UGM Jalin Kerjasama Riset Dengan Selandia Baru

Sabtu, 08/02/2014

UGM Jalin Kerjasama Riset Dengan Selandia Baru

NERACA

Distribusi pengetahuan bagi daerah terluar, terdepan dan tertinggal wajib dilakukan perguruan tinggi. Cara ini dilakukan sebagai salah satu upaya penanggulangan kemiskinan di kawasan Indonesia Timur.Demi hal tersebut berjalan lancar,Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Selandia Baru melakukan kerja sama riset dalam pengembangan sumber daya ekonomi lokal pulau-pulau terpencil di daerah Indonesia bagian timur.

Rektor UGM Pratikno menuturkan, dipilihnya daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil di daerah Indonesia bagian timur itu dalam rangka menjalankan mandat UGM sebagai universitas nasional. Salah satunya adalah mendistribusikan ilmu pengetahuan dalam pembangunan masyarakat yang berada di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T). Sementara ini dari 22 proposal riset yang diusulkan para tim peneliti di lingkungan UGM, sudah dipilih empat proposal riset. Total alokasi dana untuk empat riset tersebut adalah Rp11 miliar.

“Proyek kerja sama yang dilakukan selama lima tahun itu diprioritaskan pada riset pengembangan energi terbarukan, manajemen risiko bencana, pengembangan ekonomi kreatif, dan resolusi konflik. Kami akan fokuskan pada pengembangan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat setempat sehingga bisa menurunkan angka kemiskinan," kata Pratikno di Yogyakarta belum lama ini.

Keempat riset tersebut adalah pengembangan ekonomi lokal masyarakat di Pulau Morotai, Maluku Utara, eksplorasi dan pengembangan budi daya rumput laut di Nusa Tenggara Timur (NTT), pengembangan energi geothermal di Sulawesi Utara, dan pembangunan kemampuan masyarakat dalam manajamen risiko bencana di pulau terpencil.

"Riset para peneliti UGM itu nanti diharapkan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Tidak sekadar riset, tukar pengalaman dan pengetahuan dengan tim ahli dari Selandia Baru juga kami harapkan manfaatnya bagi masyarakat, karena negara itu memiliki pengalaman dalam bidang geothermal," tambah dia.

Sementara itu, Duta Besar (Dubes) Selandia Baru untuk Indonesia David Taylor mengatakan kerja sama pembiayaan riset dengan UGM itu untuk pertama kali dilakukan pemerintah Selandia Baru dengan universitas di luar negari.

Menurut dia, kerja sama dengan UGM itu dibangun melalui riset kemitraan khususnya untuk Indonesia bagian timur. Kerja sama riset itu bisa berdampak langsung bagi masyarakat.

“Pemerintah Selandia Baru akan mendukung proyek tersebut melalui pengiriman tim ahli. Tim ahli itu untuk mendukung projek tersebut seperti bidang geothermal yang telah berpengalaman lebih dari 30 tahun," ujar dia.

Yuan