangat lama.

“Jika ingin berinvestasi saham namun tidak ingin menunggu terlalu lama baik untuk membeli atau menjual, pilihlah strategi Growth Investing. Strategi Growth Investing membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga tahun dan memberikan profit maksimal. Jika ingin melakukan Growth Investing, Anda berfokus memilih perusahaan yang labanya bertumbuh secara konsisten. Melihat pertumbuhan laba selama 5 tahun dengan memperhatikan rasio EPS / earning per share adalah strategi yang sangat bagus,” kata dia