Kinerja Ekspor 2013 Lampaui Target

NERACA

Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan ekspor 2013 mencapai US$179 miliar, sementara realisasi ekspor tahun 2013 telah mencapai US$182,6 miliar. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menilai pencapaian ini perlu diapresiasi. Pasalnya pada 2013, keadaan ekonomi global sedang tidak menentu sehingga membuat ekspor jadi tertahan. “Hal ini cukup positif, karena di 2013 tidak mudah dalam menggenjot ekspor lantaran pasar belum sepenuhnya pulih,” ungkap Bayu di kantornya, Senin (3/2).

Dengan capaian tersebut, Bayu merasa optimis kinerja ekspor di 2014 akan jauh lebih baik dari pada 2013. “Untuk 2014, kita bisa optimistis mengingat beberapa negara maju mulai bangkit dari keterpurukan pasca krisis yang telah melanda. Pertumbuhan ekonomi dunia yang mulai positif akan memberikan kesempatan untuk meningkatkan ekspor Indonesia, terutama pasar-pasar yang menjadi andalan,” ucapnya.

Kinerja ekspor Indonesia memang masih fluktuatif. Pada 2012, ekspor Indonesia mencapai US$190 miliar. Sementara pada 2013 telah berhasil melampaui target yang dipatok sebesar US$179 miliar. Kemendag mengaku, penurunan target ekspor tersebut lantaran kondisi ekonomi global yang kurang baik sehingga mempengaruhi permintaan dari Indonesia. Pada 2014, Kemendag pun kembali memasang target ekspor sebesar US$190 miliar.

Meski kinerja ekspor cemerlang, akan tetapi neraca perdagangan Indonesia masih defisit. Secara kumulatif, neraca perdagangan 2013 defisit sebesar US$4,1 miliar. Terdiri dari surplus non mias sebesar US$8,6 miliar sementara neraca migas defisit sebsar US$12,6 miliar. Surplus nonmigas di tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 118,2% dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai US$3,9 miliar,” jelasnya.

Dijelaskan Bayu, ekspor bulan Desember 2013 mencapai US$16,9 miliar. Kinerja ekspor tersebut mengalami penguatan dibanding tahun lalu. Penguatan ekspor ini mulai terlihat sejak pertengahan tahun. Pertumbuhan ekspor bulan Desember 2013 mencapai 10,3%. “Pertumbuhan ekspor sejak awal semester II tahun 2013 bergerak ke arah positif,” ungkap Wamendag.

Nilai ekspor nonmigas ke beberapa negara yang selama 2013 mengalami kenaikan signifikan antara lain Turki dengan kenaikan mencapai US$172,8 juta. Kemudian disusul urutan berikutnya yaitu Myanmar, Nigeria, Vietnam, Ukraina, dan Mesir yang mengalami kenaikan antara US$88 juta sampai US$154,8 juta.

Demikian pula dengan ekspor nonmigas ke beberapa negara mitra dagang utama yang juga mengalami kenaikan signifikan, yaitu India sebesar US$563,4 juta, Amerika Serikat (US$491 juta), dan China (US$418,1 juta). Produk ekspor yang mendorong peningkatan ekspor bulan Desember 2013 antara lain bijih, kerak, dan abu logam (naik 40,2%), serta timah (155,1%).

Sementara itu, beberapa produk manufaktur memberikan kontribusi peningkatan ekspor yang signifikan sampai Desember 2013, antara lain pakaian jadi bukan rajutan meningkat US$81,4 juta (naik 29,9% MoM) serta kendaran dan bagiannya meningkat US$49 juta (naik 13,4% MoM).

Cara Andalan

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Nus Nuzulia Ishak sempat menjelaskan cara pemerintah untuk mencapai target ekspor di 2014. Menurut dia, pemerintah masih terfokus pada 10 negara yaitu terdiri dari 5 negara tradisional dan 5 negara non tradisional. Negara tradisional diantaranya Amerika Serikat, Jepang, Korea, India dan China. Sementara negara non tradisional diantaranya Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin dan Eropa Timur.

Dari sisi produk, lanjut Nus, Kemendag masih mengandalkan 10 produk utama. Diantaranya adalah produk tekstil, elekteronik, produk karet, alas kaki, udang, kakao, kopi, makanan minuman, produk kerajinan, dan perhiasan. Pihaknya beralasan bahwa produk-produk tersebut adalah produk yang share nya cukup besar. “10 komoditas utama tersebut, share nya mencapai 47% terhadap total ekspor non migas. Misalnya untuk tekstil, itu pertumbuhannya mencapai 8%,” ucapnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga akan melaksanakan 179 kegiatan promosi secara intensif dan terkoordinasi, baik di dalam dan luar negeri. Dari kegiatan promosi dimaksud, sebanyak 55% kegiatan akan dilaksanakan di wilayah pasar nontradisional, sedangkan 41% lainnya di wilayah pasar tradisional, dan sisanya dilaksanakan di dalam negeri.

“Sejalan dengan tujuan kami yaitu untuk meningkatkan ekspor nonmigas Indonesia. Kami telah menetapkan 179 program kegiatan promosi bersinergi dengan perwakilan Indonesia di luar negeri. Kegiatan tersebut mengambil format partisipasi pada pameran internasional, pelaksanaan misi dagang, dan in-store promotion. Disamping itu, Ditjen PEN juga kembali akan menyelenggarakan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-29 pada 8–12 Oktober 2014 dan mendukung kegiatan promosi di dalam negeri,” ujar Nus.

Related posts