Timah Investasikan Dana US$ 18 Juta

Garap Lahan di Myanmar

Kamis, 06/02/2014

NERACA

Jakarta – Tak hanya menggarap lahan di Indonesia, PT Timah Tbk (TINS) tampaknya serius untuk mengeksplorasi areal pertambangan di Myanmar dan menyiapkan dana investasi sebesar US$18 juta,“Proses izin konsesi sudah diselesaikan, jadi tinggal menunggu izin eksplorasi saat ini. Kami sudah dapat izin dari Kementerian pertanian, Kehutanan, dan situs budaya di Myanmar. Dengan demikian, kami targetkan pada bulan Februari nanti bisa melakukan eksplorasi,”kata Direktur Utama PT Timah Tbk Sukrisno di Jakarta, Rabu (5/2).

Perseroan menargetkan untuk memulai eksplorasi areal pertambangan di Myanmar pada akhir kuartal pertama tahun ini. Namun, pihaknya mengaku telah memproses perizininan dengan baik, sehingga perseroan ditargetkan siap melakukan eksplorasi pada bulan Februari 2014.

Manajemen juga mengaku siap untuk menggarap wilayah kerja pertambangan (WKP) PT Koba Tin di Bangka Belitung. Perseroan membentuk perusahaan patungan (Joint Venture) bersama tiga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yakni BUMD Bangka Belitung, Bangka Tengah dan Bangka Selatan yang diberi nama PT Timah Babel Beban,”Dalam kerjasama tersebut tersebut, kami akan menjadi pemegang saham mayoritas. Entah kami nanti menguasai 51% saham ataupun sebesar 60%”, katanya.

Namun, pihaknya saat ini masih menanti persetujuan dari Dewan Perwakilan Daerah (DPR) untuk memperoleh Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) terkait pengelolaan lahan tambang eks PT Koba Tin tersebut. Karena memang membutuhkan izin dari DPR untuk memperoleh IUPK lahan bekas Koba Tin tersebut.

Pembentukan perusahaan Joint Venture ini sendiri menyusul keputusan pemerintah yang tidak memperpanjang kontrak Koba Tin sekaligus menyerahkan pengelolaannya kepada ke konsorsium BUMN dan BUMD. Perseroan memproyeksikan akhir bulan Februari ini selesai sehingga dapat cepat menggarap lahan tersebut,”Jika izin tersebut sudah berhasil diperoleh, maka kami akan segera melanjutkan tahapan berikutnya seperti validasi cadangan timah serta perekrutan tenaga teknis untuk melakukan penambangan timah di lokasi tersebut”, jelasnya.

Perseroan sendiri memroyeksikan tahun 2015 blok tersebut sudah dapat berkontribusi terhadap pendapatan perseroan. Diketahui, Koba Tin sendiri telah melakukan eksploitasi bijih timah di Indonesia sejak tahun 1972. Melalui Kontrak Karya, Koba Tin diberikan hak eksploitasi selama 30 tahun. Kontrak itu telah diperpanjang selama 10 tahun yang berakhir pada 31 Maret 2013 dengan luas wilayah mencapai 413.000 hektar yang terletak di kabupaten Bangka Tengah dan kabupaten Bangka Selatan.

Sementara itu, hingga Desember 2013 perseroan telah menghabiskan biaya sebesar Rp177,64 miliar. Biaya tersebut digunakan untuk operasional dan investasi selama perseroan melakukan eksplorasi, baik di darat maupun di laut. Adapun wilayah kegiatan eksplorasi TINS berada di tiga daerah, yakni daerah Kundur, Bangka, dan Belitung.

Sepanjang Desember 2013, perseroan berhasil mendapatkan penemuan sumber daya sebesar 17.598 ton inferred-Primer dan 988 ton measured-Aluvial dari eksplorasi di darat. Sedangkan dari eksplorasi di laut perseroan mendapatkan temuan sumber daya 13.920 ton untuk inferred, 11.846 ton indicated dan 15.325 ton measured.

(nurul)