Indonesia Dinilai Tak Kena Pengaruh - Dampak Tapering Off

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan menilai Indonesia memiliki modal untuk menahan atau tidak berpengaruh terhadap dampak negatif pengurangan stimulus keuangan (tapering off) oleh Bank Sentral AS (The Fed) menyusul kinerja ekonomi yang membaik. "Dampak ke pasar kita boleh dikatakan lebih minimal dibandingkan dengan negara lain, apalagi dengan kinerja perekonomian domestik yang membaik. Inflasi sesuai ekspektasi, seharusnya kita punya bekal yang lebih baik pada 2014," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman Darmansyah Hadad, di Jakarta, Selasa (4/2).

Dia meyakini bahwa minat investor asing untuk melakukan investasi di dalam negeri masih cukup tinggi, hal itu selaras dengan komitmen Pemerintah Indonesia yang terus berupaya memperbaiki fundamental makro dan mikro ekonomi secara menyeluruh.

"Ada yang keluar (dana asing), tetapi yang masuk juga banyak," tambah Muliaman. Dalam data Bursa Efek Indonesia, tercatat per 3 Januari 2014 dana investor asing masih mencatatkan beli bersih (net buy) saham senilai Rp1,87 triliun.

Muliaman mengemukakan, peta arah GCG yang diluncurkan oleh OJK merupakan salah satu perbaikan dari aspek mikro ekonomi. Peta arah GCG itu diharapkan dapat membuat emiten atau perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia memiliki kinerja yang lebih baik.

"Dengan dikelola secara baik, perusahaan bisa tumbuh kembang, mudah-mudahan perbaikan 'governance' ini bisa menjadi alat ukur untuk melihat faktor fundamental yang saat ini sedang kita perbaiki di industri keuangan Indonesia," ujar Muliaman.

Dia pun mengharapkan pada 2015 mendatang semua sistem GCG sudah diterapkan perusahaan domestik dan setara dengan standar global, sehingga banyak perusahaan nasional yang masuk "top ranking" di ASEAN dalam penerapan GCG.

Muliaman mengemukakan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK. Kerangka pengawasan sektor jasa keuangan yang baru ini menekankan pentingnya Indonesia untuk memiliki sistem keuangan yang sehat secara fundamental dan berkesinambungan, yang mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

"Implementasi praktik tata kelola perusahaan yang baik adalah salah satu kontributor utama dalam upaya mencapai tujuan tersebut, yang akan bermuara kepada peningkatan kinerja perekonomian dan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan," tandasnya. [lulus]

BERITA TERKAIT

Calon Ibu Tak Boleh Kurus, Ini Alasannya

Bagi kaum hawa yang telah menikah dan berkeinginan memiliki keturunan, sebaiknya perhatikan berat badannya. Ahli kesehatan mengingatkan para calon ibu…

Indomilk Bantu Sarana Inspirasi di 50 Sekolah - Ajak Anak Indonesia Berprestasi

Menggali potensi yang dimiliki para siswa berprestasi di Indonesia agar bisa unjuk gigi di mata dunia, PT Indolakto, anak perusahaan…

BI Pertahankan Bunga Acuan 4,25% - DAMPAK KENAIKAN SUKU BUNGA THE FED

Jakarta-Meski Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya 0,25%, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan "7-Day Reverse…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

NPF Bank Syariah Diprediksi Membaik di 2018

  NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) perbankan syariah dapat lebih baik…

BTN Buka Cabang di Pematang Siantar

      NERACA   Medan - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. berkomitmen untuk menjangkau masyarakat yang ingin memiliki…

CIMB Niaga Andalkan Rekening Ponsel - Remitansi Antar Negara

    NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) mendukung kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam Uji…