Pertumbuhan Ekonomi Capai 5,78% di 2013

Konsumsi Mendominasi

Kamis, 06/02/2014

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2013 sebesar 5,78%. Angka ini lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi 2012 yang mencapai 6,23% dan pada 2011 sebesar 6,5%. Bahkan diprediksi pertumbuhan tahun ini masih didominasi sektor konsumsi domestik yang masih mengandalkan bantuan sosial.

“Pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia tahun 2013 mampu mencapai 5,78%. Konsumsi masyarakat masih menjadi mesin pertumbuhan utama ekonomi Indonesia dengan berkontribusi sebesar 5,28%. Kemudian disusul konsumsi pemerintah 4,8%, investasi 4,71%, ekspor 5,3%, dan impor 1,2%,” kata Kepala BPS, Suryamin, di Jakarta, Rabu (5/2).

Dia menjelaskan konsumsi masyarakat masih tumbuh stabil lantaran terbantu oleh penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung. Pasalnya, pada tahun 2013 kemarin terdapat lebih dari 190 pilkada. Dan jumlah penyelenggaraan itu lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

"Dari penyelenggaraan Pilkada masyarakat kan dapat kaos dan dapat nasi bungkus. Dalam penghitungan PDB itu juga harus dihitung. Pendapatan itu kita hitung dan dikeluarkan sebagai skema konsumsi," tambah Suryamin.

Kemudian Suryamin menjelaskan pertumbuhan konsumsi masyarakat pada tahun 2013 juga di dorong oleh kelancaran program sosial yang dicanangkan pemerintah pada akhir tahun.” Di antaranya penyaluran raskin (beras miskin), BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) dan pembangunan infrastruktur desa. Jadi program bansun tahun kemarin juga sangat berperan," tukasnya.

Selain itu Suryamin menerangkan juga terdapat tiga sektor usaha yang turut mendorong pertumbuhan tahun kemarin. Industri pengolahan menyumbang 1,42%. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyumbang 1,07%. Serta sektor pengangkutan dan komunikasi menyumbang 1,03 %.

“Laju pertumbuhan industri pengolahan sepanjang 2013 memang mencapai 5,56% dengan nilai sebesar Rp707,5 triliun. Sementara itu, laju pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran mencapai 5,93% dengan nilai mencapai Rp501,2 triliun. Jadi saya kira laju pertumbuhan industri tahun kemarin juga cukup baik,” terangnya.

Dampak banjir

Pada kesempatan yang sama Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Suhariyanto, mengingatkan pemerintah terhadap ancaman banjir berkepanjangan akan memukul perekonomian Indonesia pada kuartal pertama tahun ini. Pemerintah harus memastikan distribusi bahan pangan tidak terganggu karena banjir.

Dia menjelaskan, tidak hanya ancaman inflasi tinggi pada bahan pangan, tetapi juga akan berdampak pada penurunan kinerja sektor pengangkutan yang menjadi salah satu penopang ekonomi Indonesia. "Ketika sektor pengangkutan kena banjir, maka akan setop di sana. Akibatnya, distribusi barang tidak lancar dan harga akan naik. Semua harga, mulai dari makanan dan yang lain," ujarnya.

Dia mengungkapkan, dibandingkan dengan tahun lalu, musibah banjir kali ini diperkirakan berdampak besar terhadap perekonomian. Selain jangka waktunya lebih lama, musibah tersebut menyebar hampir ke seluruh penjuru Indonesia. "Kalau kami lihat banjir Jakarta, kerugian ekonomi bisa terjadi," tambahnya.

Meski demikian, menurut dia, pengaruh musibah banjir tahunan yang terjadi di Indonesia tidak terlalu signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dia menjelaskan, banjir tidak separah di Bangladesh yang musibah secara masif terus terjadi. Bahkan, karena sangat mengkhawatirkan, menjadi salah satu indikator ekonomi negara tersebut. [lulus]