BI Yakin Defisit Transaksi Berjalan Berkurang

Neraca Perdagangan Surplus

Rabu, 05/02/2014

NERACA

Jakarta - Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Indonesia, Hendy Sulistyowati, optimistis bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$1,52 miliar pada Desember 2013 akan membantu memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit) pada triwulan IV-2013. "Dengan trade balance yang sangat bagus kami yakin bisa membantu perbaikan defisit transaksi berjalan," katanya di Jakarta, Selasa (4/2).

Surplus neraca perdagangan Indonesia memang meningkat cukup besar dari US$0,79 miliar pada November 2013 menjadi US$1,52 miliar pada Desember 2013. Surplus tersebut juga tercatat lebih tinggi dari perkiraan awal Bank Indonesia sekitar US$0,79 miliar.

Hendy juga memprediksi realisasi ekspor ke depannya akan membaik seiring dengan mulai pulihnya perekonomian negara-negara tujuan ekspor Indonesia, khususnya sektor manufaktur. "Kita positif ekspor ke depan akan membaik," tambahnya.

Senada, Kepala Grup Asesmen Ekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Doddy Zulverdi, menambahkan membaiknya defisit neraca transaksi berjalan dapat membantu meningkatkan arus modal masuk ke dalam negeri.

"Dengan menjaga defisit transaksi berjalan ke level stabil itu akan membantu memperkuat arus modal, karena sebelumnya yang terjadi pada tahun 2013 (banyak arus modal keluar atau capital outflow) itu karena kekhawatiran investor akan ketahanan ekonomi kita," kata Doddy, kemarin.

Dia mengharapkan, pada 2014 defisit transaksi berjalan dapat terus berkurang sehingga menunjukkan kepada pihak luar bahwa perekonomian di Tanah Air relatif stabil dan tetap menjanjikan. "Pada tahun ini diharapkan defisitnya turun sebab itu secara tidak langsung akan menjaga persepsi positif dari investor terhadap kita," terangnya.

Doddy juga melihat, membaiknya defisit transaksi berjalan juga dapat menekan dampak pengurangan stimulus moneter (tapering off) yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang akan mempengaruhi perekonomian negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Menurut dia, Pemerintah bersama-sama dengan Bank Indonesia harus fokus dan terus berkoordinasi dalam memperbaiki neraca transaksi berjalan yang telah mengalami defisit dalam sembilan triwulan terakhir. "Kalau kita bisa fokus menjaga defisit transaksi berjalan, itu bisa membantu mengembalikan kepercayaan investor. Secara umum kami berkeyakinan dengan menyempitnya defisit transaksi berjalan maka neraca modal juga bisa meningkat," ujarnya.

BI sendiri sebelumnya memprediksikan defisit transaksi berjalan pada akhir 2013 diperkirakan akan mencapai US$30 miliar atau di bawah 3,5% dari PDB. Defisit transaksi berjalan pada 2013 tersebut masih lebih tinggi dari 2012 yang mencapai US$24 miliar, namun jika dibandingkan triwulan II dan triwulan III 2013, ada perbaikan pada triwulan IV-2013.

Pada triwulan II-2013 terjadi defisit transaksi berjalan sebesar 4,4% dari PDB dan pada triwulan III-2013 turun lagi menjadi 3,8%. Sementara pada 2014 diharapkan mencapai US$25 miliar-US$26 miliar atau di bawah tiga persen dari PDB.

Bukan manipulasi statistik

Tak hanya itu, Doddy menilai perubahan penggunaan perhitungan tahun dasar baru inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dari tahun dasar 2007 menjadi tahun dasar 2012 bukan merupakan suatu bentuk manipulasi statistik agar inflasi terlihat baik.

"Jangan diartikan ini (perubahan tahun dasar inflasi) untuk memanipulasi statistik. Ini adalah sesuatu yang wajar dan merupakan langkah positif," katanya. Menurut Doddy, tahun dasar inflasi 2012 lebih mencerminkan pola konsumsi masyarakat yang mencakup 82 kota dibandingkan tahun dasar inflasi 2007 yang hanya 66 kota. Selain itu, jumlah komoditas juga bertambah dari sebelumnya 774 komoditas menjadi 859 komoditas.

"Tahun dasar inflasi yang sekarang lebih representatif, selain itu cakupan komoditas juga meningkat," tukasnya. Secara bobot, lanjut Doddy, persentase untuk makanan juga mengalami penurunan dari sebelumnya 36,12% menjadi 35,04%. Sebaliknya, untuk nonmakanan naik dari 63,88% menjadi 64,96%.

"Mengecilnya porsi volatile food, diharapkan sensitifitas volatile food terhadap inflasi juga makin mengecil," kata Doddy. Dengan digunakannya tahun dasar inflasi yang baru tersebut, Doddy berharap dapat memperkuat perhitungan inflasi yang selaras dengan perubahan pola konsumsi masyarakat dan perkembangan ekonomi, yang pada gilirannya dapat mendukung proses formulasi bauran kebijakan di Bank Indonesia. [ardi]