Bencana yang Membentuk Karakter

Oleh: Jadi Pane, S.Pd, Mantan Sekretaris Umum DPD GAMKI Provinsi Sumut

Kamis, 06/02/2014

Sebuah pertanyaan yang sangat pahit patut untuk kita jawab, sanggupkah kita dan mampukah kita bersyukur atau mengucap syukur ditengah penderitaan kita karena berbagai bencana yang terjadi di negeri ini? Saat ini saudara kita di sekitar Gunung Sinabung sedang bergumul selama empat bulan karena erupsi yang terus mengganggu. Belum lagi banjir di Manado, Jakarta, dan ancaman berbagai bencana di daerah yang lain.

Kembali kepada pertanyaan tadi, mampukah kita mengucap syukur di tengah ancaman bencana yang secara fisik melahirkan penderitaan yang sangat dalam bagi kita semua? Kita manusia yang penuh dengan keterbatasan, kekurangan, dan yang paling menonjol tentu sifat kemanusiaan kita dengan penuh kedagingan.

Namanya penderitaan pasti selalu dihindari. Secara kodrati manusia ingin hidup senang dan tentu tidak mau jatuh dalam berbagai penderitaan. Tetapi manusia bisa bercita-cita setinggi apa saja. Kenyataan hidup harus kita hadapi. Realitas yang kita hadapi kadang tidak sesuai dengan ekspektasi kita sendiri. Kita menginginkan X, tetapi yang datang Y. Kita bercita-cita jadi dokter, tetapi menjadi seorang politikus misalnya. Jalan hidup tidak selalu mulus dan sesuai harapan.

Masalahnya, ketika sesuatu tidak sesuai dengan keinginan dan ekpektasi kita, apakah kita harus bersungut-sungut, marah, menumpahkan kekecewaan dengan berbagai cara, termasuk hiburan malam, minuman keras, atau perilaku yang bersifat destruktif lainnya? Pertanyannya, kalaulah itu kita lakukan dan jalani, apakah akan memberikan solusi berkelanjutan atau jangka panjang dan melahirkan sebuah kebahagiaan? Saya menjamin yang datang adalah penderitaan lanjutan yang bisa membuat kita makin susah.

Untuk itu, mengucap syukur dalam segala hal adalah sesuatu yang bijak. Saya yakin Tuhan tidak pernah membebani manusia dengan beban yang tidak bisa ditanggungnya. Tuhan menciptakan manusia dengan emosi, rasio, nurani, dan jiwa yang semuanya kalau dikelola dengan baik akan mampu mengelola segala bentuk tantangan hidup. Tinggal lagi, mengapa kita harus larut dalam kesedihan yang tidak akan mendatangkan jalan keluar?

Kembali kepada topik mengucap syukur, ini adalah hal yang harus dilakukan oleh siapa saja yang kena dampak bencana. Bencana mengingatkan kita akan keterbatasan dan kelemahan kita. Bencana kembali menghadirkan ingatan secara kolektif bahwa kita manusia yang penuh keterbatasan. Tidak ada rasanya menyombongkan diri tatkala bencana mengatakan kepada kita bahwa manusia mahluk yang sangat lemah. Kalau kita sudah menyadari apa yang jadi keterbatasan kita, kepada siapa lagi kita mangadukan apa yang menjadi penderitaan kita bersama? Jawabnya tentu kepada sang Khalik pencipta. Dialah yang menciptakan kita sedemikian rupa.

Saya sangat yakin tidak ada rencana Tuhan yang tidak indah bagi manusia. Semua direncanakan dengan baik. sebagai ciptaaNya, kita didesai sangat sempurna dan dibekali dengan segala hal, termasuk bumi ini dengan segala isinya untuk memenuhi kebutuhan hidup kita semua. Hanya saja tangan-tangan serakah yang mengotori bumi ini seringkali mendatangkan malapetaka.

Dimana-mana hutan dibabat habis. Dimana-mana tambang dibuka tanpa peduli keseimbangan alam. Dimana-mana indsutri dibangun tanpa memperhatikan dampak lingkungan. Semua mereka memberikan alasan demi pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi jadi alasan untuk merusak lingkungan. Sementara yang merusak lingkungan hanya sedikit jumlahnya, dampkanya jutaan yang merasakan. Hukum lingkungan yang harusnya tegak, tegas, dan harus dipatuhi oleh semua orang seringkali tidak jalan.

