Sumut di Atas Nasional, Jatim Mendekati - Inflasi Januari

NERACA

Jakarta - Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur masing-masing mengalami inflasi sebesar 1,10% dan 1,06%. Penyebab inflasi kedua provinsi ini disebabkan kenaikan harga pangan, namun untuk Jawa Timur, kenaikan tersebut dipicu oleh bencana banjir dan tanah longsor.

Menurut Kepala BPS Sumatera Utara, Wien Kusdiatmono, inflasi tersebut berada di atas angka nasional yang mencapai 1,07%. Untuk Kota Medan, yang notabene ibukota provinsi, mengalami inflasi 1% yang dipicu kenaikan harga cabai merah yang sebesar 17,41%, daging ayam ras 7,14% serta ikan tongkol 21,8%.

Sementara Sibolga mengalami inflasi 3,24%, Pematang Siantar 1,12%, dan Padang Sidempuan 1,34%. “Pada awal tahun ini, inflasi Sumatera Utara masih cukup tinggi meski berdasarkan besarannya ada tren penurunan dibandingkan bulan Januari 2013 yang mencapai 1,39%," kata Wien di Medan, Sumatera Utara, Senin (3/2).

Di tempat terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Timur, Sairi Hazbullah, menuturkan inflasi dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas akibat banjir dan longsor, sehingga distribusi barang dan jasa terhambat yang menyebabkan inflasi tinggi.

Kenaikan harga barang dan jasa ditentukan oleh kelancaran distribusi dan kecukupan pasokan. Sejak memasuki musim penghujan, banjir dan longsor terjadi di beberapa wilayah di Jawa Timur antara lain Jember, Bojonegoro, Jombang, Malang dan Situbondo.

Inflasi di Jawa Timur hanya selisih 0,01% dibandingkan nasional yang sebesar 1,07%. Dari 8 kota indeks harga konsumen di Jawa Timur, inflasi tertinggi terjadi di Kediri sebesar 1,28% diikuti Jember 1,24% dan Surabaya 1,18%. Secara tahunan (year on year/yoy), laju inflasi Jawa Timur sebesar 7,65%.

Menurut Sairi, kenaikan harga ditunjukkan oleh kenaikan indeks harga konsumen (IHK) terutama dari kelompok bahan makanan sebesar 1,96% yaitu telur ayam ras, daging ayam ras, tomat sayur, melon dan beras. “Permintaan barang kebutuhan bahan makanan yang cukup tinggi di awal tahun, sedangkan persediaan barang di pasar turun,” jelasnya.

Hal itu disebabkan cuaca buruk, intensitas curah hujan yang tinggi, dan banyak hama penyakit tanaman yang biasanya menurunkan jumlah produksi bahan makanan dan gagal panen terutama pada sayur-sayuran, bumbu dan tanaman padi.

Tingginya inflasi juga didorong adanya kenaikan harga konsumen pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Kenaikan harga pada kelompok tersebut mencapai 1,33% sementara kenaikan gas elpiji di awal tahun ini menyumbang inflasi bahan bakar rumah tangga sampai 12,58%. [ant/ardi]

BERITA TERKAIT

Infrastruktur Gas untuk Kemandirian Energi Nasional

  NERACA Jakarta - Pembangunan infrastruktur gas yang memadai ke seluruh daerah di Indonesia dengan didukung alokasi anggaran yang mencukupi…

DOID Incar Pertumbuhan Bisnis Di Atas 10%

Emiten perusahaan tambang, PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) membidik pertumbuhan kinerja tahun ini di atas 10% dibanding 2017. Melalui…

Pelaku Industri Besi dan Baja Hilir Nasional Keluhkan Permendag 22/2018

Pelaku Industri Besi dan Baja Hilir Nasional Keluhkan Permendag 22/2018 NERACA Jakarta - Sejumlah pelaku industri besi dan baja hilir…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Proyek Kereta Cepat Diperkirakan Rampung 2020

      NERACA   Jakarta - Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan waktu pengerjaan…

Indonesia Belum Miliki Cadangan BBM Nasional

      NERACA   Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengusulkan harus adanya pengadaan…

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…