Empat Pabrik Mobil Segera Dibangun

Investasi US$ 3 Miliar Masuk Ke Indonesia

Selasa, 04/02/2014

NERACA

Karawang - Melalui program Kendaraan Bermotor Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) atau yang lebih dikenal dengan kendaraan Low Cost Green Car (LCGC), Kementerian Perindustrian mengklaim telah berhasil menarik investasi untuk pendirian 4 pabrik mobil baru.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, melalui 4 pabrik tersebut, Indonesia berhasil mendatangkan investasi hingga miliaran dolar Amerika Serikat. "Untuk investasi itu, hampir sekitar US$ 3 miliar," ujarnya di Karawang, Jawa Barat, Senin (3/2).

Selain itu, saat ini juga telah dan sedang dibangun pabrik baru komponen otomotif yang mencapai 100 pabrik baru. Sehingga dengan adanya pembangunan pabrik-pabrik tersebut, industri otomotif mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja Indonesia.

"Juga ada 100 industri komponen yang sekarang sedang dan sudah mulai berdiri. Dengan karyawan yang terlibat melalui multiplier business sekitar 80 ribu karyawan, meliputi mulai dari produksi sampai jaringan distribusi seperti outlet bengkel," jelasnya.

Dengan terbangunnya pabrik-pabrik tersebut, Hidayat berharap kedepannya Indonesia bisa menjadi basis produksi mobil murah ini baik dikawasan regional maupun internasional.

"Dan dengan komitmen penggunaan komponen dalam negeri yang telah dicanangkan (untuk LCGC), maka produk kendaraan bermotor yang dihasilkan semakin berdaya saing dipasar dalam negeri maupun ekspor," tandasnya.

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin, Budi Darmadi mengungkapkan ada sekitar 100 industri komponen baru dengan nilai investasi US$ 3,5 miliar yang siap masuk ke Indonesia. "Saat ini, komitmen tersebut sudah teralisasi, dengan dibangunnya lima pabrik baru dan sekitar 70 pabrik komponen otomotif baru," ujarnya.

Menurut Budi, investasi yang masuk akan mendorong peningkatan tenaga kerja terampil baik bidang teknik otomotif maupun material, manajemen produksi, jasa dan distribusi. Dampak positif kemudian dari hal ini kegiatan ekonomi di daerah akan bergeliat.

Daerah-daerah akan menjadi penyuplai stok komponen, after sales service, jasa perbengkelan, dan peningkatan pajak pendapatan daerah. "Sekitar 70 ribu tenaga kerja bakal terserap dengan komposisi 30 ribu orang di sektor manufacturing dan 40 ribu orang di after sales service," kata Budi.

Alasan umum keputusan berinvestasi di sebuah negara dilandasi kondisi internal negara yang bersangkutan bukan alasan yang sesaat seperti kondisi politik di Thailand. "Investasi itu sifatnya jangka panjang, karena (mendirikan) pabrik itu baru akan kembali modal setelah delapan sampai sembilan tahun," kata Budi.

Budi menambahkan, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi delapan sampai sembilan tahun ke depan, jadi investasi itu diputuskan memang sudah sejak beberapa tahun lalu.

Terkait adanya kemungkinan industri otomotif, seperti Toyota, yang akan meningkatkan ekspansinya di Indonesia gara-gara peristiwa politik yang kurang kondusif di Thailand, Budi menilai hal itu tidak sepenuhnya dapat dijadikan acuan.

"Ada beberapa faktor-faktor yang dilihat dari Indonesia misalnya kestabilan pertumbuhan ekonomi, kestabilan politik, serta infrastruktur yang terus berbenah, serta SDM yang paling penting, karena SDM kita produktifitasnya bagus," kata dia.

Budi mengatakan akibat dari gonjang-ganjing politik di negara lain yang mungkin terjadi adalah peningkatan ekspor mobil utuh (CBU) dari Indonesia.

Budi mengungkapkan bahwa pada tahun ini, beberapa pabrikan otomotif di Indonesia telah menyatakan rencananya untuk menggenjot ekspor mobil ke negara lain.Secara keseluruhan, menurut dia, ekspor mobil utuh (CBU) dari Indonesia ditargetkan mencapai 200.000 unit tahun ini. Jumlahnya meningkat dibandingkan tahuun lalu yang mencapai 180.000 unit.

"Ekspornya sampai ke Jepang juga, contohnya Daihatsu Grand Max yang diekspor ke Jepang dan namanya berubah menjadi Toyota Town Ace. Sedangkan Suzuki juga sudah ekspor mobil murah ke Pakistan dan Asia Tengah," kata Budi.