Salim Invomas Rambah Bisnis Infrastruktur

Rabu, 05/02/2014

NERACA

Jakarta- PT Salim Invomas Pratama Tbk (SIMP) mendirikan anak usaha baru, PT Prima Sarana Mustika (“PSM”). Anak usaha ini merupakan perusahaan patungan yang didirikan dengan PT Wahana inti Selaras (“WIS”) yang merupakan anak usaha PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS). Informasi tersebut disampaikan Sekretaris Perusahaan PT Salim Invomas Pratama Tbk, Umbas Rombe dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (3/2).

Disebutkan, perusahaan patungan ini didirikan dengan modal dasar sebesar Rp50 miliar dan modal ditempatkan sebesar Rp15 miliar. Rinciannya, sebanyak 40% atau sebesar Rp6 miliar oleh perseroan dan sebanyak 60% atau sebesar Rp9 miliar oleh PT Wahana inti Selaras

Rencananya, perusahaan patungan tersebut akan bergerak di bidang usaha pembangunan jalan, tanggul, parit, pembukaan lahan perkebunan, land clearing, dan pembangunan kawasan perkebunan. Termasuk jasa penyewaan alat-alat berat, pengangkutan, dan perdagangan alat-alat pertanian.

Diketahui, Salim Ivomas merupakan salah satu perusahaan perkebunan terintegrasi secara vertikal dengan kegiatan usaha, mulai dari riset dan pengembangan, pembibitan dan penanaman kelapa sawit, pengolahan dan penyulingan minyak kelapa sawit, hingga pemasaran minyak goreng, margarine, lemak nabati, dan produk turunannya.

Dengan bisnisnya yang notabene bergerak di sektor perkebunan, pada kuartal ketiga 2013 laba bersih perseroan pun turun sekitar 84,28% menjadi Rp171,14 miliar atau Rp11,- per saham dari laba bersih pada kuartal ketiga 2012 sebesar Rp973,03 miliar atau Rp26,- per saham. Hal ini disebabkan pendapatan pokok perseroan mengalami penurunan dari Rp10,52 triliun pada kuartal ketiga 2012 menjadi Rp9,53 triliun pada kuartal ketiga 2013.

Salah satu strategi yang dilakukan perseroan untuk memperkuat bisnis pengolahan kelapa sawitnya yaitu dengan membangun dua pabrik crude palm oil (CPO) di Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur. Pabrik di Sumatra Selatan berkapasitas 80 ton tandan buah segar (TBS) per jam dan akan selesai masa konstruksi akhir 2013. Adapun pabrik di Kalimantan Timur berkapasitas 45 ton TBS per jam direncanakan baru akan berdiri pada kuartal kedua 2014.

Pembangunan pabrik tersebut dinilai akan berdampak positif bagi SIMP. Salah satunya, memperkuat pasokan bahan baku bagi bisnis minyak goreng bermerek Bimoli yang diproduksinya. Selain pengembangan usaha yang dilakukan perseroan, perbaikan harga CPO di tahun 2014 diperkirakan juga akan berdampak pada kinerja emiten perkebunan. Seperti yang dikemukakan analis Deutsche Bank Verdhana Indonesia, Jovin Ng dalam risetnya Desember 2013 lalu, sebagai perusahaan agribisnis terintegrasi, SIMP akan diuntungkan kenaikan harga CPO di tahun depan.

Diperkirakan, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) SIMP pada 2013 akan mengalami pertumbuhan sekitar 8%, sedang untuk 2014 EBIT SIMP akan meningkat sekitar 18%. Adapun pendapatan perseroan pada 2013 diproyeksi akan turun 6,86% menjadi Rp 12,89 triliun, dan laba bersih turun 77,09% menjadi Rp 265 miliar. Proyeksinya, pada 2014, pendapatan SIMP sebesar Rp 16,25 triliun dengan laba bersih yang dicatatkan perseroan bisa mencapai Rp 1,26 triliun. (lia)