Investor Diminta Review Kembali Saham ANTV

NERACA

Jakarta – Rencana Grup Bakrie melepas saham ANTV ke pasar melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) sebesar 20% untuk melunasi utang VIVA Grup US$ 230 juta atau sekitar Rp 2,3 triliun, disikapi pelaku pasar bukan sebagai saham yang layak dikoleksi.

Menurut Kepala riset PT Buana Capital Alfred Nainggolan, pelaku pasar khususnya investor perlu mempertimbangkan lagi jika ingin membeli saham ANTV. Alasannya, saat ini emiten yang tergabung dalam grup Bakrie banyak yang mengalami penurunan kinerja,”Pelaku pasar yang sudah mengetahui track record grup Bakrie pasti sudah memahami akan bagaimana nantinya saham-saham mereka,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (3/2).

Dia menjelaskan, yang ditakutkan emiten jika akan melakukan IPO adalah ketiadaan minat dan respect dari investor untuk saham yang akan dikeluarkan. Sehingga, untuk perusahaan yang tergabung dalam grup yang memiliki sejarah kurang baik sebaiknya memperbaiki kinerjanya,”Salah satu tindakan investor bisa saja memboikot proses IPO atau dengan kata lain tidak datang ke proses IPO tersebut. Yang sudah listing 5 sampai 10 tahun saja belum bagus sahamnya”, ungkapnya.

Padahal, menurut dia, perusahaan media khususnya televisi cukup menarik unutk dikoleksi di mana banyak iklan dan masyarakat menyaksikan televisi tersebut. “Sektor media sangat bagus di mana konsumsi masyarakat meningkat, banyak yang gunakan jasa TV untuk beriklan”, jelasnya.

Hanya saja, jika sektornya bagus namun manajemen perusahaan tidak bagus, tentu akan berakibat merugikan. Dia mencontohkan saham ELTY yang terus anjlok padahal di tahun 2012-2013 sektor properti sedang booming diminati pelaku pasar,”IPO memang haknya grup Bakrie dan perusahaan manapun, namun menjadi hak investor juga untuk membeli sahamnya atau tidak,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo yang mengatakan, pelaksanaan penawaran saham umum perdana (IPO) ANTV wajar menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar. Terlebih dengan kondisi pasar yang dilihat dari pergerakan IHSG yang saat ini cenderung koreksi,”Saat ini kondisinya cenderung spekulatif dan rawan koreksi apabila memaksakan untuk melaksanakan IPO. Holding ANTV tentunya harus memperbanyak jumlah saham bagi publik. Ini untuk menarik gairah pasar daripada harus membatasi hanya 20%.” jelasnya.

Karena sebagai perusahaan yang go publik, sambung dia, masyarakat sudah seharusnya menjadi mayoritas. Manajemen ANTV juga harus kembali memperhitungkan harga saham perdananya di pasar sehingga tidak terlalu mahal.

Selain itu, juga harus dipastikan pelaksanaan IPO-nya berdasarkan kepentingan publik, bukan golongan tertentu. Apalagi dengan munculnya kekhawatiran pelaksanaan IPO calon emiten yang dilaksanakan berdekatan dengan momen pemilu. Dan ANTV sendiri adalah anak usaha VIVA yang notebene terafiliasi dengan perpolitikan.“Kekhawatiran itu wajar karena mendekati pemilu tentunya dianggap menjadi momen untuk menggalang dana. Tapi yang jelas, jika pada penawaran saham perdananya mengalami kenaikan maka itu bisa meningkatkan citra bagi pihak Bakrie.” tuturnya.

Lepas dari hal tersebut, Lucky pun berharap, pelaksanaan IPO ANTV ini nantinya bisa mengobati luka lama pelaku pasar pada saham-saham dalam grup Bakrie. “Tentunya situasi seperti ini menjadi ajang spekulasi bagi saham-saham VIVA.” ujarnya.

Sementara itu, Pengurus Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Budi Frensidy mengatakan, dari sisi bisnis, media merupakan sektor yang cukup menarik, apalagi dengan terjadinya peningkatan iklan yang menjadi salah satu kontributor bisnis ini. Namun, untuk penawaran saham perdana ANTV yang rencananya akan digelar kuartal pertama tahun ini masih kurang prospektif.“Dibandingkan dengan media pertelevisian, ANTV masih kurang mengungguli secara umum. Dan juga kondisi pasar yang kurang mendukung sehingga dinilai masih kurang berprospektif.” katanya.

Harga yang ditawarkan saat IPO, sambung dia, bisa lebih rendah dari harga penawaran saham oleh perusahaan. Untuk itu, perlu ada komitmen dari investor strategis sehingga pelaksanaan IPO perusahaan dapat berjalan dengan baik. “Ini sangat tergantung dari underwriternya. Harga sahamnya akan lebih rendah dari yang ditawarkan dan tidak dijamin dapat penjatahan.” jelasnya.

Selain itu, pelaku pasar juga akan mempertimbangan pengelolaan bisnis perusahaan atau calon emiten. Apalagi untuk yang terafiliasi kepada perpolitikan. Hal tersebut ditengarai adanya anggapan bahwa dana yang diperoleh untuk membiayai kepentingan politiknya. “Bisnis yang terafiliasi ke politik akan cenderung dihindari.” imbuhnya.

Dalam due diligence-nya kemarin, Chief Executive Officer PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), Robertus B. Kurniawan mengatakan, ANTV akan melepas saham ke publik maksimal 20%. Hal ini sesuai dengan peraturan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menggunakan buku keuangan September 2013."Ekuitas sekitar Rp2 triliun sehingga maksimal 20%. Modal disetor nanti Rp600 miliar. Listing diharapkan kuartal pertama tahun ini," jelasnya.

Dana hasil IPO ANTV, kata Robertus, akan digunakan untuk pengembangan bisnis ANTV dan sebagian lagi untuk membayar utang holding ANTV yakni VIVA. "Utang holding saat ini US$230 juta. Nanti dibayar sebagian dari dana IPO ANTV," ucap dia. lia/nurul/bani

Related posts