Industri Manufaktur Indonesia

Oleh: Eisha M Rachbini

Peneliti Indef

Industri manufaktur Indonesia pernah mengalami masa kejayaan. Di pertengahan tahun 1980-an Pemerintah Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan dan ekspor akibat turunnya harga minyak bumi dunia, setelah di awal periode tersebut mengalami "oil bonanza". Kala itu, Pemerintah mengalihkan kebijakan perdagangan dari inward-oriented menjadi export-oriented policies.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk menggantikan peran ekspor minyak dan gas dan beralih ke ekspor non-minyak dan gas. Kebijakan tersebut berhasil menggiring kenaikan ekspor non-minyak dan gas di akhir tahun 1980-an. Namun, sektor manufakturlah yang mendominasi, yaitu lebih dari 50% dari total ekspor, selama periode 1990-1996.

Sektor manufaktur Indonesia sempat menjadi primadona di kawasan Asia bersama Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia. Pertumbuhan riil sektor manufaktur Indonesia mencapai dua digit pada periode 1990-an. Pencapaian ini didukung oleh karakteristik industri indonesia yang memiliki sumberdaya manusia yang murah, dan sumberdaya alam yang melimpah.

Namun, krisis ekonomi Asia pada akhir 1990-an meluluhlantahkan sektor industri Indonesia. Hal ini menyebabkan pertumbuhan sektor manufaktur tidak pernah kembali ke level sebelum krisis, bahkan tertatih-tatih untuk dapat mencetak pertumbuhan positif.

Dengan kebijakan industri yang tidak terarah, gejala deindustrialisasi sudah mulai tercium oleh para pengamat ekonomi, terlihat dari indikator seperti pertumbuhan yang rendah, realisasi kapasitas produksi yang jauh lebih rendah dibanding dengan masa sebelum krisis, penurunan jumlah unit usaha, dan indeks produksi yang kian menurun.

Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF), permasalahan daya saing industri manufaktur Indonesia yang menurun dapat dilihat dari bebagai faktor seperti kondisi makro ekonomi yang kurang kondusif, kualitas kelembagaan publik yang buruk, dan arah kebijakan pengembagan teknologi yang minim. Dari segi mikro, rendahnya efisiensi operasional usaha dan iklim usaha yang buruk menjadi faktor penentu.

Pasca krisis global 2008, aliran dana dari negara-negara maju mengalir deras karena melihat prospek Indonesia sebagai tujuan investasi serta peluang pasarnya yang besar. Pertumbuhan kelas menengah (middle class) yang luar biasa menjadi faktor penting menentukan besarnya pasar domestik yang kuat. Maka dari itu, peluang tersebut harus diraih agar jangan sampai industri manufaktur Indonesia terperangkap ke dalam middle income trap.

Indonesia dituntut harus mengejar ketertinggalan dari China, bahkan Malaysia, dan Thailand yang sudah mampu produksi barang industri yang berbasis teknologi. Lalu, agar dapat bersaing dengan Vietnam, Kamboja, Bangladesh, dari sisi keunggulan dan daya saing tenaga kerja, Indonesia harus memperbaiki sumberdaya manusia dari segi kualitas, yaitu meningkatkan banyaknya skilled labor.

Memanfaatkan momentum keterbukaan perdagangan internasional untuk memperluas akses pasar internasional. Last but not least, menuntaskan masalah klasik iklim usaha, seperti kualitas lembaga publik dan birokrasi, masalah transportasi serta logistik penyebab high cost economy.

BERITA TERKAIT

Ekspor Tumbuh 12 Persen, Industri Minol RI Rambah Pasar Amerika - Niaga Internasional

NERACA Jakarta – Industri minuman beralkohol (minol) berupaya memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Selain mampu menyumbang cukai yang cukup…

BTN Perkenalkan Fintech di Pondok Pesantren - Dukung Industri Digital

Dukung pengembangan teknologi digital guna memudahkan layanan transaksi keuangan , PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dukung pengembangan aplikasi fintech…

Krisis Ekonomi Turki, Mungkinkah Merembet Ke Indonesia?

Oleh: Achmad Fuad Mata uang Turki, Lira, Senin pagi ini (13/08/2018) menyentuh level 7,24 lira per dolar AS pada perdagangan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Nilai Tambah Ekonomi Nasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Bicara ekonomi, industri dan bisnis selalu menarik. Banyak isu penting yang…

Dinamika Politik

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Dinamika politik pencapresan akhirnya terjawab ketika duet pasangan…

Indeks Kemaslahatan Pembangunan Kemiskinan

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekononomi Syariah Salah satu isu  yang kini ditunggu oleh masayarakat di tanah air saat ini…