Surplus Perdagangan, IHSG Berpeluang Menguat

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup ditutup amblas 32,498 poin (0,74%) ke level 4.386,259. Sementara Indeks LQ45 ditutup anjlok 7,597 poin (1,02%) ke level 734,158. Aksi jual yang terjadi sejak awal perdagangan, akhirinya melumpuhkan pergerakan IHSG hingga ke zona merah.

Kata analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono, terkoreksinya IHSG di dorong sentiment negatif bursa regional dan tingginya data inflasi Januari yang dirilis BPS 1,7% tidak sesuai ekpektasi pelaku pasar,”IHSG ditutup melemah didorong oleh sentimen negatif dari bursa regional. Sentimen regional itu menutup katalis positif dari data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia, " kata dia di Jakarta, Senin (3/2).

Sementara neraca perdagangan tercatat surplus US$ 1,52 miliar atau jauh lebih baik dari konsensus US$ 729 juta. Oleh karena itu, indeks BEI Selasa diproyeksikan akan bergerak 'mixed' dengan kecenderungan menguat di kisaran 4.370-4.424 poin.

Sementara itu, analis PT Sinarmas Sekuritas, Christandi Rheza Mihardja memperkirakan, indeks BEI Selasa akan bergerak berfluktuasi di level 4.372-4.424 poin,”Dirilisnya data inflasi dan neraca perdagangan yang lebih baik dari estimasi diperkirakan mempengaruhi keputusan Bank Indonesia terhadap acuan suku bunga (BI rate) dan memberikan sentimen yang cukup signifikan terhadap pergerakan pasar,”ungkap dia.

Dia mengemukakan beberapa saham-saham yang dapat diperhatikan pada perdagangan Selasa (4/2) yakni Matahari Putra Prima (MPPA), Wijaya Karya (WIKA), Mitra Adiperkasa (MAPI), Bank Mandiri (BMRI). Tercatat pada perdagangan kemarin, tujuh sektor melemah, hanya tiga sektor yang menguat berkat aksi beli. Aksi jual ini terjadi di saham-saham unggulan dan lapis dua. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 180.047 kali pada volume 3,825 miliar lembar saham senilai Rp 3,823 triliun. Sebanyak 122 saham naik, sisanya 150 saham turun, dan 87 saham stagnan.

Beberapa pasar saham masih libur dalam rangka Hari Imlek, seperti bursa Hong Kong dan Taiwan. Sedangkan bursa Asia menutup perdagangan dengan kompak melemah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indomobil (IMAS) naik Rp 305 ke Rp 5.200, Matahari (LPPF) naik Rp 225 ke Rp 11.850, Selamat Sempurna (SMSM) naik Rp 200 ke Rp 3.300, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 175 ke Rp 21.650.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 950 ke Rp 21.450, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 550 ke Rp 66.500, Tembaga Mulia (TBMS) turun Rp 500 ke Rp 7.000, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 450 ke Rp 26.350.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup melemah 32,498 poin (0,74%) ke level 4.386,259. Sementara Indeks LQ45 ditutup anjlok 7,597 poin (1,02%) ke level 734,158. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 180.047 kali pada volume 3,825 miliar lembar saham senilai Rp 3,823 triliun. Sebanyak 122 saham naik, sisanya 150 saham turun, dan 87 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indomobil (IMAS) naik Rp 305 ke Rp 5.200, Matahari (LPPF) naik Rp 225 ke Rp 11.850, Selamat Sempurna (SMSM) naik Rp 200 ke Rp 3.300, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 175 ke Rp 21.650. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 950 ke Rp 21.450, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 550 ke Rp 66.500, Tembaga Mulia (TBMS) turun Rp 500 ke Rp 7.000, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 450 ke Rp 26.350.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 11,75 poin atau 0,27 persen ke posisi 4.407,01 dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 3,05 poin (0,41%) ke level 738,71 mengikuti bursa regional akibat pengurangan stimulus keuangan bank sentral AS (Fed).

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, pergerakan indeks BEI cenderung melemah mengikuti bursa regional disebabkan oleh pengurangan stimulus keuangan AS dalam bentuk 'quantitative easing' (QE),”Laju bursa saham Asia terpengaruh pelemahan bursa saham AS dan Eropa setelah rilis hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada pekan lalu yang memulai 'tapering off' menjadi US$ 65 miliar per bulan," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar modal domestik juga sedang mengantisipasi rilis data-data makro ekonomi dalam negeri yang akan dipublikasikan Badan Pusat Statistik pada awal pekan ini. Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah menambahkan di tengah fase awal penarikan stimulus AS, maka prospek produk investasi negara berkembang cenderung kurang menarik,”Setidaknya asumsi itulah yang dipakai oleh mayoritas investor global," katanya.

Menurut dia, kunci terpentig yang dapat memberikan ketenangan bagi pelaku pasar, stabilitas nilai tukar rupiah yang harus terjaga. Hal itu akan memberikan dukungan positif bagi tren IHSG BEI melaju ke area positif pada pekan ini. Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 106,19 poin (0,48%) ke level 22.141,61, indeks Nikkei turun 213,01 poin (1,43%) ke level 14.701,19 dan Straits Times melemah 29,74 poin (0,98%) ke posisi 2.997,66. (bani)

BERITA TERKAIT

Pasar Properti Penuh Tantangan - BTN Optimis Masih Ada Peluang Tumbuh 2020

NERACA Jakarta – Tahun depan, industri properti masih menemui tantangan seiring dengan ancaman perlambatan ekonomi nasional dan resesi ekonomi di…

PPRE Targetkan Kontrak Baru Tumbuh 20%

NERACA Jakarta –Tahun depan, PT PP Presisi Tbk (PPRE) memproyeksikan raihan proyek baru akan tumbuh 20% dibanding tahun ini. Tercatt…

Berikan Layanan Nasabah Korporasi - Maybank Sediakan Cash Collection Solution

NERACA Jakarta – Guna meningkatkan layanan kepada nasabah korporasi, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) memberikan cash collection solution,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transjakarta Bagikan Dividen Rp 40 Miliar

NERACA Jakarta- Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memutuskan untuk membagikan dividen perusahaan kepada…

Raup Ceruk Pasar Luar Negeri - WIKA Targetkan Kontrak Baru Capai Rp 6 Triliun

NERACA Jakarta – Sukses meraih kontrak baru di Afrika menjadi batu loncatan bagi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) untuk…

Transformasi Pasar Modal Kredibel - OJK Terus Perkuat Supervisi Pengawasan

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar keuntungan reksadana yang menimpa Minna Padi Aset Manajemen dan Narada Aset Manajemen menjadi alasan…