Redenominasi Jangan Dilakukan Jika Rupiah Melemah

Selasa, 04/02/2014

NERACA

Jakarta - Terkait dengan masih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, Managing Director Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan rencana redenominasi rupiah belum bisa dilakukan. “Redenominasi belum bisa dilakukan jika rupiah masih tertekan,” kata Fauzi di Jakarta, Senin (3/2).

Lebih lanjut dia menjelaskan, penguatan nilai tukar Rupiah bisa jadi sebagai syarat untuk merealisasikan redenominasi rupiah. Selain itu menurut dia, adalah cara yang kurang pas jika redenominasi di paksakan ditengah kondisi ekonomi global yang masih proses pemulihan.

“Beberapa negara berkembang merevisi target pertumbuhan ekonominya. Akibatnya, nilai tukar mata uang negara-negara berkembang seperti halnya Rupiah, tak berdaya terhadap dolar AS, redenominasi itu idealnya saat kurs dolar terhadap Rupiah stabil, atau Rupiah menguat, karena kalau dilakukan saat Rupiah melemah bisa dikhawatirkan dapat memicu kepanikan," imbuh dia.

Menurutnya, redenominasi sebaiknya dilakukan setelah Pemilu atau di pemerintahan yang baru. Tujuannya untuk mencegah kebijakan ini dipolitisasi pihak-pihak tertentu. "Kelihatannya menunggu setelah pemerintahan baru terbentuk, jadi kalau misalnya direalisasikan sebelum pemerintah baru terbentuk, atau di saat proses pemilu kita khawatirkan bisa di politisasi," katanya.

Meskipun implementasi rencana ini belum jelas, pemerintah disarankan terus melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami. "Misalnya ya sosialisasi bahwa redenominasi ini hanya simplifikasi saja bukan pengurangan nilai," sarannya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memang melakukan penundaan redenominasi hingga kondisi ekonomi dan politik di Indonesia menjadi stabil. Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, penyederhanaan mata uang tersebut memang membutuhkan kestabilan. Salah satu pertimbangan lain BI untuk menunda adalah kondisi global yang belum stabil misalnya inflasi dan current account deficit (CAD) pada 2013.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Sistem Pembayaran, Ronald Waas mengatakan, saat ini kondisi ekonomi dan politik masih labil. Namun dia juga menegaskan bahwa pemerintah serius untuk melakukan redenominasi rupiah.

Saat ini di Dewan Perwakilan Rakyat sudah dibentuk panitia khsusus dan bank sentral pun kerap mengadakan diskusi. Selain itu upaya sosialisasi masih terus dilakukan untuk mencegash adanya simpang siur informasi. Menurut Ronald, dalam draft memang terdapat bahwa 2014 akan ada upaya redominasi, namun bukan berarti waktu tersebut juga sebagai tanggal keluarnya mata uang redenominasi.

Pemerintah berencana memberlakukan kebijakan redenominasi atau penyederhanaan jumlah digit pada pecahan rupiah tanpa mengurangi nilainya. Penyederhanaan dilakukan dengan menghilangkan tiga angka terakhir.

Sejak pertama kali diwacanakan, kata Ronald, memang disebutkan bahwa redenominasi membutuhkan waktu persiapan sekitar tujuh tahun. Persiapan itu meliputi percetakan, desain, distribusi, dan yang tak kalah penting adalah sosialisai serta eduksi. "Indonesia adalah negara besar, karena itu untuk persiapannya memerlukan komitmen dari semua pihak." Ujarnya. [sylke]