Jaringan Utilitas Kota

Sabtu, 08/02/2014

Seperti yang kita tonton dalam film-film barat, jaringan utilitas di kota-kota besar di luar negeri sering dijadikan lokasi shooting film. Sebuah saluran air yang cukup besar, hingga orang bisa leluasa berlarian di dalamnya. Saluran besr itu tepat berada di bawah jalan raya. Di sana terdapat pipa-pipa besar yang disusun secara rapi hingga tak mengganggu aliran air di selokan besar itu.

Itu sebabnya, sering kita jumpai ada lempengan besi berlobang-lobang yang terdapat di tengah-tengah jalan raya. Itu adalah penutup lobang yang diperlukan untuk mengontrol keadaan saluran besar itu.

Jika itu yang diinginkan Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, sudah seharusnya dia tahu bahwa Jakarta tak memiliki saluran besar di bawah tanah yang bisa dipakai untuk menempatkan pipa-pipa sarana utilitas umum. Jangankan untuk menampung kabel-kabel telepon dan gas, dan pipa air bersih, besaran saluran itu saja tak cukup mampu menampung limpasan air hujan dari jalan raya. Terlalu sempit.

Itu sebabnya, seluruh jaringan utilitas ditanam di tepi jalan atau di trotoar. Gali lobang dan tutup lobang di jalanan karena tak ada alternatif bagi perusahaan penyelenggara utilitas untuk membuat jaringan kecuali di jalanan atau trotoar. Pemasangan yang tak rapi menyebabkan rusaknya jalan dan trotoar yang kebanyakan sempit. Lagi-lagi pada pejalan kaki menjadi tak nyaman melintasi di trotoar.

Yang dipersoalkan Ahok adalah rusaknya jalan akibat adanya proyek gali lobang tutup lobang di jalanan untuk fasilitas utilitas. Mestinya, yang dicari bukan siapa si kambing hitam, melainkan apa akar masalah hingga menyebabkan perusahaan melakukan hal demikian.

Selama ini, pemerintah daerah (pemda), termasuk Pemprov DKI Jakarta tak menyediakan sarana bersama untuk mereka. Di situlah salah satu akar persoalannya. Karena itu diperlukan koordinasi antara pemda dan jajarannya, dengan perusahaan penyedia jasa dan infrastruktur.

Karenanya, yang semestinya dilakukan Ahok adalah menyusun rencana pembangunan sarana dan jaringan utilitas secara menyeluruh agar tak terjadi lagi gali lobang tutup lobang. Dia harus mampu meyakinkan pihak legislatif, yaitu DPRD DKI Jakarta, bahwa pembangunan sarana utilitas bersama itu merupakan kebutuhan yang mendesak.

Manfaatnya, selain jalanan tak lagi compang-camping, juga diyakini mampu menjadi sarana yang ampuh untuk mengurangi banjir. Karena, saluran itu diharapkan mampu menampung semua jenis utilitas yang ada. Belum ada kata terlambat jika memang masalah itu ingin diselesaikan dengan cara yang sebaik-baiknya. Para operator penyelenggara jaringan utilitas dipastikan setuju dengan rencana itu, yaitu pembuatan fasilitas bersama utilitias. []