Mempertanyakan Keseriusan Merger BUMN Farmasi

Ditunda Karena Kinerja Negatif

Kamis, 06/02/2014

NERACA

Jakarta – Rencana penggabungan (merger) PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF) kembali menguak ke public. Namun kabarnya masih sama, belum bisa terlaksana lantaran soal kinerja keuangan yang terkoreksi. Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, belum dapat terlaksana segera merger BUMN Farmasi mungkin akibat kinerja INAF yang masih tertekan di tahun 2013. Padahal, unutk merealisasikan merger kedua perusahaan farmasi plat merah ini, harus memiliki performa yang seimbang, sama-sama kuat.

Menurut dia, proses pengabungan PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk masih terus dikaji oleh tim Kementerian BUMN,”Kami tengah mengkaji, ada ukuran kedua perusahaan sama-sama seimbang. Indofarma sekarang sulit tidak, maju pesat juga tidak”, katanya di Jakarta, kemarin.

Sementara mengenai target penggabungan keduanya, dia belum bisa memastikan kapan merger tersebut dilakukan karena masih dalam proses kajian. “Sebab masih membutuhkan waktu yang lama karena kinerja Indofarma masih tertekan pada tahun lalu. Yang pasti minggu depan belum dapat direalisasikan”, ujarnya.

Sebelumnya Direktur Keuangan PT Kimia Farma Tbk Arief Budiman mengatakan, semua direksi Kimia Farma mendukung rencana pengabungan BUMN farmasi. Menurut dia, berdasarkan surat Kementerian Kordinator Perekonomian tahun 2012, sudah diputuskan bahwa Indo Farma diserahkan ke Kimia Farma atau menjadi anak usaha Kimia Farma,”Kita, pada September (2012) sudah kasih bahan kajian ke pemegang saham (Kementerian BUMN), kita tidak bisa lakukan sendiri aksi korporasi ini”, ungkapnya.

Pihak INAF sendiri menyambut baik rencana pemerintah untuk menggabungkan perusahaannya dengan KAEF. Diperkirakan kinerja kedua emiten ini akan menjadi lebih efisien dan efektif kedepannya,”Jika Indofarma dan Kimia Farma dapat melebur, kami memperkirakan akan bisa menjadi lebih efisien dan efektif nantinya. Saya menyambut baik rencana itu, tapi tetap tergantung kepada pemegang saham kami”, ungkapnya.

Namun, rencana pemerintah tersebut belum bisa terealisasi hingga saat ini. Diakui dia, rencana pemerintah menggabungkan keduanya dan membentuk holding. Lamanya kesepakatan itu, karena kedua perusahaan ini adalah milik negara,”Penyatuan juga kan harus mendapat persetujuan Kementerian Keuangan dan Legislatif. Jadi banyak yang punya, termasuk masyarakat Indonesia, memang agak sulit mencapai kesepakatan”, katanya.

Menurut dia, sebagai pemegang saham, Kementerian BUMN tetap terus membahas pembentukan holding BUMN farmasi, dan pihak Indofarma juga telah siap menerima semua keputusan dari pemegang saham. Diharapkan nantinya dalam berproduksi dan ketika melakukan riset bisa dilakukan secara bersama,”Yang terpenting sesusai dengan bisnisnya masing-masing. Indofarma lebih besar untuk industrinya dan nantinya Kimia Farma bisa dalam distribusinya atau kliniknya”, katanya.

Tercatat laba bersih PT Kimia Farma hingga kuartal tiga 2013 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya diperiode yang sama menjadi Rp121,45 miliar dari Rp148,13 miliar. Total aset perseroan hingga Juni 2013 mencapai Rp2,14 triliun. Sedangkan, PT Indofarma mencatat kerugian hingga Rp61,17 miliar yang dikarenakan beban pokok penjualan yang membengkak jadi Rp447,05 miliar dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Total aset Indofarma hingga September 2013 mencapai Rp1,27 triliun. (nurul)