Jaringan Utilitas Jangan Ganggu Kepentingan Umum

Wakil Presiden PT Palyja Herawati Prasetyo

Jaringan Utilitas Jangan Ganggu Kepentingan Umum

Di antara perusahaan penyedia sarana utilitas adalah Perusahaan Daerah Air Minum DKI Jakarta (PAM Jaya). Namun kegiatan operasionalnya diserahkan kepada dua operator mitranya, yaitu PT Pam Lyonnaise Jaya (Palyja) untuk wilayah bagian barat dan PT Aetra Air Jakarta di wilayah timur. Wilayah kerja keduanya dibatasi oleh Kali Ciliwung.

Sebagai perusahaan menyedia sarana utilitas, Palyja pun merasa bertanggung jawab agar jaringan utilitas yang dikelolanya tidak mengganggu kepentingan dan ketertiban umum. “Kami ini kan perusahaan yang menyediakan sarana umum bagi masyarakat, karena itu kami jaga jangan sampai justru mengganggu kepentingan umum,” kata Wakil Presiden PT Palyja Herawati Prasetyo, saat dihubungi Neraca belum lama ini.

Karena itu, kata Hera, jika pihaknya ingin mengganti atau memperbaiki pipa yang bocor yang ada di bawah tanah, sedapat mungkin masyarakat tidak terganggu. Di antara caranya, pekerjaan dilakukan pada tengah malam agar tak membuat jalanan macet dan mengganggu lalu lintas.

Menanggapi keluhan Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama tentang rusaknya jalanan akibat seringnya jalan digali, Hera pun berharap agar persoalan itu dibicarakan atau dirapatkan bersama antara pemda dengan seluruh perusahaan penyedia sarana utilitas.

Jangan sampai terjadi, jalan yang sudah selesai digali dan ditutup rapi, tak lama kemudian digali lagi oleh perusahaan penyelenggara utilitas yang lain. Menurut Hera yang juga menjadi salah seorang direktur di Astratel Nusantara, selama ini, pihaknya selalu mengikuti apa yang menjadi ketentuan Pemprov DKI. “Kami memang harus bekerja dan bertindak sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tuturnya.

Sementara itu, Head of Responsibility and Corporate Communication Palyja Meyritha Maryadi menambahkan, selama ini, setiap kegiatan penggalian badan jalan untuk memasang pipa baru atau memperbaiki pipa yang bocor selalu minta izin ke Dinas Pekerjaan Umum. “Kami selama ini selalu mengajukan izin ke PU, jadi kmi selalu berkoordinasi setiap akan melaksanakan proyek utilitas Palyja,” kata Meyritha.

Menurut dia, selama ini, pekerjaan penggalian jaringan pipa air bersih dilakukan oleh pihak ketiga, yaitu kontraktor. Kendati demikian, kata dia, pihak Palyja juga terus mengontrol pekerjaan yang dilakukan oleh pihak kontraktor. “Sebab, kalau tidak dikontrol, dan ternyaa ada yang tidak beres, pasti yang disalahkan adalah Palyja,” kata dia.

Sebaliknya, kata dia, tak jarang justru jaringan pipa air minum yang dikelolanya rusak, bocor, bahkan jebol karena ada proyek penggalian oleh perusahaan penyedia utilitas lainnya. Jika demikian, mau tak mau pihaknya harus memperbaikinya dan harus melakukan penggalian lagi.

Sebagai catatan, saat ini, Palyja berhasil menjual 159,8 juta m3 air bersih. Hingga saat ini, tingkat kebocoran airnya masih sebesar 37,9%. Jumlah jaringan pipana mencapai 5.000 km. Sedangkan panjang pipa yang sudah diganti atau diperbaiki mencapai 3.000 km. (saksono)

Related posts