Inflasi Januari Tertinggi Dalam Lima Tahun - Bawang Merah Alami Deflasi

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik melansir bahwa inflasi pada Januari 2014 sebesar 1,07%. Dengan demikian, secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Januari mencapai 8,22%. Hal itu disebabkan terganggunya distribusi bahan pangan lantaran cuaca buruk yang menyebabkan banjir di sejumlah daerah di Indonesia, terutama Pulau Jawa dan Sumatra. Sebelum terjadi banjir, harga pangan memang sudah merangkak naik akibat dipicu kenaikan gas Elpiji 12 kilogram pada awal tahun ini.

Kepala BPS Suryamin mengakui bila inflasi Januari 2014 lebih tinggi ketimbang Januari 2013. Bahkan, inflasi Januari 2014 ini merupakan inflasi yang paling tinggi dibandingkan inflasi bulanan (month to month/mtm) Januari dalam lima tahun terakhir. Dia lalu membandingkan, pada Januari 2009 terjadi deflasi 0,07%, begitu pula Januari 2010 yang mencatat deflasi 0,84%.

Akan tetapi, pada 2011 terjadi inflasi Januari 0,89% dan Januari 2013 inflasi bulanan Januari mencapai 1,03%. "Komponen inti (core inflation) menyumbang 0,34% terhadap inflasi sebesar 1,07%. Komponen harga yang diatur Pemerintah (administreted prices) menyumbang 0,20%, sementara komponen bergejolak (volatile food) andilnya 0,53%," kata Suryamin di Jakarta, Senin (3/2).

Dia juga menjelaskan, inflasi Januari 2014 sebenarnya sudah terlihat mengingat adanya beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami peningkatan. Secara rinci, kelompok bahan makanan meningkat sebesar 2,77%. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau meningkat sebesar 0,72%. Adapun kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar meningkat sebesar 1,01%.

Kemudian, terdapat peningkatan pada kelompok sandang sebesar 0,55%, kelompok kesehatan meningkat sebesar 0,72%, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga meningkat sebesar 0,28%. Juga kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan meningkat sebesar 0,20%.

Selain itu Suryamin menerangkan beberapa harga komoditas pangan mengalami inflasi sampai 2,77% yang berdampak sebesar 0,56% pada inflasi nasional bulan ini. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain ikan segar sebesar 0,12%, beras sebesar 0,05%, tomat sayur sebesar 0,03%, ikan diawetkan, bayam, kangkung dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,02%.

Selanjutnya daging sapi, susu bubuk, kacang panjang, kentang, kol putih, sawi hijau, terong panjang, wortel, jeruk, melon, semangka, tomat buah, minyak goreng dan kacang panjang masing-masing 0,01%. Namun demikian, lanjut Suryamin, ada satu komoditas pangan yang menyumbang deflasi.

“Bawang merah menyumbang deflasi sebesar 0,06%. Untuk beberapa komoditas pangan yang mengalami peningkatan sebelumnya memang sudah dikabarkan kondisinya dalam situasi yang kurang baik mengingat adanya cuaca ekstrem sepanjang bulan kemarin,” terangnya.

Tak mengganggu

Pada kesempatan terpisah, Bank Indonesia mengklaim kenaikan inflasi Januari tahun ini belum mengganggu prospek pencapaian sasaran inflasi ke depan. Hal ini tergambar pada inflasi secara tahunan yang masih berada dalam tren menurun. Inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen) Januari 2014 secara tahunan tercatat 8,22% (yoy), menurun dari 8,38% (yoy) pada Desember 2013.

Demikian pula inflasi inti yang juga menurun dari 4,98% (yoy) pada Desember 2013 menjadi 4,53% (yoy) pada Januari 2014. Namun demikian, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan inflasi ke depan sehingga tetap dapat dikelola sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Peter Jacobs mengatakan, pihaknya menyambut baik penggunaan perhitungan tahun dasar baru inflasi yang dilakukan oleh BPS, yakni dari tahun dasar sebelumnya 2007 menjadi tahun dasar 2012. Perubahan tahun dasar tersebut, kata dia, merupakan langkah positif untuk terus memperkuat perhitungan inflasi yang selaras dengan perubahan pola konsumsi masyarakat dan perkembangan ekonomi, yang pada gilirannya dapat mendukung proses formulasi bauran kebijakan Bank Indonesia. [lulus]

Related posts