Redenominasi Jangan Dilakukan Jika Rupiah Melemah

NERACA

Jakarta - Terkait dengan masih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, Managing Director Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan rencana redenominasi rupiah belum bisa dilakukan. “Redenominasi belum bisa dilakukan jika rupiah masih tertekan,” kata Fauzi di Jakarta, Senin (3/2).

Lebih lanjut dia menjelaskan, penguatan nilai tukar Rupiah bisa jadi sebagai syarat untuk merealisasikan redenominasi rupiah. Selain itu menurut dia, adalah cara yang kurang pas jika redenominasi di paksakan ditengah kondisi ekonomi global yang masih proses pemulihan.

“Beberapa negara berkembang merevisi target pertumbuhan ekonominya. Akibatnya, nilai tukar mata uang negara-negara berkembang seperti halnya Rupiah, tak berdaya terhadap dolar AS, redenominasi itu idealnya saat kurs dolar terhadap Rupiah stabil, atau Rupiah menguat, karena kalau dilakukan saat Rupiah melemah bisa dikhawatirkan dapat memicu kepanikan," imbuh dia.

Menurutnya, redenominasi sebaiknya dilakukan setelah Pemilu atau di pemerintahan yang baru. Tujuannya untuk mencegah kebijakan ini dipolitisasi pihak-pihak tertentu. "Kelihatannya menunggu setelah pemerintahan baru terbentuk, jadi kalau misalnya direalisasikan sebelum pemerintah baru terbentuk, atau di saat proses pemilu kita khawatirkan bisa di politisasi," katanya.

Meskipun implementasi rencana ini belum jelas, pemerintah disarankan terus melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami. "Misalnya ya sosialisasi bahwa redenominasi ini hanya simplifikasi saja bukan pengurangan nilai," sarannya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memang melakukan penundaan redenominasi hingga kondisi ekonomi dan politik di Indonesia menjadi stabil. Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, penyederhanaan mata uang tersebut memang membutuhkan kestabilan. Salah satu pertimbangan lain BI untuk menunda adalah kondisi global yang belum stabil misalnya inflasi dan current account deficit (CAD) pada 2013.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Sistem Pembayaran, Ronald Waas mengatakan, saat ini kondisi ekonomi dan politik masih labil. Namun dia juga menegaskan bahwa pemerintah serius untuk melakukan redenominasi rupiah.

Saat ini di Dewan Perwakilan Rakyat sudah dibentuk panitia khsusus dan bank sentral pun kerap mengadakan diskusi. Selain itu upaya sosialisasi masih terus dilakukan untuk mencegash adanya simpang siur informasi. Menurut Ronald, dalam draft memang terdapat bahwa 2014 akan ada upaya redominasi, namun bukan berarti waktu tersebut juga sebagai tanggal keluarnya mata uang redenominasi.

Pemerintah berencana memberlakukan kebijakan redenominasi atau penyederhanaan jumlah digit pada pecahan rupiah tanpa mengurangi nilainya. Penyederhanaan dilakukan dengan menghilangkan tiga angka terakhir.

Sejak pertama kali diwacanakan, kata Ronald, memang disebutkan bahwa redenominasi membutuhkan waktu persiapan sekitar tujuh tahun. Persiapan itu meliputi percetakan, desain, distribusi, dan yang tak kalah penting adalah sosialisai serta eduksi. "Indonesia adalah negara besar, karena itu untuk persiapannya memerlukan komitmen dari semua pihak." Ujarnya. [sylke]

BERITA TERKAIT

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…

Jangan Zakat Salah Sasaran Potong Gaji

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak meminta pemerintah berhati-hati dalam menyusun peraturan mengenai pemotongan gaji untuk zakat…

Persyaratan Pembiayaan untuk UMKM Jangan Berbelit-belit

      NERACA   Jakarta - Persyaratan program pembiayaan permodalan bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) seperti dari…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Jika UU Akses Informasi Dibatalkan, Negara Merugi

  NERACA   Jakarta - Mantan Menteri Keuangan RI Muhammad Chatib Basri menyatakan bahwa negara akan mengalami kerugian bila Undang-Undang…

BRI Syariah Kucurkan KPR Sejahtera Rp1,5 triliun

      NERACA   Jakarta - BRISyariah memberikan kemudahan kepada kaum milenial untuk segera memiliki huniah perdananya. Komitmen ini…

Penyaluran Kredit BCA Tumbuh Hingga 12,3%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menumbuhkan penyaluran kredit sebesar 12,3 persen (tahun ke…