Utamakan Hak Pejalan Kaki

Sabtu, 08/02/2014

Utamakan Hak Pejalan Kaki

Tidak nyamannya kebanyakan trotoar (pedestrian) di Jakarta karena tidak steril dan sempit. Karenanya, Ketua DPRD DKI Jakarta Ferial Sofyan mendesak Gubernur Jokowi agar memprioritaskan kawasan pejalan kaki. “Trotoar yang rusak harus diperbaiki, sehingga pejalan kaki nyaman,” kata Ferial yang berasal dari Fraksi Partai Demokrat.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Yonathan Pasodung membenarkan masih banyak trotoar yang rusak. Persoalannya, kawasan itu kini ditangani oleh tiga pihak. Yaitu, Dinas Pertamanan dan Pemakaman, Dinas Pekerjaan Umum, dan Kementerian Pekerjaan Umum. “Tidak semua dikelola pemprov, ada juga dikelola pusat. Tapi yang jelas, bila kewenangan kami, trotoar rusak segara diperbaiki,” katanya berjanji.

Tugas Gubernur Jokowi tentu tidak hanya membersihkan trotoar dari galian, tapi juga harus melebarkan dan membebaskannya dari pedagang kaki lima maupun parkir kendaraan. Parkir mobil di sembarang tempat juga menjadi satu aspek gangguan lalu lintas. Jalanan jadi sempit hingga menyebabkan kemacetan.

“Kami selalu mengimbau kepada para pemakai jalan, utamanya sepeda motor agar tidak menyerobot jalur pejalan kaki,” kata Edo Rusyanto, ketua umum Road Safety Association (RSA).

RSA, kata Edo sudah berulangkan mengadakan kampanye bagaimana membangun kesadaran berlalu lintas yang sopan dan santun. Menurut dia, hambatannya justru di penegakan hukumnya. Dia sering menjumpai petugas polisi lalu lintas menerapkan segresi atau pengecualian untuk melanggar rambu-rambu lalu lintas. “Hal itu jelas berdampak buruk karena justru mendidik warga masyarakat tidak disiplin,” kata Edo.

Karena itu, kata Edo, RSA mengharapkan ketegasan Gubernur Jokowi dalam membersihkan kawasan itu dari kegiatan apapun kecuali untuk lintasan para pejalan kaki.

Aktivis Koalisi Pejalan Kaki Jakarta Ahmad Safrudin menilai, penyerobotan kawasan trotoar merupakan bukti bahwa hanya mementingkan penguna sepeda motor dibandingkan pejalan kaki. Dari 7000 km jalanan I Jakarta, Edo, hanya sekitar 20% saja yang memiliki trotoar, dan sebagian besar di antaranya tak layak dan cenderung membahayakan.

Puput, sapaan Safrudin, pun membeberkan data bahwa trotoar di Jakarta mencapai 1.400 km, tapi yang layak dan manusiawi bagi pejalan kaki sepanjang 280 km saja. “Sisanya dimanfaatkan sebagai tempat parkir, pedagang kaki-5, pos polisi, dan lainnya.“Kalau disurvei, ibukota negara di dunia yang memiliki trotoar terburuk sudah pasti Jakarta,” ucapnya. (saksono)