Harga Bank Mutiara "Pantasnya" Rp3 Triliun

Kamis, 06/02/2014

NERACA

Jakarta - Telah dua bulan Bank Mutiara dikucuri kembali modal sebesar Rp1.2 triliun oleh Lembaga penjamin simpanan (LPS). Namun pengucuran modal tersebut membuat harga ex Bank Century itu terbilang tinggi yakni nyaris Rp 8 triliun.

Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasentiantono menilai harga tersebut terlalu mahal. Dia justru menyarankan kepada LPS untuk menurunkan harga jual Bank Mutiara menjadi nilai tepat guna yakni Rp 3 triliun.

Menurut dia, berdasarkan perhitungan price to book value, Bank Mutiara saat ini berada di kisaran Rp 1 triliun hingga Rp 1.5 triliun. Selain itu, tambah dia perhitungan kelayakan harga Bank Mutiara dinilai dari price to book value (PBV) perbankan ada di nilai Rp 3,25 triliun. "Ini adalah perkalian antara nilai buku, nilai buku yang dimiliki mungkin Rp 1 triliun jadi dengan kata lain tiga kali Rp 1 triliun maka harganya sekitar Rp 3 triliun," ujarnya di Jakarta, Rabu (5/2).

Selain itu, Tony sangat yakin jika Bank Mutiara dijual dengan harga Rp 3 triliun akan ada investor yang berminat. " Tapi saya rasa jangan dijual tahun ini, Kalau harganya Rp 3 triliun pasti ada investor yang mau beli," ungkap dia.

Sebelumnya, LPS menegaskan akan membuka pengumuman penawaran penjualan Bank Mutiara paling lambat Maret 2014. Penjualan ini dilakukan setelah proses penghitungan harga jual selesai dilakukan.

Sekretaris LPS, Samsu Adi Nugroho menjelaskan, Bank Mutiara masih terus berupaya untuk memperbaiki kinerja keuangannya, salah satunya adalah dengan penambahan modal itu. “Saat ini Mutiara sudah sehat dan sudah memenuhi aturan permodalan Bank Indonesia (BI) sekarang tinggal melakukan pembenahan pada debitur macetnya saja,” kata Samsu di Jakarta, akhir pekan lalu. Samsu juga menjelaskan, LPS menargetkan proses penjualan bisa selesai pada triwulan satu tahun 2014 ini.

Diakui Samsu suntikan modal ke Bank Mutiara salah satunya juga karena persoalan kredit macet atau Non Performing loan (NPL). Namun hal tersebut bukan menjadi alasan utama. Posisi CAR tersebut sesuai dengan ketentuan dalam ICAAP (Internal Capital Adequacy Assessment Process). Langkah LPS tersebut sudah sesuai dengan kewenangan dan ketentuan UU Perbankan dan UU LPS. Selain itu, tambahan modal ini murni aktivitas bisnis

Sementara itu, Ketua Pusat kajian anti pencucian uang (Pukau) Yunus Husein menjelaskan, sebaiknya para politisi tidak “menggoyang” bank Mutiara terus. “Iya kalau digoyang terus tidak baik, selain itu asetnya juga harus terus bertambah, kalau asetnya meningkat lalu keuntungannya cukup besar itu bisa membuat investor tertarik,” kata Yunus di Jakarta.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sumber dana yang baik, kredit yang bagus juga menjadi salah satu syarat penarik minat investor. “Untuk kesehatan bank itu ada ukurannya misalnya risiko, keuntungan bank, Good corporate governance (GCG) terakhir modal, kalau mereka mau bagus ya harus dibenahi itu semuanya,” ujarnya.

Sebelumnya, LPS mengucurkan modal ke Bank Mutiara sebesar RP 1,249 triliun melalui transfer dana ke rekening Bank Mutiara di BI. Dalam hal ini, LPS telah melaksanakan seluruh proses penambahan modal yang diperlukan, seperti menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada tanggal 23 Desember 2013 dalam rangka menambahkan modal. [sylke]