Pemeintah Klaim Kebijakannya Berhasil

NERACA

Jakarta - Pemerintah mengklaim kebijakan ekonomi yang dikeluarkan sejak pertengahan tahun lalu telah membuahkan hasil. Hal itu tercermin dari realisasi neraca perdagangan Indonesia yang surplus sebesar US$1,52 miliar. Bahkan defisit transaksi berjalan dijanjikan bisa di bawah 2% dari PDB hingga akhir tahun 2014.

"Dengan adanya tapering off maka menandakan berakhirnya rezim uang murah. Sehingga negara-negara berkembang melakukan penyesuaian. Seperti Indonesia yang melakukan kombinasi kebijakan ekonomi dan moneter dengan BI (Bank Indonesia)," kata Menteri Keuangan Chatib Basri di Jakarta, Selasa (4/2).

Dia menjelaskan dari sisi fiskal pada pertengah tahun 2013 kemarin pemerintah mengeluarkan peraturan penambahan PPh dari 2,5% menjadi 7,5%. Hal itu dilakukan untuk mengurangi defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan. Bahkan pemerintah juga membuat kebijakan pengurangan konsumsi barang mewah melalui penyesuasan PPnBM.

“Sedangkan BI fokus pada bauran kebijakan, pengetatan moneter termasuk menaikkan suku bunga acuan hingga 175 basis poin dari pertengahan tahun lalu. Kebijakan ini dilakukan untuk mengendalikan laju impor. Serta mengendalikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat terperosok dalam,” ungkap Chatib.

Kemudian Chatib menerangkan Indonesia saat ini masuk dalam negara fragile five seperti India, Turki, Afrika Selatan dan Brazil. Negara-negara ini mengalami depresiasi nilia tukar mata uang yang cukup tajam. Tapi rupiah stabil di kisaran Rp12.200 terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

“Kebijakan moneter kita masih lebih baik dibanding yang lain. Karena Turki saja sampai menaikkan interest rate sampai 400 basis poin. Sedangkan India mencapai 200 basis poin,” tutur Chatib.

Keberhasilan ini diklaim Chatib bahwa pemerintah Indonesia masih bekerja dengan baik dan mampu mengambil langkah trobosan yang berkualitas. "Ini menandakan bahwa kebijakan pemerintah bukan obat gosok di pinggir jalan yang bisa menyembuhkan gatal-gatal seketika. Tapi kita bisa tunjukkan dengan surplus dan perkiraan defisit neraca transaksi berjalan akan berada di bawah 2% terhadap PDB di 2014 sehingga ini merupakan gejala baik dan menimbulkan kepercayaan diri buat kita,” paparnya.

Ancaman

Meski begitu Chatib mengingatkan Indonesia masih dihantui isu krusial. Pasalnya ada ancaman merosotnya neraca modal di dalam negeri. Mengingat masih ada kekhawatiran sejumlah modal asing akan pulang ke negeri asalnya terutama AS.

"Ke depan investor tak akan lagi melihat sebuah negara dari aset sumberdaya alam, pasar besar, buruh murah tapi justru kebijakan pemerintah dan bank sentralnya seperti apa. Ini sangat menentukan neraca modal dalam negeri kita. Dan pemerintah harus terus mengkaji masalah ini agar tidak menimbulkan masalah yang tidak diinginkan," tambah Chatib.

Lanjut, Chatib juga mengklaim konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada tahun 2013 lebih rendah dari target maksimal. Pasalnya target kuota konsumsi BBM pada 2013 hanya 48 juta kiloliter. Sedangkan realisasinya hanya mencapai 46,7 juta kiloliter.

“Saya kira kebijakan menaikan harga BBM pertengahan tahun 2013 bedampak pada realisasi yang di bawah patokan pemerintah. Sebab telah terbukti kuota BBM kan hanya 48 juta kiloliter. Tapi realisasinya konsumsi BBM hanya sebesar 46,7 juta kiloliter," pungkasnya. [lulus]

Related posts