Tak Hanya Impor, RI Juga Ekspor Beras Premium

Selasa, 04/02/2014

NERACA

Jakarta – Pemerintah masih terus mencari letak kesalahan dalam menangani kasus bocornya impor beras asal Vietnam di pasar. Kementerian Perdagangan mengakui telah mengeluarkan Surat Persetujuan Impor (SPI) terhadap impor beras asal Vietnam namun dengan kualitas atas atau beras premium. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan beras premium di dalam negeri. Namun demikian, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengaku bahwa Indonesia juga merupakan eksportir beras.

“Saat ini, impor beras khusus memang jumlah cukup sedikit yaitu 1% dari kebutuhan beras nasional. Namun, jangan salah kalau Indonesia juga ekspor besar, tapi hanya untuk beras-beras khusus saja salah satunya beras organik asal Tasikmalaya, Jawa Barat,” ungkap Bayu pada konferensi pers di Jakarta, Senin (3/2).

Bayu mengatakan beras-beras kelas khusus tersebut biasanya di ekspor ke Eropa seperti Jerman. Namun demikian, ia mengatakan jumlahnya terbatas. “Setiap tahunnya, paling tidak sekitar 1.500 ton untuk di ekspor ke negara-negara tersebut,” katanya.

Saat kunjungan kerja di Berlin, Jerman tahun lalu, Menteri Pertanian Suswono sempat menyatakan bahwa Indonesia mendapatkan peluang ekspor dibidang pangan. “Pemerintah Jerman membuka kesempatan bagi pengusaha Indonesia untuk mengekspor hasil pertanian organik khususnya beras organik serta produk pertanian tropik berupa buah – buahan organik sesuai dengan persyaratan yang berlaku di Jerman dan Uni Eropa,” ucapnya.

Menurut Mentan, kesempatan yang diberikan oleh pemerintah Jerman menjadi angin segar bagi pengusaha beras organik Indonesia dan akan di follow up oleh pemerintah Indonesia. Sebagaimana diketahui, selama ini, Indonesia memang sudah melakukan impor beras organiknya ke luar negeri seperti Amerika Serikat namun diakui Mentan, jumlahnya masih belum signifikan.

Lebih lanjut, Mentan mengatakan bahwa pada kesempatan tersebut, dibahas juga tentang kebijakan pertanian di Jerman yang dianggap penting antara lain tentang pemberian bantuan pendapatan (income support) bagi petani sebesar Euro 300/ha/th, pemberian fasilitas kredit oleh Bank Pertanian dengan bunga yang lebih rendah serta bentuan pembiayaan untuk kegiatan – kegiatan khusus seperti pertanian organik.

“Di luar negeri, pemberian bantuan pertanian secara langsung bisa dilakukan karena pertaniannya sudah establish. Untuk Indonesia sendiri, bantuan langsung masih belum bisa diterapkan secara utuh karena kita belum memiliki data base para petani kita. Seperti yang kita ketahui, di wilayah Indonesia, kepemilikan tanah pertanian dapat berganti setiap tahunnya,” jelas Suswono.

Beras organik sedang menjadi tren di dunia, hal tersebut dimanfaatkan oleh para petani. Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (Appoli) telah berhasil menjual berasnya ke pasar Belgia. Hal itu dilakukan oleh para petani di Desa Catur, Kecamatan Sambi dan Desa Dlingo, Kecamatan Mojosongo. Setidaknya ada tiga jenis padi organik yang akan diekspor ke Belgia, yaitu Pandan, Merapi dan Rain Forest Rice. Beras yang dilempar ke negara belahan benua Eropa itu diplastik dalam kemasan lima dan satu kilogram.

Peluang Investasi

Investasi dalam produk pertanian pangan dan non pangan organik di Indonesia sangat menjanjikan. Indonesia berpeluang mengisi pasar ekspor produk organik dunia, baik di Amerika Serikat, Uni Eropa, maupun di kawasan Asia. Hal itu mengingat jenis tanaman di Indonesia sangat beragam dan pasar organik dunia setiap tahun tumbuh 10-20%.

Presiden International Federation of Organic Agriculture Movement (IFOAM), Andre Leu sempat mengatakan peluang investasi di produk organik di Indonesia sangat besar mengingat permintaan produk organik dunia terus tumbuh. Leu belum bisa memperkirakan sampai kapan tren pertumbuhan ini, tetapi realitasnya sekarang konsumsi produk organik dunia naik terus.

Tidak saja di pasar Uni Eropa dan AS, tetapi juga pasar regional, seperti di kawasan Asia. Peluang ini tentu sayang kalau tidak dimanfaatkan mengingat Indonesia dikenal kaya dengan keragaman jenis tanamannya. Pasar dunia membutuhkan keberagaman produk organik itu.

Leu juga meyakini bahwa pemerintah menginginkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik melalui penyerapan tenaga kerja. Pengembangan produk organik memberikan peluang itu. Leu mencontohkan, berbagai produk organik Indonesia berpotensi mengisi pasar, misalnya komoditas hortikultura, seperti mangga. Indonesia dapat mengekspor mangga olahan organik yang sudah melalui proses pengeringan ke pasar Eropa dan AS, karena misalnya dapat menjadi perasa untuk yogurt.

Kerjasama penyetaraan standar dan sistem sertifikasi produk organik antara Uni Eropa dan AS, kata Leu, semakin memberikan peluang pasar yang lebih baik karena memungkinkan produk organik Indonesia masuk ke pasar Uni Eropa dan AS hanya cukup dengan satu sertifikasi saja. Dengan demikian, biayanya lebih murah. Di kawasan Asia, India merupakan negara yang paling agresif menangkap peluang pasar organik. Saat ini India mengekspor 30% produk organik ke dunia, dengan lebih dari 1000 variasi produk organik.