Curah Hujan Tinggi, Adaro Targetkan Produksi 56 Juta Ton

Kamis, 06/02/2014

NERACA

Jakarta- Perusahaan tambang, PT Adaro Energy Tbk menargetkan dapat mencapai volume produksi sebesar 54-56 juta ton pada tahun ini dengan nisbah kupas yang direncanakan 5,78 kali. Tercatat, volume produksi batubara sepanjang tahun 2013 sebesar 52,27 juta ton yang dinilai menjadi rekor tertinggi perseroan. “Produksi tercapai pada sisi atas dari rentang panduan produksi untuk tahun 2013 yang telah ditetapkan sebesar 50 - 53 Mt.” kata Head of Investor Relation and Corporate Secretary PT Adaro Energy Tbk, Cameron Tough dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (5/2).

Menurut dia, volume produksi untuk kuartal keempat 2013 mencapai 13,59 Mt, dan dapat memenuhi kenaikan permintaan, terutama dari Cina. Adapun nisbah kupas aktual pada periode ini mencapai 5,28x atau 10% lebih rendah secara quarter over quarter dan 9% lebih rendah secara year on year.

Dari total volume produksi tersebut, pihak manajemen mencatat tambang Paringin dan Wara naik 10% quarter-over-quarter (q-o-q), sementara produksi dari tambang Tutupan mengalami penurunan sebesar 5% q-o-q, atau sejalan dengan campuran produk yang direncanakan untuk tonase kontrak pada tahun 2013. Adapun tambang Paringin memproduksi 1,69 Mt, naik 635% secara year on year hingga mencapai 5,74 Mt atau telah mengalami peningkatan lima kali lipat lebih dari tahun 2012,”Adaro mencapai rekor tertinggi volume penjualan kuartalan sebesar 14,36 Mt atau mencerminkan kenaikan 2% q-o-q dan kenaikan 3% y-o-y.” jelasnya.

Naiknya harga domestik Cina, kata dia, merupakan faktor penting di pasar batubara Pasifik pada kuartal keempat 2013. Harga batubara kategori 5500 NAR, 5000 NAR, dan 4500 NAR masing-masing naik 5%, 12% dan 13% q-o-q. Selain dari permintaan yang tinggi akibat persediaan untuk musim dingin, harga domestik Cina didorong oleh penetapan harga berkala antara produsen batubara Cina dan perusahaan listrik utama.

Sebagai bagian dari strategi untuk mengoptimalkan portofolio produk dan memenuhi permintaan pelanggan, pada kuartal ini perseroan juga telah memperkenalkan produk baru bernama E4900, yang telah mendapatkan sambutan baik di Cina, Spanyol, Hong Kong, India maupun di Indonesia sendiri. Rencananya, Adaro akan mulai menghentikan penjualan E4700 pada tahun 2014.

Lebih lanjut dia, mengatakan, dengan kenaikan volume produksi yang ditargetkan bisa mencapai 54-56 juta ton, laba bersih sebelum bunga, pajak dan beban penyusutan (EBITDA) pada 2014 ditargetkan dapat mencapai US$750 juta sampai US$1 miliar. “Pada tahun 2014, Adaro berfokus untuk mempertahankan kehandalan pasokan bagi pelanggan, melanjutkan peningkatan efisiensi operasional dan menjaga neraca yang kokoh.” ucapnya.

Selain itu, sambung dia, pihaknya juga akan terus meningkatkan proses bisnis dan mengurangi biaya dengan meningkatkan kerja sama dengan para kontraktor untuk operasi yang efektif, efisien, dan aman. Adaro Indonesia misalnya, telah menegosiasikan kembali tarif kontrak penambangan untuk mendapatkan tarif yang lebih kompetitif. “Adaro berencana untuk memulai operasi komersial dari proyek-proyek infrastruktur supaya dapat semakin meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya pada tahun 2014.” jelasnya.

Sementara untuk mendukung kinerja di tahun ini, menurut dia, perseroan menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) yang lebih besar dibandingkan tahun lalu, yaitu sekitar US$200 juta sampai US$250 juta. Dana modal belanja ini antara lain untuk meningkatkan produksi batu bara sepanjang 2014 dan untuk menyelesaikan beberapa proyek yang sedang berjalan seperti konstruksi jalur pengangkutan dan jembatan, serta menyelesaikan kontrak pembersihan lahan, pekerjaan tanah dan pekerjaan awal untuk permukaan tanah. (lia)