Dian Swastika Tunda Tukar Guling United Fiber System

Syarat Belum Terpenuhi

Selasa, 04/02/2014

NERACA

Jakarta – Rencana PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) untuk transaksi tukar guling dengan United Fiber System Ltd (UFS) mundur dari jadwal akibat belum terpenuhinya syarat pendahuluan.

Direktur PT Dian Swastika Sentosa Tbk Hermawan Tarjono mengatakan, rencana transaksi dalam pengambilalihan UFS oleh perseroan dan penjualan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) kepada UFS belum terlaksana.

Dikarenakan dalam Share Purchase Agreement (SPA) antara perseroan dan UFS, batas akhir pemenuhan syarat-syarat pendahuluan untuk rencana transaksi ini pada 31 Januari 2014,”Pada tanggal surat ini, masih terdapat beberapa syarat pendahuluan yang belum terpenuhi”, katanya dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (3/2).

Atas mundurnya jadwal yang sudah ditentukan, perseroan dan UFS akan berdiskusi untuk perpanjangan Long-Stop Date tersebut untuk memberikan kesempatan kepada para pihak untuk memenuhi syarat-syarat pendahuluan yang belum terpenuhi.

Selain itu, perseroan dengan UFS bersama-sama akan mengubah ketentuan-ketentuan yang relevan dalam SPA sebagai akibat perpanjangan Long-Stop Date tersebut. Perseroan berencana mengambil alih 94,06% saham UFS seharga US$ 0,019 per saham. Perseroan akan membayar akuisisi itu dengan 66,99% saham anak usaha yang bergerak di bisnis batubara yaitu GEMS dengan harga Rp3.700 per saham.

Dia juga mennjelaskan bahwa perseroan akan ambil bagian dalam tender proyek pembangkit listrik (Power Plant) yang diprakarasi oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Proses pra kualifikasi proyek ini sudah dilangsungkan beberapa waktu yang lalu. Namun, karena ada salah satu perusahaan yang mundur dalam keikutsertaan proyek power plant tersebut, akhirnya prosesnya harus kembali diulang dari awal.“Pada pra kualifikasi kami sudah lolos tinggal mengikuti proses tender bersama tiga peserta lainnya. Lantaran ada yang mundur satu, jadi tendernya baru bisa dimulai pada pertengahan bulan tahun ini”, ungkapnya.

Proyek pembangkit listrik yang berada di Kendari, Sulawesi Tenggara ini memiliki kapasitas sebesar 2x50 mega watt (MW) dan diperkirakan nilai investasi proyek ini mencapai US$100 juta. “Namun, kalau melihat kapasitas pembangkit listrik ini, mungkin nilai investasinya akan diatas US$100 juta”, katanya.

Pada tahun ini perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan pada 2014 sebesar 30% atau sekitar US$780 juta, dari estimasi pendapatan sepanjang tahun 2013 yang sebesar sebesar US$600 juta. Karenanya perseroan berharap harga batubara di tahun ini dapat meningkat. Dia menyebutkan, kontribusi pendapatan tahun depan masih akan didominasi oleh batubara sekitar 70%, kemudian sisanya dari anak usaha perseroan.

Untuk peningkatan pertumbuhan ini, perseroan telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$270 juta. Angka tersebut naik sebanyak 170% dari capex yang dianggarkan unutk tahun 2013 sebesar US$100 juta.

Dana ini memang disiapkan untuk pembangunan pembangkit listrik dengan biaya sekitar US$200 juta. Komposisi dananya, berasal dari kas internal dan sebagian besar dari pinjaman perbankan yang berasal dari China Development Bank Corporation sebesar US$318 juta, yang diperolehnya dari anak usaha perseroan yakni PT DSSP Power Sumsel sejak 2012 lalu.“Sementara sisa dana capex sebesar US$70 juta tersebut, nantinya akan digunakan perseroan untuk pengembangan usaha lainnya dan suntikan dana kepada anak usaha yang bergerak dibidang tv berbayar”, jelasnya. (nurul)