Tahun Kuda, Intiland Optimis Penjualan Tumbuh 10%

Bukukan Penjualan Rp 2,53 Triliun

Rabu, 05/02/2014

NERACA

Jakarta – Perusahaan properti, PT Intiland Development Tbk (DILD) menilai peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap properti mendorong peningkatan pendapatan penjualan yang cukup signifikan di tahun 2013 dengan membukukan marketing sales sebesar Rp2,53 triliun atau naik 53,3%. Padahal di tahun 2012 perseroan hanya berhasil mebukukan marketing sales senilai Rp1,65 triliun.

Oleh karena itu, peningkatan penjualan yang cukup signifikan memberi keyakinan bagi perseroan terhadap prospek kinerja perseroan di tahun 2014. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (4/2).

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi PT Intiland Development Tbk, Archied Noto Pradono menyebutkan, perseroan memproyeksikan nilai marketing sales tahun ini tetap meningkat, meskipun kondisi perekonomian nasional mendapat tekanan cukup berat,”Kami proyeksikan marketing sales tahun ini naik 10% menjadi sekitar Rp2,8 triliun. Kami melihat peningkatan nilai marketing sales di tahun 2013 didorong oleh momentum peluncuran beberapa proyek baru,”ujarnya.

Maka atas pertimbangan tersebut, perseroan tetap optimis sektor properti nasional tetap tumbuh. Terlebih, masih besarnya kebutuhan masyarakat terhadap produk-produk properti, baik untuk keperluan fasilitas hunian atau investasi bakal memicu permintaan pasar property terus meningkat, “Faktor lainnya adalah adanya tren meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk properti, baik pada segmen hunian, perkantoran, maupun kawasan industri, baik untuk kepentingan bisnis maupun investasi”, ungkapnya.

Secara keseluruhan, kinerja perseroan di tahun 2013 meningkat cukup baik. Nilai marketing sales mencapai Rp2,53 triliun atau naik 15% lebih tinggi diatas target awal perseroan sebesar Rp2,2 triliun. Sementara pendapatan dari pengembangan (development income) tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp2,37 triliun atau 93,77% dari total nilai marketing sales 2013. Sisanya sebesar Rp157,87 miliar atau 6,22% berasal dari pendapatan berkelanjutan (recurring income).

Ditinjau dari segmentasi produknya, kontributor tertinggi berasal dari produk-produk mixed-use & high rise sebesar Rp1,63 triliun, atau 63,4%. Kontribusi berikutnya berasal dari kawasan perumahan sebesar Rp601,66 miliar atau 23,72%. Kawasan Industri memberikan kontribusi sebesar Rp259,65 miliar atau 10,23%, dan hospitality menghasilkan Rp23,69 miliar atau sekitar 0,93%, dan sisanya sebesar Rp42,55 miliar atau 1,67% berasal dari sumber pendapatan lainnya.

Dari total nilai marketing sales yang diperoleh perseroan, kontributor tertinggi berasal dari proyek kondominium 1Park Avenue di Jakarta Selatan sebesar Rp607,17 miliar atau sekitar 23,94%. Berikutnya diperoleh dari pengembangan South Quarter di kawasan TB Simpatupang dengan hasil penjualan sebesar Rp483,74 miliar atau 19,07%, disusul kawasan perumahan Serenia Hills di Jakarta Selatan sebesar Rp340,03 miliar atau 13,40% dari keseluruhan nilai marketing sales.

Sementara kawasan industri Ngoro Industrial Park turut tercatat sebagai salah satu kontributor terbesar dengan nilai marketing sales sebesar Rp259,65 miliar atau sebesar 10,23%. Praxis sebagai pengembangan mixed-use terbaru di Surabaya berhasil memberikan kontribusi signifikan dengan mencatatkan marketing sales Rp199,63 miliar atau sekitar 7,87%. Proyek baru lainnya, Aeropolis mencatatkan penjualan sebesar Rp140,86 miliar atau sekitar 5,55% dari total nilai marketing sales. (nurul)