Indonesia, Sudah Kalah Sebelum "Perang"

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015

Selasa, 04/02/2014

Jakarta – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 sudah di depan mata. Hampir dipastikan bahwa negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand bakal segera menggilas pasar Indonesia di segala sektor. Sementara Indonesia, yang merupakan pangsa pasar terbesar dalam hubungan tanpa batas tersebut, para petinggi negaranya justru tengah sibuk menghadapi Pemihan Umum, baik Pemilihan Legislatif maupun Pemilihan Presiden.

NERACA

Gejala bakal kalahnya Indonesia dalam persaingan itu diamini Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi. Menurut dia, untuk menghadapi MEA 2015, Indonesia belum memiliki persiapan sama sekali. " Indonesia dari segala segi termasuk industri keuangan seperti perbankan, asuransi, infrastruktur, sumber daya manusia (SDM) bahkan transportasi, semuanya tidak siap," ujarnya kepada Neraca, Senin (3/2).

Lebih lanjut Sofyan juga menjelaskan, ketidaksiapan tersebut terjadi akibat pemerintah Indonesia yang tidak fokus mempersiapkan semuanya. "Ya karena memang pemerintahnya tidak menyiapkan diri untuk menyambut MEA," imbuh Sofjan.

Seharusnya, tambah dia, Indonesia harus bisa menuntaskan pekerjaan-pekerjaan yang belum terselesaikan agar bisa memiliki daya saing di MEA nanti. "Indonesia itu harusnya bisa mengoptimalkan semua dengan baik, kalau pemerintah belum siap, ya mereka mestinya mengkaji kembali. Jangan sok siap kalau memang belum siap. Tapi, kalau memang ingin maju yang siapkan dari sekarang," imbuh dia.

Ekonom yang juga Guru Besar Ekonomi UGM Sri Adiningsih menambahkan, saat ini Indonesia untuk perdagangan saja sudah defisit. Padahal, dulu, Indonesia dengan ASEAN terbilang surplus, tapi belakangan ini terus defisit bahkan semakin tinggi defisitnya. “Jika tidak ada antisipasi dari pemerintah akan terus melebar dan meningkat defisitnya,” tutur dia saat dihubungi kemarin.

Di mata Sri, pada 2015, bukan hanya sektor perdagangan yang bakal kalah. Belum lagi di bidang jasa, investasi, skill Level (penguatan SDM), Indonesia masih di bawah tiga negara ASEAN tadi. “Jika tidak ada antisipasi dan persiapan matang, jelas Indonesia akan menjadi penonton saja dan banyak dirugikan. Melihat kekuatan nasional jelang MEA, kita sudah tidak bisa berbuat banyak. Dan bisa dikatakan kita sudah kalah sebelum berperang,” papar Sri.

Ditambah lagi, lanjut Sri, 2014 ini sudah masuk tahun pemilu, dimana pemerintah sudah tidak lagi konsen pada perbaikan ekonomi. Mereka lebih sibuk mengamankan posisinya masing-masing, sehingga kondisi ini jelas sangat menghawatirkan. “MEA sebentar lagi, tapi persiapannya masih minim, Indonesia bakal kewalahan menghadapi 2015 nanti,” tegas Sri.

Sementara dalam penilaian Guru Besar Ekonomi Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika, berat Indonesia dapat mengambil keuntungan dari negara-negara kawasan dalam MEA pada 2015 mendatang. Pasalnya, Indonesia memang tidak memiliki kesiapan industri yang akan dibawa sebagai modal utama. Sedangkan untuk mempersiapkan kemampuan industri membutuhkan waktu yang lama.

“Untuk mengawali MEA nantinya sangat berat di awal bagi Indonesia. Saya kira, untuk saat ini kita sudah kalah dengan Thailand, Malaysia, Singapura dan Vietnam. Hal itu dapat terlihat dari neraca perdagangan kita yang defisit pada negara-negara tersebut,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa ketidakmampuan Indonesia untuk mengawali MEA dapat terlihat dari defisit perdagangan dengan negara-negara tersebut. “Negara-negara itu seharusnya jadi tujuan utama perdagangan kita. Tapi, dari sekarang saja dengan negara-negara itu kita sudah terlihat kalah. Sedangkan bersaing dengan negara selain itu sangat kecil sekali keuntungannya. Masak kita bersaing dengan Kamboja”, tukas Prof Erani.

Kekalahan itu juga dinilai Erani terjadi pada industri keuangan. “Sudahlah, kalau industri keuangan kita sudah kalah dari kemarin-kemarin. Toh, kita belum apa-apa, Malaysia dan Singapura sudah ekspansi”, tukas dia

Padahal, menurut dia, peluang meraup keuntungan sebanyak-banyaknya bagi Indonesia sangat terbuka luas. Mengingat di Indonesia dapat dibangun dan dikembangkan berbagi macam sektor usaha dan perindustrian. Namun, sayang pemerintah memang tidak mempersiapkan hal tersebut. “Susah ya untuk diperbaiki dalam jangka waktu dekat. Bahkan, MEA kan tidak sampai satu tahun lagi. Padahal, jika kita membangun sektor agribisnis sejak dulu-dulu kita sudah pasti merarup untung banyak. Tapi, agribisnis kita kan tidak pernah dikembangkan pemerintah,” ujarnya.

Dihajar Habis

Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan industri (Kadin) Indonesia, Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa secara umum memang Indonesia masih dalam tahap pemulihan atau recovery sehingga neraca perdagangan Indonesia sepanjang tahun lalu mengalami defisit hingga US$4,06 miliar. Hal ini dikarenakan Indonesia masih menjadi negara yang gemar dalam mengimpor barang migas sehingga terjadi pelebaran defisit perdagangan migas yang besar.

“Kita masih termasuk negara dengan ketergantungan impor (net importer) yang besar dan hal ini disebabkan pemerintah tidak mempunyai kebijakan energi yang tidak jelas,” kata dia, Senin.

Mengenai perdagangan non migas Indonesia yang masih kalah di ASEAN, lanjut Hariyadi, memang dalam perdagangan non migas ini, Indonesia saling adu kuat dengan negara-negara ASEAN lainnya, namun masih kalah. Indonesia selalu kalah dengan negara seperti Thailand dan hal ini akan bisa mempengaruhi perjalanan Indonesia dalam menghadapi MEA 2015. “Dalam menghadapi MEA nanti, hal yang ditakutkan adalah Indonesia akan dihajar habis oleh negara-negara ASEAN lainnya dikarenakan neraca perdagangan Indonesia masih kalah dengan negara tersebut,” ungkap dia.

Menurut dia, dengan infrastruktur yang kurang dan tidak adanya ketahanan industri yang menunjang sektor perdagangan, maka Indonesia sudah pasti akan kalah bersaing dalam MEA nanti. Upaya perbaikan pun tidak bisa diharapkan lantaran pemerintah tidak serius membenahi neraca perdagangan ini dan pada akhirnya Indonesia sudah terlambat dalam mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara ASEAN lainnya.

“Saya tidak bisa berharap kepada pemerintah. Apalagi, pada tahun ini merupakan tahun politik dimana pejabat pemerintah akan lebih memikirkan politiknya dibandingkan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia yang masih kalah ini,” tutur dia.