Setelah bencana dalam bentuk ancaman banjir datang, semua saling menyalahkan dengan berbagai alasan yang mengada-ngada. Bagaimana kita mampu berdamai dengan lingkungan dengan prinsip lingkungan adalah milik saya, kita dan akan jadi milik keturunan kita kedepannya. Sudahkan sikap peduli lingkungan, ramah lingkungan, sadar lingkungan sudah tertanam dalam benak warga negara Indonesia? Kalau boleh saya menjawab dengan jujur masih jauh dari harapan.

Dimana-mana orang begitu gampang membuang puntung rokok tanpa merasa bersalah. Dimana-mana sampah bertebaran tanpa ada yang peduli. Dimana-mana AMDAL pabrik direkayasa demi keuntungan sesaat. Setelah banjir tiba, semua saling menyakahkan. Bahkan Tuhan kadang dipersalahkan. Tetapi Tuhan maha baik dan selalu memberi kita kesempatan untuk berubah karena dia tidak ingin mahluk ciptaaNya binasa.

Kembali kepada bencana yang membangun karakter, tidak bisa kita pungkiri bencana yang terjadi telah mengingatkan kita betapa pentingnya arti persaudaraan. Betapa bencana menyadarkan kita bahwa kita rupanya saudara. Doa, bantuan pakaian, uang, dan berbagai bentuk lainnya silih datang berganti tanpa peduli latar belakang, suku, dan tempat tinggal. Yang mereka tahu, saudara kita di Gunung Sinabung sedang terkena bencana. Bantuan dari berbagai penjuru pun datang. Sungguh bencana membuat kita semakin menyadari betapa kita semua saudara yang harus bersatu menanggung penderitaan sesama.

Bagi saya makna terdalam sila Pancasila yang ketiga dengan kalimat persatu Indonesia adalah bersatu menolong orang lain, bersatu menanggung penderitaan sesama, bersatu untuk menangis bersama, bersatu mengurangi beban orang lain. Inilah makna terdalam sila persatuan Indonesia dalam Pancasila. Dan yang lebih penting lagi adalah, bersatu untuk tidak korupsi.

Setelah bencana mengingatkan kita akan pentingnya nilai persaudaraan dan sikap peduli, bencana juga mengingatkan kita untuk menjadi manusia yang tangguh, tidak gampang menyerah, punya karakter yang kuat. Bencana ini telah membentuk sikap kita untuk sabar, tenang, dan mampu bertahan dalam bentuk penderitaan.

Masyarakat Jepang sudah terbiasa dengan bencana. Bagi mereka bencana itu iabart sahabat dan setiap bencana mereka punya karakter yang sangat kuat dalam menghadapi bencana. Karakter terbangun melalui bencana.

Bencana juga mengingatkan kita akan kelemahan kita dihadapan Tuhan. Kita harus kembali kepada ajaranNya karena Tuhanlah pemilik kehidupan. Mari mengucapkan syukur akan bencana karena kita akan mengatakan kepada Tuhan dengan satu kalimat saja, “sekalipun bumi ini ditelan lautan, satu hal yang saya minta Tuhan saya tidak akan mundur dari ajaranMu dan jangan pernah meninggalkan aku sendirian.

Saya yakin Tuhan sedang merencanakan sebuah skenario yang sangat indah dan manis dibalik penderitaan kita karena bencana. Namanya manusia, saya, anda, siapa saja tidak menginginkan bencana datang. Tetapi itulah realitas hidup yang kita hadapi. Bencana yang datang semoga segera berakhir dan melahirkan sebuah rekonstruksi yang lebih hebat lagi demi terciptanya kualitas hidup yang lebih baik dari hari ini.

Bencana akan membentuk, bahkan membangun karakter yang kuat karena bencana akan mengajari kita arti peduli, tabah, kuat, rendah hati, dan kembali kepada Tuhan pencipta alam. Sekalipun bencana itu tidak kita inginkan, tetapi kita harus menghadapinya. Lebih bagus bersyukur kepada Tuhan daripada kita mengutuk, marah, kesal yang tidak mendatangkan apa-apa.

Semoga dibalik bencana ini ada rencana lain yang lebih indah untuk kita semua. Bagi saudara kita yang terkena bencana semoga tetap tabah dan kuat menghadapinya dan suatu saat Tuhan akan menjawab apa makna dibalik semua ini dan rencana itu adalah rekonstruksi yang membangun demi sebuah tatanan kehidupan yang lebih baik. (analisadaily.com)