Pemerintah Mengaku Penyerapan Anggaran 2013 Lebih Baik

NERACA

Jakarta - Kementerian Keuangan mengklaim jika konsumsi Pemerintah yang membaik menjelang akhir tahun 2013 ikut mendukung kinerja perekonomian Indonesia pada 2013 yang tercatat tumbuh sebesar 5,78%. "Pengeluaran Pemerintah tinggi karena penyerapannya relatif lebih baik, uang Pemerintah efektif untuk membangun," kata Menteri Keuangan, Chatib Basri, di Jakarta, Rabu (5/2).

Lebih jauh dia mengharapkan kinerja penyerapan anggaran yang membaik tersebut dapat diikuti dengan peningkatan penerimaan pajak, karena hal tersebut merupakan pertanda bahwa perekonomian nasional dalam kondisi stabil. "Kalau itu terjadi mesti berhati-hati dari segi pajaknya, karena pengeluaran membaik, pajaknya juga harus dijamin baik, kalau tidak defisitnya bisa membesar," papar dia.

Selain itu, Chatib mengatakan penurunan kinerja investasi pada 2013, merupakan pertanda bahwa kebijakan Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) untuk memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit), berlaku dengan efektif. "Realisasi PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) turun hampir separuh, ini karena permintaan lebih lambat. Kebijakan BI telah didesain agar investasi `drop` supaya `current account’ turun terus," katanya.

Menurut Chatib, pengeluaran perekonomian Indonesia 2013 didukung oleh komponen ekspor yang tumbuh 5,3%, konsumsi rumah tangga 5,28%, konsumsi pemerintah 4,87%, pembentukan modal tetap bruto 4,71% dan impor 1,21%. "Ekspor membaik, karena pengaruh kebijakan pemerintah yang efektif dan pelemahan nilai tukar,” ungkap Chatib.

Adapun pembentukan modal tetap bruto menurun, karena ada penurunan impor barang modal seperti mesin, yang dibutuhkan untuk produksi, dan hal tersebut mempengaruhi investasi. Untuk struktur PDB 2013, masih didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 55,82%, PMTB 31,66%, ekspor 23,74%, impor 25,74% dan konsumsi pemerintah 9,12%. Namun begitu, angka 5,78% ini lebih rendah dari asumsi dalam APBN-Perubahan sebesar 6,3%.

Tiga tahun meningkat

Di tempat terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pendapatan rata-rata penduduk Indonesia berdasarkan produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai Rp36,5 juta per kapita pada 2013. Kepala BPS, Suryamin mengungkapkan, peningkatannya sebesar 8,88% dibanding 2012 yang mencapai Rp33,5 juta per kapita. "Tiga tahun berturut-turut meningkat," ungkapnya.

Jika dibandingkan dengan inflasi pada 2013 sebesar 8,38%, pendapatan masyarakat meningkat sekitar lima persen. "Itu sudah memperhitungkan kegiatan kita di luar dan dalam," tambahnya. Berdasarkan pulau, Jawa masih menyumbang PDB terbesar, yaitu sebesar 57,99%. Sumbangan tersebut akumulasi PDB tiga provinsi di Jawa. "Sumbangan Jawa meningkat dari 57,65% pada 2012," terang Suryamin.

Sementara itu, sumbangan pulau-pulau lain, yaitu Sumatera, meningkat sebesar 23,81% dari 23,74% pada 2012. Kalimantan menyumbang 9,3% atau meningkat dari 8,67% tahun lalu. Untuk Pulau Sulawesi, sumbangan pertumbuhan meningkat dari 4,74% pada 2012 menjadi 4,82% tahun lalu. Selain itu, provinsi lainnya menyumbang 4,71%, Maluku dan Papua sebesar 2,43%.

Suryamin juga memaparkan, pada 2013, provinsi yang pertumbuhan ekonomi di atas nasional, yaitu Papua yang tumbuh paling tinggi sebesar 14,84%. Posisi selanjutnya adalah Sulawesi Tenggara 9,38% dan Papua Barat sebesar 9,3%. Provinsi lain antara lain, Sumatera Utara 6,61%, Sumatera Barat 6,18%, Kepulauan Riau 6,13%, Jambi 7,88%, Sumatera Selatan 5,98%, dan DKI Jakarta 6,11%.

Suryamin melanjutkan, pertumbuhan ekonomi paling rendah adalah Kalimantan Timur sebesar 1,59%, Riau 2,61%, dan Aceh yang hanya 4,18%. Kemudian, Bangka Belitung 5,29%, Yogyakarta 5,4%, Nusa Tenggara Barat 5,69%, Nusa Tenggara Timur 5,56%, Kalimantan Selatan 5,18%, dan Maluku 5,14%. [lulus]

BERITA TERKAIT

PNM Dorong UKM Lebih Inovatif dan Kreatif

PNM Dorong UKM Lebih Inovatif dan Kreatif NERACA Jambi - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melakukan pendampingan terhadap pelaku Usaha…

KONDISI 2018 LEBIH BURUK DIBANDINGKAN SURPLUS 2017 - BPS: Neraca Perdagangan Indonesia Defisit US$8,57 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan neraca perdagangan Indonesia (NPI) mengalami defisit hingga US$8,57 miliar sepanjang Januari-Desember 2018. Angka defisit ini…

Waspadai Upaya KKB Ganggu Kinerja Pemerintah di Papua

  Oleh:  Aditya Pratama, Mahasiswa Universitas Indonesia Keberadaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) diperkirakan akan menjadi  penghambat bagi pembangunan di wilayah…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

LPS Perkirakan BI Tahan Suku Bunga Di Awal 2019

NERACA Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate pada awal 2019 ini…

Regulator Terapkan Perhitungan Risiko Pasar Basel III Terbaru

  NERACA Jakarta - Regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghadiri pertemuan para Gubernur Bank Sentral dan Pimpinan Otoritas Pengawas Sektor…

Sejumlah Perusahaan Jasa Keuangan Manfaatkan NIK - Gandeng Kemendagri

  NERACA Jakarta - Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)…